
Hayy aku datang kembali. Maafkan aku baru update🖤🖤 ada dua part untuk hari ini. Part selanjutnya, Part End ya.
yuk guyss selamat baca
🤗🤗
***
Kedua mata Nadifa dan Malik terbelalak melihat kedatangan sosok Fajar yang diikuti dengan langkah Galih dibelakangnya. Seketika Malik turun dari tepi ranjang.
"Mas?"
"Kamu baik-baik aja, Dif?" tanya Fajar lalu mendekati wanita hamil ini yang masih duduk berselonjor.
Nadifa merasa bingung mengapa suaminya dan Fajar bisa masuk bersamaan. Wajah Galih begitu teduh tidak tampak rasa kesal seperti sebelumnya.
Jangankan melangkah bersama, bertatap muka dengan Fajar saja membuat Galih seketika ingin muntah.
Entah mengapa saat ini, mereka berubah!
"Mas Galih?" Nadifa memanggil suaminya.
"Iya sayang..." Galih berjalan menghampiri dirinya sambil memberi anggukan kepala. "Fajar mau lihat keadaan kamu katanya--"
Mendengar ucapan Galih yang begitu ringan menerpa, membuat Nadifa dan Malik makin membulatkan kedua matanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas nama istriku, Dif! Kejadian huru-hara tadi yang membawa kamu menjadi seperti ini." Ucap Fajar keluh, kedua mata nya berkaca-kaca melihat keadaan Nadifa dan tentu dengan cinta yang masih bertahta di dalam hati nya.
Namun setelah kejadian yang menimpa dengan Alea. Ia sangat tersadar bahwa rasa yang dia miliki untuk Nadifa tidak akan berujung apa-apa.
"Nggak apa-apa, Mas. Memang sudah jalannya aku melahirkan sekarang. Aku doakan semoga Alea juga---"
"Alea baru saja menjalankan tindakan kuretase. Bayi yang dikandung ternyata tidak berkembang, maka dari itu dia lepas kendali tadi!"
"Ya Allah!!" seru Nadifa memegangi dadanya.
__ADS_1
Galih hanya mengelus-elus pundak istrinya.
"Mas, sebagaimana pun istrimu. Cintailah dia! Sayangilah dia! Terimalah Alea di sisi dan hidupmu! Dia yang sudah berjuang memberikan nyawanya untuk anak kalian! Maafkan Difa ya Mas atas segala salah ku yang mungkin tidak sengaja menyakiti hati Alea!"
Lebih tepatnya Alea membenci rasa cinta yang masih ada di dalam benak Fajar.
"Iya Dif, mulai saat ini. Aku akan mencoba! Semoga kamu lancar dalam persalinan nanti. Kamu dan Bayi selamat!" Fajar membawa raut wajah semua orang menjadi senyum bahagia.
"Ya udah kalau gitu. Aku pamit dulu. Lih, gue tunggu kabar Difa, kabarin kalo udah lahiran--"
"Pasti bro!"
Fajar pun memutar tubuhnya untuk berlalu dan ia pun berpapasan dengan Malik yang masih berdiri tegap melihatinya. "Saya juga minta maaf kepada bapak, jika sikap saya ada kurang berkenan!"
Malik memberi senyuman hangat dengan tangan terbuka. "Iya Jar. Saya juga sama. Tata lah hidup kamu dengan lembaran baru! Jalan hidup kamu masih panjang!"
Fajar mengangguk pelan. "Makasi banyak Pak!"
Ia pun kembali menoleh ke belakang, kedua mata nya masih melihati Nadifa lalu bergantian ke arah Galih. Melambaikan tangan untuk pamit.
Lalu ia pun berlalu.
"Makasi ya Pak, saya sangat berhutang budi kepada kamu!" balas Galih.
"Balas lah untuk selalu menjaga dan menerima Difa sampai kapanpun! Terima segala kekurangan dan kelebihannya. Itu saja permintaan saya yang harus kamu balas!"
Wajah Nadifa terus merona. Hatinya senang. Karena saat ini Galih bisa berdamai dengan Malik dan Fajar. Tidak ada lagi dendam bertahta di benak suaminya.
"Pasti, tenang aja! Saya akan menjaga nyawa saya sebaik mungkin." Galih mendekap Nadifa dalam perasaan bahagianya.
"Makasi ya Pak, titip Gifa..." cicit Nadifa pelan.
Malik mengangguk dan berlalu dari mereka.
"Mas?"
__ADS_1
"Iya sayang--"
"Bagaimana bisa kamu dan Fajar tadi seperti itu?"
"Aku ceritanya sambil suapi kamu ya!"
Galih membuka bungkusan nasi yang ia beli sesuai pesanan istrinya.
"Hemm...wanginya! Aku jadi lapar banget nih--"
Galih tersenyum pelan, sambil mengaduk-ngaduk nasi itu dengan tangannya. Lalu mulai menyodorkan sekumpulan nasi di ujung sekumpulan jarinya ke mulut sang istri.
"Jadi tadi ketika aku mau pergi keluar tadi, nggak sengaja aku melihat Mba Dania sedang marah besar dengan Fajar!"
"Awalnya aku ingin cuek. Tapi lama kelamaan aku nggak tega. Bagaimanapun Fajar juga teman sekolah ku dulu. Saat ini dia sedang terpuruk. Aku kasian sama dia, belum bisa mencintai istrinya dan anak nya pun tidak bisa terselematkan. Ya, aku mendatanginya. Membuka kembali bendera putih untuk menghilangkan perselisihan!"
"Aku ingin jalan persalinan kamu mudah sayang. Aku ingin banyak doa yang tercurah untuk kamu, istriku--"
"Enggak tahu kenapa, melihat kamu kayak gini. Semangat aku jadi pulih Mas. Hati ku gegap gempita! Aku ngerasa jadi nggak takut sama sekali. Aku yakin, aku sama bayi kita pasti selamat!"
"Aamiin sayang---"
"Sungguh besar jiwamu, Mas!"
"Demi kamu, sayang--"
"Ayo, makan lagi. Kamu harus menghabiskan makanan ini sebelum kembali berjuang." sambung Galih.
***
Galih masih menatapi tiang infus yang saat ini sedang menemani sang istri. Nadifa masih tertidur. Satu jam lagi Nadifa akan dimasukan ke dalam ruang operasi. Galih kembali membuka luka lama untuk masuk kesana.
Melihat semangat Nadifa, membuat kecemasannya sedikit berkurang. Bagaimanapun ia harus bisa bersikap tenang dan dewasa.
"Aku tidak boleh takut! Ada Allah bersama kita!"
__ADS_1
Galih mengelus pipi istrinya serta beberapa kali mencium keningnya.
"Berjuanglah sayang, kamu pasti kuat!"