
Galih masih menatap kaca di meja rias Nadifa, ia memakai kemeja putih bersih yang sudah lama tidak pernah dipakai, memakai jas dan celana bahan hitam kali ini tanpa dasi menemani lehernya.
Wajahnya sendu hari ini, tidak ada keriangan yang muncul disana, berat untuk menyimpulkan garis senyum melebar di kedua pipi nya.
Dirasa dirinya sudah rapih, lalu ia turun dengan langkah lambat menuruni tangga, dilihatnya Nadifa masih sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Sayang!" panggil Galih
Nadifa menoleh cepat dengan balutan celemek masih menyelimuti dirinya.
"Tumben jam segini kamu sudah rapih, aku fikir kamu belum mandi," Ledek Nadifa yang masih bau bawang.
Galih hanya tersenyum tanpa menjawab, ia lihati terus istrinya yang sedang memasak dari bangku meja makan.
Nadifa pun berjalan menuju meja makan membawa Bihun goreng ayam yang sudah matang dan kembali lagi membawa segelas susu untuk Galih.
"Kok tumben pakai kemeja Putih, memang ada acara apa ?"
Pertanyaan itu lebih menyeramkan dibanding pecutan halilintar di tengah-tengah gelap nya langit.
Galih makin merasa bersalah, ia semakin tersiksa.
__ADS_1
"Ini kan hari jumat, biasanya kan kamu pakai Batik Mas," Nadifa mengingatkan, jikalau Galih sedang lupa dengan hari.
"Iya aku ingat sayang, tidak apa-apa aku sedang ingin pakai kemeja saja hari ini," balas Galih mulai meyakinkan Nadifa.
"Makanlah sayang yang kenyang ya." Nadifa menuangi bihun goreng dipiring Galih.
Tiba-tiba Galih memeluk dan merangkul istrinya, ia menangis sejadi-jadinya, lalu menciumi Nadida dari kening,pipi,dan bibir serta mengucapkan beribu-ribu kata maaf mengalir deras di dalam hatinya.
"Hey, Mas. Kamu kenapa ?" Nadifa kaget akan sikap Galih yang seperti ini, Galih adalah lelaki yang sangat Kuat ia jarang sekali untuk menangis.
Wajahnya memerah menahan sakit dan sesak dalam dada nya.
"Aku masih sedih tidak jadi membawamu liburan ke New York,"
"Masa sampai nangis gini si mas, udah enggak apa -apa Mas, aku udah lupa sama masalah itu," Nadifa tertawa.
"Sudah ayo makan, habiskan sarapanmu,"
Galih menuruti perintah itu, ia semakin tidak kuat dengan hari terberatnya ini.
*****
__ADS_1
Kini Galih sudah berada dirumah Gita untuk melangsungkan akad nikah sirih. Terlihat sudah ada Bapak penghulu, Bapak Wali dan kedua saksi.
Yang lebih mengejutkan lagi ada Dendi sebagai Saksi dari pihak Galih.
Awalnya Dendi merasa kecewa, namun ia pun akhirnya mengerti kondisi Galih dan Gita saat ini, sedari tadi Dendi tidak ingin berbasa basi dengan Gita, ia muak tidak mau melihat wajah wanita itu sama sekali.
Ia hafal betul ini pasti rencana busuk Gita seperti yang ia yakini bahwa dulu Gita lah yang mencelakai Nadifa.
Galih masih terpaku mematung diam lemas dan tidak berdaya, ia seperti ingin lari meninggalkan pernikahan ini.
Namun ia teringat kembali ada bayi yang butuh pengakuan dari nya.
"Bisa dimulai saat ini?" tanya Bapak penghulu, seketika Galih mengingat ketika ia sedang melangsungkan akad nikah bersama Nadifa 5 tahun yang lalu, air matanya menggenang lagi.
Dendi memahami perasaan yang kini dirasakan oleh teman sekaligus atasannya itu. Berbeda dengan wajah Gita yang terus memancarkan aura kebahagiaan mengalir di wajahnya.
10 menit kemudian acara Akad telah selesai, terdengar suara SAH menghiasi telinga mereka yang diucapkan oleh para saksi-saksi, setelah selesai Dendi pun langsung mengangkat kakinya pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Galih dan Gita.
Galih hanya diam merasa bersalah dan Gita hanya cuek tidak perduli.
"Benarkan, hanya aku yang dapat memberimu seorang keturunan, aku akan selalu bersamamu sayang membesarkan anak-anak kita," kata Gita dalam hatinya.
__ADS_1