
Yuk mari baca
🤗🤗
***
Fajar membuka pintu kamar dengan sangat pelan, dilihatnya Alea tengah duduk ditepi ranjang memunggunginya. Ia lah wanita yang sudah dijadikan istri dua bulan yang lalu dan kini tengah mengandung anaknya.
Alea masih menangis terisak, berkali-kali ia mengelus-elus perutnya seraya meminta kekuatan kepada anak yang tengah ia kandung.
Sangat menyakitkan memang, ketika kita mencintai dan memberikan hidup kita sepenuhnya kepada seseorang, disaat itu pula kita hanya dianggap seonggok beban yang tidak berharga.
Karena cintanya, Alea mau diperlakukan seperti ini. Dan karna cinta buta Fajar kepada Nadifa, membuat matanya tertutup untuk menjalani pernikahan yang sudah direstui oleh Tuhan, Alea adalah jodoh terbaik yang diberikan Tuhan untuk Fajar. Semoga ia tidak terlambat waktu dalam mencintai istrinya.
Fajar sudah berada ditepi ranjang berlawanan dengan Alea, sepertinya ia gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu, ia merasa Alea harus faham dengan kondisi hatinya yang masih belum berpaling dari Nadifa.
"Malam ini, aku tidur dikamar Naka!" ucap Fajar lalu bangkit untuk pergi menuju kamar anaknya.
Alea semakin terisak dalam tangisnya, tak ada pembelaan dan tidak ada penenangan saat ini. Alea harus kuat, harus selalu kokoh menunggu hati Fajar hanya untuknya.
Percayalah Alea, suatu saat nanti Fajar yang akan bertekuk lutut kepadamu.
__ADS_1
***
"Kamar nya Mba Asih disini ya." Nadifa membukai pintu kamar khusus asisten rumah tangga dirumah ini.
"Wah lumayan gede Nyonya, terimakasih sudah mau memperkerjakan saya." jawab Asih sambil menundukan kepalanya.
Karena kandungan Nadifa sudah mulai besar, ia cukup sulit untuk melakukan pekerjaan rumah dan mengurus Gifali, walau awalnya ia menolak untuk dibantu ART, karena paksaan dari sang suami. Akhirnya ia menurut dan menerima Asih untuk bekerja dirumahnya. Wanita berusia 40 tahun ini, dikhususkan hanya untuk mengurusi rumah, selebihnya tetap Nadifa yang memegang kendali.
"Sama-sama Mba, kalau ada butuh apa-apa tinggal bilang sama saya ya."
"Baik, Nyonya."
"Oh iya, hari ini saya ada kelas senam hamil. Titip dulu anak saya ya Mba, botol susu dan susu nya sudah disiapkan dikamar. Disusui nya pelan-pelan, Gifali cepat kenyang namun cepat haus lagi, sering banyak muntah kalau lagi disusui."
"Oke Mba Asih, saya jalan dulu ya!"
***
Wajah Nadifa terlihat merengut masam, ia terus berdiri dihalte menunggu sang suami yang tak kunjung datang, janjinya Galih akan ijin keluar dulu sebentar dari kantor untuk menemani Nadifa mengikuti senam hamil hari ini, nyatanya sampai selesai acara suaminya tak kunjung tiba.
Galih melupakan janjinya dan hanyut dalam deretan rapat beserta para staff dikantor. Selama sudah berhenti bekerja Nadifa merasa sangat ketergantungan dengan Galih, tidak terlihat rasa kemandiriannya dalam melakukan apapun, Galih menutut ruang geraknya. Ini mengakibatkan ia suka bersedih menahan sesak dan pilu.
__ADS_1
"Aku tidak suka menunggu, kamu tau itu! Kalau memang dari awal tidak bisa menemani, seharusnya tidak usah berjanji apa-apa, aku kesal sama kamu!"
Tutt...sambungan telepon secara sepihak diputus oleh nya.
Mungkin setelah ini Galih akan langsung meluncur untuk menemui istrinya yang tengah merajuk.
Disaat ia sedang melamun, menyimpan rasa kesal akan Galih dan rasa letih karena sehabis senam barusan. Membuat dadanya terasa sesak karena perut nya yang sudah membuncit hebat.
Ia terus duduk, bukan untuk menunggui Galih dan bukan juga untuk menunggu angkutan umum. Namun ia hanya sedang malas untuk bergerak, ia malas untuk apa-apa saat ini. Keringatnya sudah berleweran turun membasahi pipi, leher dan punggung bajunya.
Lalu
Tin...Tin..
Suara Klakson dari mobil sedan hitam terdengar nyaring. Semua mata memandang ke arahnya. Nadifa hanya tetap diam tidak memperdulikan suara klakson dari mobil itu yang entah buat siapa. Karena merasa panggilan klakson tidak digubris oleh Nadifa, lelaki ini akhirnya memaksakan kakinya untuk turun dan melangkah menuju Nadifa.
Bagai ombak yang sedang menerjang pantai, menyapu semua kenangan agar tidak tersimpan lagi. Mengakhiri dan berpisah untuk kembali menikmati romansa keluarga normal seutuhnya. Dengan izin semesta, mereka kembali dipertemukan dalam suasana hati yang berbeda. Lelaki ini memanggil namanya, semua orang terkesima dengan penampilannya yang begitu gagah dan berkarisma, sedang menghampiri ibu hamil dengan rambut yang sedikit tidak rapih, karena angin hebat menyapu rambutnya ketika ia sedang berjalan kaki dari tempat senam ke halte sekarang dan beberapa bekas basahan air mata disekitar kelopaknya. Karena merasa kecewa dengan Galih yang tidak menepati janji. Ia sedih ketika melihat para ibu hamil ditemani oleh para suami mereka disanggar senam hamil tadi.
Lalu
Nadifa kaget, tercengang, seketika wajah masam nya berubah menjadi wajah yang bahagia hilang dari kekesalan. Mereka saling memberi senyum dan menatap akan kerinduan.
__ADS_1
"Pak Malik?"panggilnya kepada lelaki ini.