Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Mulai posesif


__ADS_3

"Siapa barusan yang mengantar kamu?" tanya Galih dengan wajah serius masih berbaring di sofa ruang tamu.


"Benar saja kan..aduhh," Nadifa mengumpat dihatinya.


Sambil menuangi air minum ke dalam gelas besar untuk Galih dan berjalan menuju sofa," Pak Malik, sayang"


Nadifa memberikan gelas tersebut kepada Galih dan duduk disampingnya.


"Hanya berduaan didalam mobil?"


"Oh tentu tidak sayang, tadi itu ada 4 orang Aku, Mba Dania, Mba Sinta dan Utami, kita nebeng semua di mobilnya Pak Malik." Nadifa berbohong terus menelan ludah yang telah sampai dikerongkongan.


"Ohhh," Galih mulai percaya.


Nadifa aman, mulai menurunkan ritme nafasnya kembali teratur.


"Tapi ingat jangan terlalu sering, apalagi jika hanya berdua, aku tidak mengizinkan itu!" Galih mulai memberi ultimatum.


"Dikantor juga jangan terlalu banyak berbincang dengan teman lawan jenis kecuali jika hanya masalah pekerjaan," Galih kembali menasehati.


Nadifa pun seketika sedih, hatinya mulai menciut dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi di belakang Galih.

__ADS_1


"Atau mulai besok aku jemput saja setiap hari?" tanya Galih.


Nadifa teperanjat kaget, dia merasa tidak akan ada lagi ruang bersama dengan Malik jika setiap hari dijemput oleh suaminya.


"Tidak usah sayang, gapapa aku nanti pakai gojeg lagi saja, tidak akan menebeng-nebeng lagi dengan teman sekerja," Nadifa meyakinkan Galih untuk mau menerima keputusannya itu.


"Hemmmm," Galih mengangguk tanda setuju dan terus merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata.


"Sini aku pijiti, kamu kecapean nih kayaknya." Nadifa memijiti tubuh Galih mulai dari bagian tangan dan kaki.


Galih hanya mengangguk dan terus memejamkan matanya, lalu dilepaskan dasi yang masih berpeluk erat dileher Galih oleh tangan cantiknya itu.


Galih menggeleng, ia tetap tidak mau membuka matanya dan malah menggenggam tangan Nadifa.


"Berjanjilah, apa pun yang akan terjadi dengan kita, rumah tangga ini akan tetap berjalan utuh," Galih membuka matanya dan menoleh melihat wajah istrinya yang masih diliputi rasa bingung.


"Memangnya ada apa sayang?" Nadifa makin penasaran dengan ketidakjelasan asal-usul ucapan itu.


"Berjanjilah saja," Galih kembali memejamkan matanya.


"Ia sayang, janji !" balas Nadifa, ia semakin merasa bahwa Galih memang Aneh.

__ADS_1


"Enggak biasanya dia seperti ini, hampir 3 hari hanya murung seperti orang sedang mendapatkan masalah berat. Apa aku tanya saja dengan Mba Gita, ia pasti tau masalah dikantor,"


"Tapi...jangan lah, Galih pasti marah karena aku terlalu masuk mencampuri urusannya,"


Nadifa tetap diam terus kembali memijiti Galih yang masih setia bersandar dalam pejaman matanya, kini ia sudah tertidur.


Nadifa membiarkan saja posisi suaminya yang sudah kelewat ngantuk itu, ia pun mulai berjalan pelan ke dapur untuk mulai memasak.


1 jam kemudian, wangi harum masakan itu membuat gaduh penciuman Galih. Ia membuka matanya sejurus melihati beberapa makanan yang sudah tersedia di meja makan. Dengan iringan suara perut yang bergemuruh memanggil untuk di isi.


Galih duduk di meja makan sambil melihati bagian tubuh belakang istrinya yang masih berdiri didepan kompor, ia termenung diam menahan sesakan dada yang riaknya semakin berat.


"Oh sudah bangun kamu mas," Ucap Nadifa ketika berjalan memutar arah menuju meja makan sambil membawa Ayam opor yang baru matang.


Galih hanya menangguk dan selebihnya diam kembali.


"Kalau ada masalah, libatkan aku untuk menjadi telinga kedua, aku siap mendengarkan. Walau tidak memberi solusi banyak setidaknya beban didada mu bisa berkurang," Nadifa memberanikan diri untuk mengucapkan kata-kata itu.


Galih yang merasa istrinya mengetahui akan perubahan sikap nya langung mencairkan suasana dengan memberikan senyuman hangat.


"Aku tidak apa-apa, ayo ambilkan aku nasi. Aku sangat lapar sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2