
Tengah malam nih aku balik lagi🤣😁
Keep reading guyss
🖤❤️
***
Sudah malam, tapi Galih masih membeku untuk mengatakan perihal kepergiannya ke luar kota kepada sang istri.
Nadifa masih menatapi layar HP nya sambil berbaring di ranjang. Terlihat Galih masih menimang-nimang Gifali dan mengajaknya untuk mengobrol. Anak itu belum mau tidur, seketika Galih mengambil alih untuk menidurinya karna ada suatu misi didalam nya.
"Duh ganteng banget nih anak Papah.." Galih menciumi anak itu tanpa henti.
Sesekali matanya melirik ke arah Nadifa yang asik menonton video di youtube, istrinya terlihat tertawa, diam lalu tertawa lagi. Entah apa yang ia lihat disana.
Galih rindu sekali untuk memeluk tubuh sang istri. Hatinya sakit bukan main, di acuhkan oleh istri sendiri.
Dirayu sudah, di jelasin sudah tetap saja Nadifa keras membatu.
"Nanti jangan kangen sama Papah ya Nak." ucap Galih setengah melirik ingin melihat reaksi wajah Nadifa saat ini.
Dan betul.
Nadifa yang sedari tadi asik dengan kesibukanya sendiri, mengerutkan kening nya lalu terdiam untuk fokus mendengarkan ucapan Galih.
Dirasa pancingan ini berhasil, Galih berucap lagi. "Papa nggak lama kok ninggalin Gifali, cuman tiga hari ya sayang..uhh anak papah!"
__ADS_1
Galih melirik lagi ke arah istrinya, dimana Nadifa telah merubah posisinya untuk miring menjauh membelakangi tubuh suaminya agar bisa fokus mendengarkan ucapan lelaki itu. Ia masih gengsi untuk bertanya.
"Bahkan kamu masih acuh, disaat kamu dengar aku mau pergi tiga hari!" batin Galih menggema. Ia begitu sedih.
"..Bahkan kamu nggak ada minta ijin dulu sama aku kalau mau pergi? malah ngomong nya sama bayi!" Nadifa menggerutu sedih dan kesal. "Mungkin emang iya, kamu udah nggak nganggep aku lagi disini!"
Nadifa memejamkan matanya sambil memeluk HP nya yang sudah ia matikan barusan.
Galih terus menatapi tubuh istrinya yang masih memunggungi nya. Ia faham betul Nadifa tau maksud dirinya karna istrinya cerdas dalam menyimpulkan sesuatu.
"..Padahal selama pernikahan aku nggak pernah ninggalin kamu sekalipun apa lagi sampai ke luar kota, tapi sekarang kamu diam aja nggak perduli!" Galih bergeming sendiri.
10 menit terlewati, kedua mata Nadifa sudah dipejam kan. Lelaki ini tahu sang istri hanya berpura-pura sudah tidur.
Lalu ia menaruh Gifali ke dalam box yang sudah terlihat setengah mengantuk.
"Aku udah muak lihat sikap kamu yang kaya gini terus sama aku!" bentak Galih. Hati lelaki ini kembali memanas.
"Kamu denger nggak sih?" Galih memutar langkahnya untuk menaiki ranjang agar mata mereka bisa saling bertatap.
"Kamu ngmong apa?" jawab Nadifa ketus.
"Aku capek liat sikap kamu kaya gini!" ucap Galih duduk menyandar ditapalan ranjang.
"Sama..!" jawab Nadifa lugas. Lalu ia merubah posisi tubuhnya menjadi terlentang menatapi bola lampu kamar yang masih menyalah diatas kepala mereka.
"Kamu---!" Galih menoleh geram.
__ADS_1
"Kenapa?" Nadifa menantang tanpa menoleh.
"Aku muak sama sikap kamu yang kaya gini terus sama aku, diemin aku! udah satu minggu Difa!" suara Galih sedikit melengking.
"Terus kamu mau apa?" Nadifa menoleh, mereka saling bertatap dalam amarah.
Galih seketika mencoba untuk mengalah dan meredam, ia takut ucapan nya tidak akan terkontrol. Ia tahu saat ini Nadifa masih marah dan ia tengah hamil.
Mengambil nafas pelan untuk menekan rasa sesak didadanya. "Aku akan ke Surabaya selama tiga hari, ada beberapa proyek kantor cabang yang lagi butuh untuk diaudit, dan aku masih bingung buat---"
"Oh Ya udah, aku siapin dulu baju-baju kamu ke koper," Nadifa memotong cepat, ia tidak menanggapi ucapan itu untuk dikomplen atau disetujui. Galih tercengang melihati sikap Nadifa yang tidak begitu perduli dengannya.
Sang istri lalu bangkit dari ranjang, untuk mengambil koper dan mengisinya dengan beberapa baju serta perlengkapan lainnya yang akan dibutuhkan oleh Galih selama di disana.
Nadifa duduk dilantai menghadap ke lemari membelakangi tatapan suami, yang masih melihatinya dari belakang.
Nadifa diam dengan tangis terisak. Sangat pelan sampai Galih tidak bisa mendengarnya.
"Lalu gimana aku, besok-besok tanpa ada kamu Mas? hanya berdua sama Gifali dirumah dan kenapa kamu baru ngasih tau sekarang? kenapa nggak dari tadi sore sesaat kamu pulang dari kantor? mungkin emang iya aku udah nggak ada harga nya dimata kamu!" Nadifa terus mengaliri air matanya turun ke pipi lalu merambah ke leher.
"Keterlaluan kamu! bahkan disaat aku mau pergi kamu nggak ada ngmong apa-apa!"
Melihat sikap Nadifa yang biasa saja. Galih pun gusar, lalu ia mengambil selimut dengan kasar untuk menutupi tubuhnya.
Beberapa lama kemudian Nadifa menoleh melihati wajah Galih yang sudah terlelap pulas. Ia merasa lelaki ini memang sudah tidak mencintainya.
Begitulah mereka tergulung-gulung dalam kesalah fahaman yang berhari-hari membunuh ruang dan jarak mereka.
__ADS_1
***
Kaya biasa yaa..nggak lupa dongg untuk selalu Like, Vote, Rate dan Komen..thank you❤️🖤