
"Bersihkan tubuhmu, kita bahas masalah ini besok." Galih menyuruh Gita, ia melepaskan tubuh Gita dari pelukannya.
Galih dengan langkah lemah mengambil bajunya yang telah berserakan dan memakainya kembali.
"Maafkan aku." ucap Galih pasrah, tidak ada lagi yang bisa ia ucapakan untuk masalah yang tidak beradab ini.
Gita masih berpura-pura termenung duduk diam mematung diatas ranjang melihati Galih sedang berapakaian.
Ketika sudah rapih kembali, ia mengubah pandangannya ,"Aku pulang dulu".
Gita mengangguk pelan, Galih melangkah membuka pintu kamar menuju keluar dan masuk kedalam mobilnya.
Gita kembali dari kepura-pura an nya.
"Senang sekali rasanya, aku sangat bahagia. Merasakan yang sudah lama ingin aku rasakan, setelah ini kamu akan selalu ada dalam genggamanku." Gita tertawa lepas membaringkan tubuhnya dengan merentangkan tangannya ke kasur. Ia tertawa lepas penuh kemenangan...dasar Biadab !
Benar saja , setelah ini ia akan terus memintai pertanggung jawaban Galih dan bagaimana jika setelah ini Gita....Hamil...
Galih masih diam mematung didalam mobil, jemarinya meremas stir mobil dengan kuat, matanya tajam melihat kedepan, hatinya hancur bukan kepalang.
Ini adalah suatu hal yang dilakukan tanpa rasa cinta terlebih dahulu bukan seperti Nadifa dan Malik.
"Bagimana bisa!" Galih menghardik dirinya sendiri.
"Sial ! kenapa tidak bisa ingat apa-apa," Galih memaki dirinya kembali.
Ia hanya bisa tenang jika sudah berada di hadapan istrinya.
Meraih Hp di saku celana dan menghubungi Nadifa.
Kring...Kring.. dering HP Nadifa berbunyi.
Kini Nadifa tengah berada diruangan Malik bersama Dania membahas sejumlah laporan yang akan direvisi.
__ADS_1
Nadifa melihat Layar HP dan mengangkat wajah sebentar ke arah Malik.
****Nadifa** :
**Assalammualaikum, iya Halo...sayang ( suara pelan)**
Galih :
***Aku jemput kamu ya, 1 jam lagi aku sampai. Nanti aku tunggu di Lobby saja***
Nadifa :
*** Loh tumben pulang cepat, ada apa**?***
Malik menoleh ke arah Nadifa, mendengar ucapan Nadifa berbalas ditelepon ia sudah pasti tahu siapa penelpon itu.
Nadifa berbicara ditelepon sembari melihati Malik, takut Malik cemburu ia pun keluar sebentar ke ruangan.
"Pak, maaf saya keluar sebentar," Nadifa Pamit. Malik dan Dania mengangguk lalu kembali mengecek laporan tersebut secara manual.
**** Hallo yang ?*** Galih memanggil kembali karena mendengar jeda suara dari istrinya itu.
Nadifa :
*** Hallo iya sayang, Kamu kenapa**?***
Galih :
***Sedang ingin jemput kamu saja, aku juga sudah tidak ada kerjaan lagi**
Nadifa :
*** Baiklah hati-hati dijalan ya, kabari aku jika sudah sampai***
__ADS_1
Galih :
***Baiklah***
Tuuut....telepon terputus
Nadifa menutup Hp nya dan kembali kedalam ruangan. Ia terus melihati wajah Malik apakah ada perubahan mimik wajah atau tidak.
"Bagaimana ya, aku sudah janji mau diantar pulang olehnya. Tapi ternyata Galih mendadak mau jemput aku." batin Nadifa.
Ia bingung bagaimana membicarakan hal ini kepada Malik, mengingat hubungan mereka sudah kembali membaik setelah kejadian kemarin.
"Sebentar, Niah ijin ke toilet dulu," ucap Dania bangkit menuju ke luar ruangan untuk ke toilet.
Nah...ini adalah saat nya.
"Suami kamu telepon ?" Malik langsung mencapkan pertanyaan itu tanpa aba-aba.
"Iya sayang..," belum sempat menyelesaikan jawabanya dengan cepat disambar lagi oleh Malik.
Kini tatapan Malik lebih santai," Mau dijemput pulang ?"
Nadifa melihati wajah Malik dengan pelan," Iya sayang"
Malik itu paranormal ya ? atau mempunyai keahlian telepati ? bisa tepat sasaran seperti itu.
"Aku minta maaf tidak.."
lagi- lagi disambar cepat oleh Malik," Tidak apa-apa, pulanglah bersama suamimu. Ia yang lebih berhak atas kamu, kita masih punya banyak waktu."
Malik mencium tangan Nadifa dengan cepat, Nadifa makin terenyuh akan sikap sang Kekasih terlarang ini, jika sepi mungkin ia akan langsung menyergap Malik dengan kekuatannya.
Raut wajah Nadifa mengembangkan senyum dan teramat cinta, tatapan sayang semakin masuk menusuk hatinya.
__ADS_1
Malik harus bisa beradaptasi dengan keadaan ini jika mau terus bersama dengan Nadifa, ia harus banyak mengalah dan menekan kecemburuannya sedikit agar tidak menyakiti kedua hati mereka.