
Mata Malik terbelalak setelah membaca pesan itu, ia menoleh cepat melihat Nadifa yang tengah melihati juga wajahnya.
Nadifa memalingkan wajah itu dengan cepat kesembarang arah.
Hatinya begitu peluh dan hanyut dalam kecemburuan yang sengaja dimainkan oleh Malik.
Entah apa yang ada fikiran lelaki 35 tahun ini, sesungguhnya ia belum tau bagaimana Nadifa dengan sikap tegasnya.
Acara Fam Gath masih berlangsung, mereka menyantap makanan siang dalam bentuk nasi kotak dan beberapa cemilan, diringi alunan organ tunggal untuk memeriahkan acara mereka, terlihat ada beberapa karyawan yang ikut berjoget dan bernyanyi.
Nadifa dan Galih kini sudah terbawa suasana, mereka senang menyaksikan kemeriahan itu sambil menyantap makan siang hanya berduaan saja ditemani keluarga Dania, lain hal dengan Malik yang masih dilanda ketakutan yang menyelimuti lirih dadanya, mengenai sesuatu yang sudah ia baca barusan.
"Teganya kamu terlalu cepat mengambil keputusan!" kata Malik dalam hatinya.
Nafsu makan nya seketika menurun tetapi ia pintar untuk menyembunyikan dengan baik didepan keluarga dan para teman-teman yang lain.
"Nadifa tidak mungkin berani, ia hanya menggertakku karna cemburu."
Malik tertawa pelan dalam hatinya, mencoba memberikan ketenangan sejenak untuk menekan stimulus kegelisahan yang amat sangat.
__ADS_1
Galih dengan manisnya memberikan potongan kulit ayam ke dalam kotak nasi Nadifa, ia sangat tau istrinya sangat menyukai itu.
"Aaaahhh makasi sayang," Ucap Nadifa senang lalu mengadukan jidad nya ke jidad Galih, karena kedua tangannya sudah penuh dengan sambal.
Dania yang melihati itu, hanya tersenyum senang melihati kebahagiaan diantara mereka berdua.
Nadifa ingin melupakan sementara tentang Malik, ia ingin fokus hari ini untuk menyenangkan hati suaminya.
"Ini, Mas!" Nadifa menyodorkan genggaman tangan yang berisi makanan ke dalam mulut Galih, ia menyuapi nya dengan sayang.
Malik geram, kesal dan benci lihat pemandangan itu.
Nadifa memang hanya reflex melakukan hal tersebut, hal biasa yang sering ia lakukan.
"Setelah ini aku hanya ingin tiduran disini, aku sudah lelah berjalan kaki," ucap Galih yang mulai letih.
Karena rundown acara jam pulang akan berakhir 2 jam lagi, maka Nadifa hanya menurut dan mengiyakan apa yang dimaui oleh Suaminya itu.
"Baiklah sayang, istirahat lah saja."
__ADS_1
10 menit kemudian terlihat sebagian sudah menghabiskan makan siang mereka, sembari tetap fokus mendengarkan siapa yang mendapat Doorprize, suara MC sangat mendukung kemeriahan acara ini dengan selentingan guyonan dan bercandaanya.
Bergilir karyawan yang dipanggil namanya untuk maju ke atas panggung mengambil hadiah Doorprize, diselingi suara sorak menyorak dan tepuk tangan oleh semua karyawan.
Galih yang telah menghabiskan makananya mulai menyenderkan kepala ke pundak Nadifa, sambil kembali memainkan Ipadnya, Galih tidak terlalu memperhatikan jalan acara Doorprize tersebut.
Tapi Malik ?!
Tentu masih melihati Nadifa yang tidak jauh berjarak dari nya.
Angin siang pun sepertinya mendukung mata-mata untuk dipejamkan, terlihat anak Dania yang kecil rewel untuk main lagi berbeda dengan suaminya yang juga mulai menggolerkan tubuhnya yang mulai enak untuk direbahkan.
Merasa tangan suaminya terhenti dari Ipad dan dilihatnya Galih setengah tertidur, Nadifa pun memberi isyarat untuk tidur di paha nya...ya...dipangkuannya.
Galih pun menurut dan menyenderkan kepalanya disana, sesekali Nadifa membelai-belai rambut nya sambil terus melihati beberapa karyawan yang tengah asik diatas panggung...
Sungguh adegan ini sangat menyiksa batin Malik dan ia ingin segera enyah dari sana untuk tidak terus merasa tertekan dengan suasana itu.
"Kita main lagi yuk," Ajak Malik kepada Istri dan Anak-anaknya untuk meninggalkan tenda dan menikmati kembali wahana bermain, mengikuti beberapa karyawan lain yang sama dengan nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Melihat mereka bangkit , Nadifa hanya bisa melihati dengan tatapan mata biasa tanpa memunculkan raut wajah yang bermakna.
Nadifa tetap merasa ia tidak membuat Malik cemburu.