
Akad pun telah selesai, kini hanya mereka berdua didalam kamar, Gita terus merayu dan menciumi Galih yang telah SAH menjadi suaminya saat ini.
Hentakan ketidak mauan terpancar di wajah Galih, ia tidak mau melakukan hal itu bersamanya. Gita pun terus menciumi dan memaksa mereka untuk bercumbu, tapi lagi-lagi Galih selalu menyingkirkan wajahnya dari Gita.
Gita yang terlihat kesal tidak patah semangat dan ia tidak kehabisan akal, benar-benar wanita ini bisa senekat ini.
"Minumlah dulu, sejak tadi kamu belum minum," Gita memberikan secangkir teh yang sudah ia siapkan dimeja.
Galih yang masih saja bodoh untuk tidak bersikap curiga dengan cepatnya meminum air teh itu.
15 menit kemudian reaksi muncul, dada Galih berdebar-debar, badanya seperti bereaksi tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, saat ini ia sangat tegang.
Gita yang memahami itu, tidak membiarkan begitu saja reda. Ia mulai mencumbu rayu lagi Galih, menjamahi kembali Galih dengan tubuhnya, dibukanya semua helaian kain yang merekat kuat ditubunya, kini ia memperlihatkan ke mulusan dirinya.
Galih yang saat ini sudah dimabuk akan efek obat, ia pun bermain dibawah alam sadar.
ia pun terpancing, menarik Gita kedalam pelukannya, menyusupinya dengan hasrat membara teramat sangat.
__ADS_1
Gita pun sudah dimabuk hasrat menggoda, ia telah kembali menjadi Nakoda saat ini, ia yang beralih memandu Galih dengan permainan mereka, Galih seperti hanya menerima saja apa yang ingin dilakukan oleh Gita terhadap tubuhnya.
Gita pun berbaring di posisi tiang teratas, ia leluasa melakukan apapun kepada yang suaminya kini, mereka sedang bersama-sama menikmati sebuah puncak keindahan.
Hanya terdengar suara rintihan melambung tinggi yang mengiringi mereka berdua, Galih seperti terlupa akan Nadifa dan mulai menikmati apa yang telah terjadi saat ini dengan Gita karna Efek obat yang dimasuki oleh Gita ke dalam minuman Galih.
Memang kegiatan ini tidak melanggar Agama" karena kini mereka sudah SAH dimata Agama hanya belum saja SAH dimata Negara.
"Asshhhhhhhh !!! suara pecutan keduanya berakhir mengembang diudara kamar.
Gita yang lemas terjatuh dipelukan Galih, Galih pun sebaliknya, kini mereka saling memejamkan mata karena sudah sama sama letih.
****
"Ini baju Fam Gath nya beserta keluargamu," ucap Nadifa meletakan baju-baju tersebut di meja Malik, ia pun dengan cepat memutar langkah kembali untuk pergi dari sana tetapi dengan cepat tangannya ditahan oleh Malik.
Nadifa menoleh dan masih memberikan wajah asam karena termakan api cemburu sejak tadi malam.
__ADS_1
Malik hanya senyum tanda puas.
"Kenapa tidak memberiku wajah cantikmu hari ini? masih cemburu?" ledek Malik.
Nadifa hanya diam tidak mau menjawab, dan ia pun tidak mau menyita perhatian karyawan-karyawan lain yang asik sedang bekerja.
"Sangat romantis ya, saling suapi," Nadif keceplosan mengungkit pemadangan yang ia lihat semalam.
Malik tertawa sejadi-jadinya.
"Aku jadi rindu sama kamu yang sebegininya cemburu, memang kamu lah Nadifa ku,"
"Siapa bilang aku cemburu? aku malah ikut senang," Nadifa membuang kalimat cemburu yang ditujukan kepada dirinya.
"Cemburu itu adalah suatu kewajaran tidak mengapa, aku menyukainya,"
Malik juga cemburu tetapi ia lebih bisa meredam rasa itu agar tidak terlalu terlihat beda dengan Nadifa yang hanya seorang wanita yang lebih terlihat jika sedang jatuh cinta atau sedang cemburu.
__ADS_1
"Sudahlah aku ingin kembali membagikan baju ke divisi yang lain," Nadifa pergi meninggalkan Malik begitu saja yang masih mensenyuminya dari belakang.