
Langkah kaki Nadifa cepat mengayun untuk menyeka sebentar pintu lift agar tidak tertutup. Ia pun masuk kedalam menemani Fajar.
Fajar hanya diam tidak bicara sama sekali, ia masih tidak percaya dengan sosok Nadifa yang begitu mudah bermain cinta dengan Malik serta menghianati Galih, suaminya.
"Mas Fajar!" panggil Nadifa memecah keheningan diantara mereka. Nadifa merasa aneh dengan sikap dingin Fajar saat ini.
"Mas Fajar kenapa ya? sikapnya kok beda banget! jadi dingin kayak es gini, harusnya kan dia basa-basi gimana gitu karna liat aku udah masuk kantor lagi," Nadifa mulai merasa Fajar menjauh.
Fajar hanya menoleh dengan senyuman tipis.
Ting....!
Pintu lift seketika terbuka, dengan cepat Fajar menerobos keluar mendahului Nadifa. Ia pun dengan cepat pula menarik lengan baju Fajar.
"Mas Fajar tunggu!" ujar Nadifa lalu melepaskan tangannya dari lengan Fajar.
__ADS_1
"Ada apa sama Mas Fajar, enggak biasanya sikapnya kaya gini? Nadifa ada salah Mas? kalau ada mungkin Nadifa khilaf, minta dimaafin yah," Nadifa berbicara sangat lembut sambil menundukan kepalanya, melihat ekspresi wajah yang begitu jujur, Fajar tidak kuasa untuk mengabaikanya lagi, ia pun memeluk Nadifa dengan erat.
Dibawanya Nadifa ke pinggiran lorong, ia pun mulai menceritakan sejujurnya yang terjadi kemarin siang antara Malik, Galih dan Dirinya. Fajar terus menceritakan dengan rinci setiap kejadian yang ia lihat kemarin. Nadifa kaget bukan main menutup mulutnya dengan kedua tangan seraya tidak percaya jika ia sudah diketahui oleh Galih.
Ketika ia sudah mantap menyimpulkan pertikaian yang terjadi, Nadifa pun bergegas pergi meninggalkan Fajar yang belum selesai dalam berbicara, Ia terus berlari mencari seseorang yang ingin ia temui saat ini juga.
"Ikut Nadifa sekarang!" Nadifa menarik lengan Malik untuk bangkit berdiri meninggalkan ruang kerjanya untuk mengikuti langkah Nadifa, entah dirinya mau dibawa kemana.
Diduduki Malik di kursi ruang meeting kecil, dimana tempat Malik dihajar habis-habisan oleh Galih kemarin.
Nadifa hanya diam menatapi luka-luka yang tersimpul manis disana."Sakit banget yah?" tanya Nadifa polos.
Malik mengangguk, terus mensenyumi Nadifa tidak berhenti," Difa gimana kabarnya? kok sekarang sudah masuk?" ucapnya lembut dengan rasa khawatir yang melanda hebat.
"Kabar Difa jadi enggak baik, karna liat Pak Malik kaya gini!" Nadifa meneteskan air mata, hatinya pedih melihat banyak luka yang bersarang diwajahnya.
__ADS_1
"Selama dirumah, suami Difa enggak mukul kan? atau main kekerasan fisik?" tanya Malik penuh haru, ia takut Galih akan lupa daratan dalam mengendalikan emosinya.
Nadifa menyimpan rapat-rapat apa yang ia rasakan saat ini, dia baru mengetahui pantas saja sikap Galih aneh dan langsung berubah drastis sengaja untuk menyakiti hatinya mendadak.
"Enggak kok Pak, Difa baik-baik aja! maafkan Mas Galih, Difa juga enggak ngerti Mas Galih bisa tau semua ini dari mana,"
"Saya terima jika Galih bersikap seperti ini, karna saya pantas untuk mendapatkannya,"
Nadifa menggeleng menahan pilu dan sesak.
"Tapi Pak, Nadifa juga ikut bersalah, bukan hanya Pak Malik saja, ini sangat menyedihkan sekali," Nadifa menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Wajar jika masih menemukan orang-orang yang membuat kita sedih itu tandanya kita masih hidup namun jika sudah tidak menemukan orang-orang seperti itu tandanya sudah tidak ada kehidupan lagi,"
Malik terus menyemangati dengan sangat bijaksana, ia membesarkan hati Nadifa yang mulai menciut lalu mengusap tangan Nadifa sangat pelan," Aku aja yang sakit, kamu jangan!" Malik mengulang kalimat yang kemarin terucap di bibir Nadifa yang selalu terngiang-ngiang jelas dikepalanya.
__ADS_1