Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Ultimatum Fajar


__ADS_3

"Mba!" suara teriakan Nadifa pecah ketika melihat Dania, ia langsung memeluk tubuh Dania dengan kencang. Dania sudah dianggap seperti keluarga dan juga kakak sendiri oleh Nadifa.


"Hey bro!" Galih mengangkat tangan nya ke udara untuk bersalaman dengan Fajar.


Hari ini Dania meminta Fajar untuk menemaninya menjenguk Nadifa yang masih berdrest total dirumah.


"Ya Allah cah ayu, akhirnya kamu hamil juga. Apa aku bilang, mengurus Gifali membuat kamu mendapatkan berkah yang luar biasa dari Allah," Dania mengelus-ngelus perut Nadifa.


"Enggak boleh capek-capek ya, Mas Galih juga harus sabar kalo ngadepin ngidamnya Difa, ngidam nya orang hamil itu emang aneh-aneh,"


Galih hanya mengangguk dengan senyuman lebar di pipinya, Dania saja yang belum tau bagaimana cerita ngidam Nadifa yang diluar ekspektasi nya.


Nadifa masih memeluk dan menempelkan kepalanya di ceruk tengkuk Dania. Nadifa seraya memejamkan mata nya untuk melepas penat dan asa yang sudah ia rasakan beberapa hari ini. Mual dan muntah yang begitu berlebihan, janin yang begitu lemah dan yang terberat ada lah tujuan Kinanti untuk mengambil Gifali dari tangannya. Sungguh itu semua membuat mood Nadifa berantakan.


Fajar hanya bisa melihati terus Nadifa yang sedang melepas rindu dalam dekapan Dania. Ia duduk di sofa bersebelahan dengan Galih. Mata mereka menatap yang sama yaitu cinta mereka, Nadifa.


"Hemmm...," Fajar berdehem santai seolah membuat ruangan ini untuk mengingat kehadiran nya sebentar saja. Sontak semua mata beralih menatapi dirinya.


"Mas Fajar," tentunya Nadifa menjadi salah satu orang yang merasa bersalah telah mengabaikan lelaki ini.


"Kamu kurusan sekarang, udah makan belum?" tanya Fajar penuh perhatian terus melihati tubuh Nadifa dari mata lalu turun ke perut, dimana perut yang masih datar itu sedang menyimpan sebuah janin yang masih bertahan untuk tetap hidup.


"Difa mual muntah terus Mas, harusnya memang dirawat, tapi Difa urungkan---"


"Kenapa memang?" potong Fajar cepat, ekspresi kecemasan yang tumpah ruah disana. Galih yang menangkap ekpres itu hanya bisa mengerutkan kening lalu memicingkan segaris matanya, ia merasa tidak suka dengan tatapan Fajar kepada istrinya.


"Enggak ada yang jaga Gifali Mas," Nadifa jeda sebentar ,"Salah-salah bukan seperti itu, memang kemarin Pak Malik dan istrinya sudah menawarkan diri untuk merawat Gifali sementara tapi aku menolaknya---"


"Difa enggak bisa jauh dari Gifali dan Bapaknya!" Galih menyambung cepat. Wajah nya mulai menantang Fajar.


"Ck !" Fajar menatap Galih dengan ekpresi mengejek pelan, memberikan senyum tipis ketidaksukaan dalam mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut lelaki itu.

__ADS_1


Fajar dan Galih saling menatap dalam dingin.


"Kan ada loe bapaknya, loe bisa dulu jaga anak loe itu. Biarin dulu Difa dirumah sakit untuk istirahat kalau kaya gini kan dia tetap aja capek, wara-wiri kesana kemari!"


Ucapan Fajar sangat menusuk hati Galih


"Loe enggak usah ngajarin gue bro! gue tetep kok jagain Difa seketat mungkin."


Fajar kembali membuang tatapannya ke sembarang arah dan berdecis geli.


"loe fikir loe Tuhan? bisa selalu jaga kondisi istri loe ? kalo emang loe bisa selalu jagain dia, Difa enggak akan kabur dari loe selama tiga bulan!" Fajar kembali mengejek, ia pun sudah tersulut akan amarah yang sudah ia tahan-tahan karna beberapa kekecewaan yang terukir di hati nya.


Fajar sangat tidak menyukai Nadifa hamil, jika sudah seperti ini ia akan sulit untuk memisahkan Nadifa dengan Galih.


Mendengar kalimat terakhir membuat Galih bangkit dan mengangkat telunjuk nya ke wajah Fajar, tatapan yang sinis dan bibir nya terkatup rapat. Galih berkali-kali mengeraskan rahang nya.


Fajar tetap dalam posisinya, duduk tenang dan santai. Mengangkat satu kaki yang diletakan diatas paha sebelahnya, dengan kedua tangan dilipat diatas dada. Menaikan se inci dagu nya untuk menantang Galih.


Wajah Galih memerah seketika menahan emosi.


"Iya Mas, betul. Mas Galih sudah berkali-kali merayu Difa untuk mau dirawat, tapi karna Gifali, aku menolaknya. Dan dari kemarin sampai saat ini Mas Galih lah yang mengurusi keperluan anak kami. Difa dan Gifali dirawat penuh oleh Mas Galih."


Nadifa membuka suara untuk membela sang suami, ia tahu Fajar benci dengan Galih karna rasa cinta lelaki itu yang masih berbuih untuk dirinya.


"Jar!" Dania memberi kode untuk menghentikan semua ini. Fajar pun menurut untuk mengikutinya. Ia kembali tenang dan santai. Menatap kembali wajah Nadifa dengan senyum bahagia serta cinta. Ia ingin mengobati rasa kerinduan yang amat sangat.


"Ayo Dif bawa aku ke Gifali, aku kangen ingin gendong dia,"


"Ayo Mba," jawab Nadifa tidak konsen terus melihati dua tatapan laki-laki ini.


Dania dan Nadifa pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Fajar terus memperhatikan sosok Nadifa dari belakang yang sedang menaiki anak tangga bersama Dania.


"Buang tatapan kotor loe itu!" suara Galih menyerbak di kedua telinga Fajar untuk mengalihkan pandangan nya.


"Ckk?" Fajar kembali mengejek Galih sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Yang kotor itu loe !


"Yang bejat itu loe !


"Yang iblis itu loe !


"Gimana enggak ? loe tetep pakai tubuh istri loe untuk urus anak loe sama Gita !


"Loe mainin kebaikan hati istri loe! bahkan untuk menolong nyawanya sendiri aja, anak loe sama Gita masih aja menghalangi dia!"


"Miris banget hati gue liat dia."


Semua rentetan ucapan yang keluar dari mulut Fajar sangat menusuk jiwa nya.


Galih geram hatinya semakin panas, ia pun menghampiri cepat Fajar dan menarik kerah baju lelaki ini. Mereka saling menatap dalam benci teramat sangat.


"Lihat nih diri loe! kelakuan loe aja masih tempramental kaya gini, gimana loe mau jadi suami dan bapak yang tepat untuk mereka ?"


Kata-kata Fajar yang terkahir ada benar nya, harusnya Galih tetap bisa berfikir dewasa untuk tidak gampang tersulut emosi dan melakukan kekerasan.


"Loe tau kan dulu waktu di SMP, gue selalu juara dalam setiap pertandingan apapun ? dan pertandingan diantara kita, tetap gue yang akan menang !"


Fajar memberi ultimatum keras kepada Galih. Lalu ia menepis kasar tangan Galih dari kerah baju nya. Jantung Galih bergemuruh kencang, ia masih menduga-duga apa yang akan dilakukan Fajar setelah ini.


Fajar ingin Nadifa !

__ADS_1


Aku tunggu Jempol like dan komen kalian..serta VOTE terbaiknya.


Hatur Nuhun 😘😘😘


__ADS_2