
"Mas," Nadifa menggoyang-goyangkan tubuh Galih yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Bangun, Mas. Kenapa tidur disini?" Nadifa kaget melihati suaminya yang sedang tertidur berbalut selimut memeluk guling di sofa ruang tamu.
"Apakah semalam Mas Galih, tidak tidur dikamar bersama Mba Gita," ujar Nadifa dalam hati nya.
Nadifa mengambil remote dan mematikan TV yang sejak semalam menontoni Galih yang tertidur.
"Kembali lah ke kamarmu, Mas!"
Nadifa membelai-belai lagi wajah suaminya. lalu tangan Nadifa digenggam dan diletakan didadanya itu.
"Kamu janji ya, mau nerima aku yang kaya gini. Jangan sampai mempunyai niat untuk ninggalin aku!" Galih berdesis parau karena masih sedikit mengantuk.
Nadifa terdiam sebentar, mengarahkan kedua matanya menatap langit ruang tamu. Ia tidak bisa berjanji untuk ini, ia belum tau arahnya akan seperti apa.
Lalu Galih menarik bahu Nadifa untuk bersandar didadanya, membelai-belai rambut cokelat yang lurus dan menciumi pucuk anak rambut Nadifa. Galih dan Nadifa saling menatap, mencium dan saling memeluk.
Semua hal romantis itu tertangkap di pandangan Gita saat ini, Gita masih berdiri diatas anak tangga melihati aksi mereka, awalnya dia bermaksud untuk turun ke dapur mengambil air minum karena sangat haus.
Keseruan suami istri ini membuat Gita menciut dan menderita, ia kembali ke kamar dan menangis. Sungguh kegelisahan hati yang seperti ini, sangat tidak baik untuk janin yang sedang ia kandung.
******
"Dadaa.." Ucap Nadifa memberi lambaian tangan kepada Galih dan Gita yang sudah berada didalam mobil untuk berlalu menuju kantor.
__ADS_1
Lima menit kemudian Gojeg pun datang menjemput Nadifa untuk mengantarkannya ke kantor.
Galih tetap mengemudikan mobilnya dengan baik, pandangannya hanya lurus ke jalan depan tanpa memperhatikan ada orang lain disampingnya kini.
"Kapan kamu ingin kembali ke rumahmu, Git. Aku berjanji akan mengunjungimu di hari Minggu bersama istriku, toh dikantor pun kita akan selalu bertemu kan!"
Gita mengerutkan dahinya masih bingung mau menjawab apa.
"Aku sudah menyakiti hati Nadifa, aku ingin membayarnya untuk menuruti apapun kemauannyaa saat ini, dengan tetap tinggal dirumah kalian," jawab Gita dengan mantap.
Galih menoleh tajam, ia sangat tidak suka !
"Aku tidak bisa hidup dengan dua istri dalam satu atap seperti ini, Git!"
"Cobalah, aku akan siap menunggu," Gita memelas dan memohon.
"Kamu tidak akan bisa menggantikan posisinya di hatiku, cara nya memperlakukanku, dan melayaniku diranjang!" Galih masih tetap mau menghempas Gita pergi dari kehidupannya bersama Nadifa.
"Baiklah, aku akan coba! bukannya semesta telah mempersatukan kita? itu berarti alam mengijinkan kita untuk bersama," balas Gita cuek menekan semua rasa kegondokan dihatinya.
Galih tidak mau menjawab hal yang dibencinya itu, baginya berbicara dengan Gita tidak akan pernah ada ujungnya.
Dia itu keras seperti batu !
****
__ADS_1
Duar...tiba-tiba pandangan mata Nadifa gelap seperti tertutup sesuatu. Ia merasa sepasang telapak tangan telah menutupi matanya.
"Aku kangen kamu!" ada suara yang membisiki telinganya dan mengecup pipinya, menaruh tangan dipinggang Nadifa dan menaruh wajah ditengkuk Nadifa.
Ia pun berbalik, menatap kedua mata pada wajah orang yang ia rindukan beberapa hari ini.
Malik dan Nadifa bertemu melepas rindu diruang kantor yang masih sepi dari penghuni nya.
"Kembalilah keruangan mu, nanti takut ada yang melihat kita!"
"Aku benci kata-kata itu!"
"Aku mau ajak kamu makan siang diluar, ada yang ingin aku bicarakan. Aku juga sudah membawakan mu makan siang,"
"Tentang apa ?" Malik penasaran, kembali dadanya cemas.
Nadifa mengerti akan hal itu, ia pun bisa meredamnya dengan baik.
"Karena aku rindu sama kamu," ucap Nadifa meledek dan mencubit hidung Malik.
Mungkin ini adalah waktu yang tepat....
Hayyy kaleannn....met baca ya guys....
ku tunggu koment dan like kalian yah...
__ADS_1
lapyuuuu guys🖤🖤🖤