
Sebuah tenda tengah berdiri kokoh disalah satu tanah makam yang sudah selesai digali. Berjejer beberapa bangku untuk menopang tubuh para tamu yang hadir.
Terlihat para Direksi PT SUAM dan Presiden Direktur sudah duduk dengan rapih dibawah tenda, mengingat Galih mempunyai jabatan penting di kantor dan Gita pun salah satu staf karyawan disana.
Makin lama, suasana tenda makin sesak karna terus berdatangan orang-orang yang sudah bersiap untuk menikmati jalannya pemakaman.
Nadifa ada ditengah-tengah mereka sedang duduk didalam tenda, menghadap lurus melihati persiapan pemakaman Jenazah. Galih pun ikut turun untuk membantu menurunkan Jenazah kedalam liang tanah.
Nadifa hanya bisa diam menatapi semua itu dengan iringan awan berair di kedua matanya.
"Apakah aku bisa merawat anak mereka dengan baik ?"
"Apakah aku sudah pantas menyandang gelar menjadi seorang ibu ?"
__ADS_1
"Bagaimanakah jika suatu saat nanti anak itu mengetahui kalau aku hanyalah Ibu Sambungnya !"
"Kuatkan aku Ya Allah, jadikanlah aku Ibu sambung yang serasa kandung untuk bayi Mas Galih dan Mba Gita,"
Nadifa terus merintih, berdoa sambil menatap langit yang mulai memberikan cahaya matahari panas menyengat.
Kinanti merangkul Nadifa seraya memberikan kekuatan, Nadifa pun lirih."Maafkan Difa ya Bu, atas segala.." Ucapan Nadifa terhenti ketika jari Kinanti mendarat di bibirnya,"Aku sedang belajar melupakan itu, ini memang tidak mudah. Tapi demi pernikahan, kita harus siap menerimanya dengan tangan terbuka,"
Tidak menyangka Kinanti akan sebijak itu, mengingat dirinya akan banyak berterima kasih karna kemauan Nadifa untuk mau mengurusi anak kandung dari adik sepupunya itu.
Fajar hanya bisa menatap, ia tidak berani untuk menghampiri Nadifa, yang ia rasa kini sudah tidak ada lagi celah baginya untuk memiliki Nadifa, Galih tidak akan membiarkan istrinya pergi untuk kedua kalinya.
Setengah jam kemudian, galian kubur sudah tertutup rata oleh tanah liat yang merah dan masih basah. Galih dan Nadifa mengiringi tanah makam dengan taburan bunga yang hampir menutupi seluruh bagian tanah dan menyiraminya dengan air mawar.
__ADS_1
Mereka mengucapkan doa untuk mengantar kepergian Gita yang saat ini sudah tidak akan merasakan sakit lagi.
Para hadirin yang datang banyak mengucapkan kata duka untuk menyemangati mereka dan berlalu pulang setelahnya.
"Jaga anak kalian ya, doakan terus Gita. Kami pamit dulu," Ucap Kinanti memegang bahu Galih dan Nadifa secara bersamaan.
Mereka pun berlalu dari pemakaman, dan meninggali pasangan suami istri ini yang masih saling merangkul menatapi nisan Sagita Aryani.
Kini Galih dan Gita sudah terpisah dengan dua alam. Hanya dengan doa, mereka bisa saling bersaut.
Sagita Aryani adalah sahabat sebangku Galih Hadnan di SMA dulu. Mereka selalu bersama-sama dalam mengerjakan tugas sekolah perorangan atau perkelompok. Karna ketampanan dan kecerdasan Galih membuat Gita dimabuk cinta akan dirinya. Namun Gita selalu menutupi bahwa ia mencintai Galih dan terkuak ketika Galih menyatakan dirinya telah menyukai Adik kelas yang berjarak saru tahun dibawahnya yaitu Nadifa Putri.
Nadifa adalah adik kelas mereka semasa di SMA. Gita pun sudah lama iri dan ingin sekali seperti Nadifa, yang terkenal karna kepopuleran yang ia miliki selama di SMA, pernah menjadi Pelajar terbaik, mengharumkan nama sekolah dengan memenangkan medali atas kejuaraan Olimpiade Sains, menjadi ketua PMR dan anggota OSIS yang saat itu tengah di pimpin oleh Galih, banyak lelaki yang menyukainya dan hanya Galih Hadnan yang dapat memenangkan hati Nadifa, yang kini sudah berhasil ia nikahi dan hidup bersamanya.
__ADS_1
Penantian Gita yang bertahun-tahun lamanya untuk menunggu agar bisa memiliki Galih akhirnya terjadi walau dengan perbuatannya yang tidak manusiawi. Galih tetap tidak bisa merubah pandangannya kepada Gita, kalau mereka tidak lebih dari sahabat.
Namun Tuhan berkata lain, ketika mengabulkan doa Gita dengan cara memberikan seorang anak untuk Galih dan Nadifa dihidup mereka saat ini.