
Selesai masak untuk sarapan didapur, Nadifa kembali naik ke kamar nya untuk mandi, dilihatnya Galih sedang memakai kemeja kerja berwarna abu-abu polos dengan dasi warna senada yang telah disiapkan oleh Nadifa sebelum ia turun ke dapur.
"Sarapan mu sudah dimeja ya, aku mandi dulu,"
Galih mengangguk, kini ia sedang mengoles rambutnya dengan minyak, ketika hendak ke kamar mandi langkah Nadifa terhenti ketika ada suara dering telepon masuk HP Galih di nakas tempat tidur.
Nadifa menghampiri dan mengambilnya," Sayang ini Mba Gita telpon"
"Hah? mana sini?" Galih mengambil HP nya dengan cepat dari tangan Nadifa.
"Cepatlah mandi, aku tunggu dibawah ya," Galih berlalu pergi meninggalkan kamar.
Nadifa masih belum begitu curiga, tetapi ia masih merasa aneh karena biasanya jika Gita menelpon, Galih akan meminta Nadifa yang menjawabnya.
"Mba Gita telpon pagi-pagi ada apa ya ? oh mungkin masalah kantor." ucap nya sambil meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Pembicaraan ditelepon.
Galih : ** Ada Apa ?** ( suara tidak suka )
Gita : ** Aku rindu kamu!" ( suara manja )
__ADS_1
Galih : ** Jangan sekali-kali lagi menelpon ku jika aku sedang dirumah kalau bukan karena urusan kantor***
tuttttt...... sambungan telepon dimatikan oleh Galih, ia langsung mematikan HP nya agar Gita tidak bisa menelpon.
Galih mulai menyeruput teh manis kedalam kerongkongannya, pagi-pagi sekali mood nya sudah dirusak oleh wanita sinting ini.
"Tidak akan aku biarkan, kamu merusak rumah tangga ku!" Galih mengepal kan tangannya yang ia tekan kan ke meja sehingga menimbulkan getaran pelan disana.
"Sayang, HP kamu mati ? ini Mba Gita telepon aku, dia mau menanyakan berkas katanya," Ucap Nadifa berbicara dari atas kamarnya melihat Galih ke bawah yang sudah duduk dimeja makan.
Galih pun menoleh cepat ke atas melihat istrinya yang sedang berbicara sembari menggosok-gosok kan rambutnya yang masih basah.
"SHITT....Gita mulai menggangguku!" batin Galih.
Nadifa pun berlalu masuk ke kamar lagi untuk berdandan dan berganti pakaian kantor.
10 menit yang sebentar bagi Nadifa untuk berdandan tetapi rasa seabad untuk Galih yang sudah menunggunya dimeja makan.
Nadifa menuangkan nasi goreng ke dalam piring Galih dan meletakan ayam goreng sebagai pelengkapnya, ia pun melakukan hal yang sama ke dalam piringnya.
"Makan siang nanti bersamaku ya, aku nanti ke kantor kamu!"
__ADS_1
Kalimat itu sontak membuat Nadifa berhenti sebentar untuk menelan nasi goreng yang sedang tertahan didalam mulutnya kini.
"Pulang pun sama, aku yang jemput,"
Kaget lagi hatinya, Nadifa tidak bisa menghindar untuk memberi alasan tidak bisa atau tidak mau. Ia merasa sudah diketahui oleh Galih soal hubungannya dengan Malik.
Padahal jelas sama sekali kenyataanya mereka belum diketahui, hanya Nadifa saja yang belum tahu alasan perubahan sikap yang terjadi pada Galih sebenarnya.
"Iya sayang," jawab Nadifa pelan seketika selera makan pagi nya hilang bagai ditelan angin.
"Baiklah aku berangkat dulu, kamu hati-hati dijalan," Galih bangkit dari duduknya lalu memakai Jas hitam untuk menutupi kemeja nya.
Nadifa meraih tangannya Galih untuk diciumnya.
"Muach ," Galih mencium kening, pipi dan bibir Nadifa.
Lalu berlalu pergi menuju kantor.
"Aku pasrah...mungkin benar Galih sedang membuat siasat untuk membongkar kesalahanku perlahan," ucap Nadifa pada dirinya sendiri.
Nadifa mulai membereskan piring-piring bekas sarapan mereka dan membawanya ke dapur, ia pun bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Mulai dari kemarin bukan hanya Malik yang gundah gulana melainkan Nadifa pun sama, kini kaki dan tangannya seperti diborgol dan lehernya seperti terikat tidak bisa bernafas...ya..Galih sangat membelenggunya.