
Malik sudah ketahuan basah begitu perhatian kepada Nadifa didepan Dania dan Dania bukanlah anak kemarin sore yang tidak tahu bagaimana orang saling jatuh cinta.
"Pak Malik kayanya suka nih sama Nadifa dia sebegitunya perhatiannya, Nadifa pun sepertinya begitu," batin Dania begitu kuat.
Seperti tidak merasa malu atau bagaimana, Malik tetap bersikap santai seperti tidk terjadi apa-apa dan kembali menyantap makananya sampai habis, tinggalah Nadifa yang dilanda rasa tidak enak diketahui dan dicurigai oleh Dania.
"Aduh..aw...,!" mendadak Nadifa merintih kesakitan memegangi kepalanya, ia merasakan ngilu hebat yang terjadi dikepalanya, Malik yang sudah selesai makan pun langsung memberi respon panik kepada Nadifa.
"Kamu kenapa ?" Malik terkejut melihat Nadifa kesakitan dengan cepat ia bangkit dari duduknya mendekatkan diri ke tubuh Nadifa. ikut memegang tangan Nadifa yang sedang memegang kepalanya, Lalu Nadifa diajak bangkit menuju sofa yang lebih nyaman di pojok kanan ruangannya.
Malik menyandarkan Nadifa ke sofa, Dania pun dengan cepat duduk disamping Nadifa untuk menemaninya.
"Apakah masih sakit dahimu ?" Malik begitu cemas.
"iya, sakit sekali pak ," Jawab Nadifa.
" Pulang saja ya dif, kamu harus tiduran dulu dirumah kayanya belum bisa untuk lihat komputer dulu deh pak," Dania menambahkan.
"Telepon suamimu saja ya dif, minta untuk dijemput," Dania memberi saran.
__ADS_1
"Saya saja yang antar Nadifa pulang, ini kan didalam kantor berarti tanggung jawab saya juga. Kasian suaminya, kantornya lumayan jauh," Malik berucap cepat untuk memutuskan hal ini. Dania pun mengangguk dan terus mencemaskan Nadifa.
"Sebentar aku ke meja ku dulu ya mengambil minyam kayu putih dan membereskan mejamu dulu, biar kamu bisa cepat pulang,"
"Makasi banyak ya mba, maaf merepotkan kamu," . Dania pun berjalan keluar ruangan menuju meja mereka.
"Kita berobat lagi ya, biar kamu dikasih obat yang lebih bagus. Aku cemas memikirkan kamu, tangan kamu panas dan kamu lebih pucat melebihi pagi tadi,"
Nadifa hanya menggeleng menahan lemas tubunnya dan sakit dikepalanya itu. Malik pun mengambil gelas yang masih berisi air miliknya itu.
"Minum dulu sayang.." Malik membantu Nadifa untuk menelan air putih tersebut.
"Pulang saja ya, istirahat dulu dirumah. Aku tidak akan tega melihat kamu seperti ini,"
"Tapi aku masih rindu sama kamu.." Jawab Nadifa.
"Aku juga rindu kamu, sangat sekali malah. Tapi kamu masih pucat butuh istirahat lebih, Aku antar kamu pulang,"
"Baiklah sayang," Nadifa pun mencoba kembali bangkit dari sofa yang selalu ditemani oleh Malik.
__ADS_1
Malik dan Nadifa pun berjalan keluar dari ruangan Malik menuju meja Nadifa yang sudah selesai dibereskan Dania.
"Saya antar dulu Nadifa pulang yaa, titip ruangan dulu nia ," Perintah Malik.
"Istirahat yang cukup yaa Nadif, cepat pulih lagi," Dania memberikan tas Nadifa yang ada dibangku kerja.
"Makasi banyak yaa mba," dengan senyum menawan yang masih terlihat pucat itu.
Nadifa pun dan Malik berjalan menuju Lift untuk turun ke basement tempat parkiran mobil.
Malik tetap memapah tubuh Nadifa dengan sangat perhatian. Mereka pun masuk kedalam mobil.
Dipakaikanya seat belt di tubuh Nadifa oleh Malik dengan baik, sambil mencium kening sang pujaan hati itu.
"Maafkan aku jadi membuatmu repot karena harus mengantarkan aku pulang," Nadifa memelas.
"Tidak sayang, ini sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga mu ," Malik mengelus pipi Nadifa dengan lembut. Ia merasa sangat kasian melihat Nadifa yang biasanya lincah sekarang sangat lemah dan layu.
Malik pun mengantar Nadifa ke rumah untuk bisa istirahat lebih baik lagi. Nadifa menyandarkan kepalanya ke bahu bangku mobil dan terlelap disana. Malik tetap fokus mengemudi dengan baik
__ADS_1