Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Lahir


__ADS_3

01:00 Wib.


Langkah kaki mereka beriringan mengantar Gita untuk memasuki Kamar Operasi. Terdengar roda tempat tidur bergulir cepat menimbulkan suara bising di dalam lorong Rumah Sakit. Wajah Galih begitu tegang, keringatnya mengucur deras, terdengar beberapa kali suara kerongkongan yang seperti menelan sesuatu karna gugup.


"Sabar ya Mas," Nadifa mengenggam tangan Galih lalu menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Mereka duduk saling merangkul dibangku depan Kamar Operasi.


Galih membalas genggaman tangan itu dengan erat, seperti kebanyakan para suami, pasti akan tegang ketika menunggui Istri yang sedang melahirkan.


"Masuk saja kedalam Mas, temani Mba Gita!" Nadifa meminta Galih. Sontak Galih terkekeh dengan apa yang barusan ia dengar, menatap kembali mata sang istri, seperti kembali menanyakan apakah boleh.


Nadifa pun mengangguk,"Ayo Mas, kedalam lah sekarang. Aku rasa Mba Gita masih bersiap-siap," Nadifa mengelus-elus punggung suaminya, memberikan kekuatan kepada sang suami.


Galih pun mencium pucuk rambut Nadifa dan menciumi kedua tangan istri pertama nya itu."Terimakasi ya sayang, baiklah aku masuk,"


Galih pun melepas pelukan itu, lalu berlalu masuk kedalam ruang operasi, meminta ijin kepada perawat untuk memperbolehkan ia masuk melihati proses jalannya lahir anak mereka.

__ADS_1


Nadifa terus menunggu didepan pintu Kamar Operasi. 15 menit kemudian Lampu sirine yang tertancap diatas pintu pun memberikan warna merah yang menandakan Operasi sedang dimulai.


Nadifa semakin panik. Dia duduk, bangkit berdiri lalu jalan mondar-mandir diarea ini. Ia terus berkumat-kamit melapazkan dzikir dimulutnya.


Entah mengapa, walau rasa takut melanda ia seperti merasa akan bahagia luar biasa, melihat seorang anak yang telah di impikan lama untuk menemani rumah tangga mereka, walau anak itu bukan lah anak kandungnya.


Putra Gifali Hadnan, dia akan menjadi anak yang teramat bahagia karna mempunya dua Ibu dan satu Ayah.


Walaupun kehadirannya mungkin akan menambah suasana bahagia atau mungkin akan menambah suatu masalah, boleh jadi !


"Semoga Ibu dan Bayinya selamat Ya Allah," Nadifa terus merintih dan memohon sendirian.


Obat Anestesi yang sudah menjalar lama-kelamaan menimbulkan reaksi. Gita pun menjadi tertidur dalam damainya. Galih tetap menemani dengan setia. Sayatan demi sayatan dilakukan di bagian perut dan rahim oleh Dokter kandungan, dengan menggunakan beberapa alat-alat yang canggih serta dibantu oleh para perawat yang ahli untuk melancarkan jalannya operasi.


Tidak memakan waktu lama, hanya sekitar 5-10 menit terdengarlah suara bayi terangkat dari dalam dan menangis kencang dengan hebatnya. Bayi tersebut langsung diserahkan kepada perawat penerima bayi baru lahir untuk dibersihkan, disedot lendir, tes apgar dan mengukur berat dan panjang si bayi.

__ADS_1


Ketika mengetahui bayinya telah lahir, Galih pun mencium dahi Gita sebagai tanda terima kasihnya telah mengandung dan melahirkan buah hati mereka. Gita masih terpejam, belum dapat membuka matanya dengan baik. Tersembul rasa bersalah karna selama Gita mengandung ia tidak bisa memberikan kasih dan sayang secara utuh.


Namun suasana seperti tegang kembali, ketika semua tenaga medis tercekat melihat keadaan respon tubuh Gita. Mereka pun kembali melakukan hal yang mereka ketahui sesuai standar operasional prosedur yang berlaku. Untuk menstabilkan reaksi dari tubuh Gita.


Diluar Nadifa tetap tidak tenang, sudah satu jam ia menunggu Gita, Galih dan Bayi mereka.


10 menit kemudian


Klekkkk....


Galih muncul membuka pintu, Nadifa yang melihat Galih sudah datang langsung menghampirinya dengan bahagia, seperti menunggui bisul yang memerah lalu pecah dengan baik."Gimana Mas, Mba Gita dan Bayi kamu?"


Tanpa menjawab, Galih langsung memeluk erat Nadifa tanpa banyak bicara. Ia terus mendekap Nadifa tanpa mau lepas. Meletakan kepala nya dibahu Nadifa untuk melepas penat, takut dan gelisah.


"Mas?!"...

__ADS_1


****


Jangan lupa LIKE dan KOMEN ya guyss ❤️❤️🖤


__ADS_2