Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Keinginan


__ADS_3

Assalammualaikum, udah selesai tarawihan belum guys...keep reading yah💕💕🖤


"Jangan digendong terus, nanti jadi bau tangan," ucap Galih sambil menyenderkan kepalanya di pusaran tempat tidur. Sudah dua jam ia melihati istrinya terus mengayun-ayun Gifali yang belum juga mau terpejam. Seperti pada umumnya mata bayi akan segar ketika orang tuanya hendak memejamkan mata.


Disela-sela itu Nadifa terus menguap, ia merasa dirinya sudah berada diujung rasa kantuk."Ini dedeknya belum mau bobo papa," suara manja Nadifa diarahkan ke wajah Gifali.


Mendengar kata Papa, membuat Galih menghentikan jari-jari nya dari layar Ipad sekejap, ia kembali menoleh dan mendekati anak lelakinya itu."Hemm..gantengnya papa nih, ayo tidur dong, Nak. Itu mama nya udah kepengen dimanjain sama Papa," Galih meledek lalu menghempaskan tawanya dengan puas.


"Iihh--apaan sih kamu," Nadifa mencubit lengan suaminya."Sayangin dia terus ya, seperti anak kamu sendiri," Galih seketika menjadi melow dan memelas. Ia terus mengusapi kepala Gifali.


"Enggak usah diminta, Mama akan ngelakuin apa pun untuk anak ganteng kesayangan Mama ini," balas Nadifa sambil mencium hidung Gifali yang sangat mancung."Gifali mirip banget sama Bundanya ya," Nadifa menatap wajah Galih amat dalam. Ia mengingatkan tentang Gita akan hal ini.


Galih hanya diam tidak berkomentar apapun, yang ia tau saat ini Nadifa lah Ibu sejati untuk Gifali. Ia tidak mau merusak kebahagiaan hatinya dengan mengingat-ngingat kesedihan lagi.


"Sayang!"

__ADS_1


"Hemm," jawab Nadifa sambil terus menciumi Gifali tanpa henti.


"Aku ingin kita pindah dari rumah ini, mencari yang agak luas dan besar. Memulai kembali keluarga kita dari awal, hanya ada kamu, aku dan anak kita,"


Keinginan yang indah keluar dari mulut Galih, ia merasa dengan pindah ke rumah baru, akan membuat keluarga kecilnya semakin utuh dan kokoh, mengingat semua kenangan-kenangan pahit pernah tercipta dirumah ini.


"Aku sih nurut aja keinginan kamu, Mas. Selagi itu semua tidak memberatkan mu," balas Nadifa penuh pengertian, ia tau dirinya tidak akan bisa menolak apapun yang sudah diinginkan oleh suaminya. Galih adalah tipe lelaki yang tidak bisa dibantah.


"Apa kamu resign aja dari kantor ?" ucap Galih dengan gampangnya sambil menatap langit-langit kamar, tidak mau menoleh karna ia sudah tau pasti, bagaimana reaksi wajah istrinya itu.


"Tuhh---kan?!" batin Nadifa mengumpat.


"Aku pasti resign, tapi nanti kalau udah saatnya," balas Nadifa dengan santai, lalu membawa tubuh Gifali yang sudah terpejam ke dalam box bayi nya.


Galih mengerutkan dahinya, ia seperti ingin membalas jawaban istrinya dengan kalimat memaksa, tapi ia tau perbincangan ini akan beralih membawa diri mereka untuk kembali berkecimpung dalam keributan, mengingat hari ini ia sudah mendapatkan kembali senyum dari sang istri.

__ADS_1


"Uhh sayangnya Mama, bobo yang anteng ya, Nak. Jangan nangis lagi malem-malem ya sayang," Nadifa meletaki Gifali dengan amat hati-hati. Gifali adalah anak yang tidak bisa lepas dari dekapan tangan Nadifa.


Ia akan cepat menangis dan terbangun ketika diletaki ke dalam box nya walau sedang terlelap."Kesayangan Mama nih," Nadifa kembali mengecup pipi bayi lelakinya itu. Ia merasa bahagia, karna kali ini Gifali tidak menangis dan langsung tertidur pulas.


Yes..dirinya aman malam ini. Mengingat sudah dua hari dirinya begadang, memberikan sufor untuk Gifali semalam suntuk, belum lagi jika si bayi besar Galih, yang mau terus sufor setiap malam tapi dalam bentuk yang lain. Semua itu memang sangat melelahkan bagi Nadifa.


"Nanti kalau udah besar, jangan dimanjain ya. Aku pengen dia jadi anak lelaki yang mandiri. Cerdasnya aja ambil dari kamu, untuk sisanya biar jadi urusan aku," Galih menaruh Ipad di nakas dan memiringkan tubuhnya menghadap Nadifa.


"Belajar aja dulu buat gantiin popoknya, enggak usah mikirin yang masih jauh," Nadifa mencebik, ia pun menarik selimut sampai ke perbatasan perut dan dada.


"Aku bisa kok, kamu nya aja yang enggak percayaan, aku baru gendong bentaran udah kamu rebut, bilangnya takut jatuh."balas Galih sambil memajukan bibirnya.


"Iya abis, masa gendong bayi diposisin kaya duduk gitu, tulang-tulangnya itu belum kokoh banget, harus hati-hati Papa," Nadifa membalas dengan amat manja lalu mencium pipi suaminya dengan amat cinta.


"Iya cintaku, Istriku, Mamanya putraku," balas Galih.

__ADS_1


Seperti malam-malam sebelumnya ia kembali meminta haknya, memulai apa yang ia ingini malam ini dengan sang istri, bermain-main anggar didalam selimut yang kini mereka pijaki bersama.


Berikan semangat kalian untuk Author untuk memberi LIKE, VOTE, RATING & KOMEN ya guysss❤️🖤❤️🖤💕


__ADS_2