Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Percintaan pagi pagi


__ADS_3

"Bangun ayah," kata Kinanti. Kinanti yang sudah berdandan dan memakai kemeja rapih untuk berangkat siaran. Malik membuka mata dan duduk menyender di kepala tempat tidur.


"hari ini bunda pulang malam, Yah. Ada berita tambahan," Kinanti berbicara lagi. Malik mengangguk dan tetap diam mengumpulkan energi nya. Dilihatnya HP nya yang masih tergeletak dimeja disamping ranjang mereka.


Malik bangkit untuk mandi dan mengambil air wudhu untuk Shalat Subuh.


"Bunda berangkat ya, Ayah," Kinanti melangkah menghampiri Malik yang ingin berjalan ke kamar mandi.


"Iya, hati-hati Bunda ya," Malik mencium kening istrinya itu. Kinanti memutar arah menuju keluar kamar dan memasuki kamar anak-anaknya yang masih tertidur. Tanpa membuat gerak gerik apapun, ia hanya mengintip dibalik pintu. Tidak mau membangunkan putri-putrinya yang masih dibalut mimpi.


*****


"Sayang, bangun," ajak Nadifa menarik selimut yang masih berada di tubuh Galih dengan lembut.


Galih hanya menangguk sambil tetap tidak membuka matanya. Nadifa memegang kening Galih, memastikan suaminya baik baik saja.


"Ayo bangun sayang," ajak Nadifha kembali.


Galih pun membuka mata, lalu menarik tubuh istrinya untuk berada disampingnya.

__ADS_1


Mereka saling berpagutan di pagi pagi buta. Galih terus menggenyam likak likuk kulit Nadifa, merayapi tangannya untuk hinggap di dalam dua pohon mahoni.


Nadifa sudah terjebak masuk kedalam pergulatan indah ini, ia memejamkan mata terus menikmati sensasi indah yang diberikan Galih. Galih sangat senang melihat ekspresi Nadifa, dan semua terjadi begitu cepat dan halus dan mereka pun klimaks bersama.


"Makasi ya sayang," ucap Galih mencium kening istrinya yang masih berada dibawah selimut karna tidak memakasi satu helai pun. Nadifha mengangguk letih.


Galih turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi disebelah pokok kiri.


Tinggalah Nadifa masih terengal-engal akan nafasnya karna baru berolahraga.


lalu ia bangkit memakai kembali dasternya, merapihkan tempat tidur mengembalikan bantal bantal yang terjatuh karna pergulatan mereka.


****


Gita yang sampai hari ini masih tidak enak badan, tetap menyelimuti dirinya dengan suasana hangat kamarnya. Hari ini ia tidak berangkat kerja, badanya masih belum vit.


Hati Gita sudah mulai enakan, emosinya kini sudah cukup stabil, diambil HP nya dan melihat ke galeri hp, ia temukan foto Galih yang sedang tersenyum.


"Aku rindu kamu sayang..." peluh nya pelan.

__ADS_1


"Harusnya dulu aku rebut kamu saja dari nya, tidak harus berpura pura menerima semua ini, aku yakin kamu pasti bisa mencintaiku," lirih Gita, tetapi kali ini ia kuat untuk tidak mengeluarkan air mata.


"Apa yang kamu harapkan dari Nadifa, istrimu itu saja belum bisa memberikan mu keturunan," gumamnya lagi.


Gita masih ingin terus mendapatkan hati Galih dan memilikinya, ia selalu membayangkan hidup bersama Galih dengan Anak - Anak mereka.


Gita kemudian bangkit dari ranjang dan bersiap siap diri untuk berangkat ke kantor. semangat menuju kantor adalah untuk bertemu Galih, meminta maaf.


"Ayo makan sayang," ajak Nadifa kepada Galih. Galih sudah rapih memakai Kemeja Navy dan dasi cream dilehernya. ia mendekat ke tubuh istrinya dan memeluk tangan istrinya yang sedang menyiapkan bihun goreng dipiring Galih.


"Kamu masih sayang kan sama aku," tanya suaminya. Nadifa yang masih sibuk menyiapkan makanan, lalu diam dan menoleh.


"Kenapa kok tiba tiba nanya gitu,"


"Enggak apa-apa kok," Galih tetap bermanja.


Nadifa diam lama, dan merasakan ada sesuatu hal yang tidak biasa dengan suaminya. ia pun mulai teringat akan perasaanya terhadap Malik. Perasaan salah itu yang cepat atau lambat tidak tau akan seperti apa akhirnya.


"Aku sayang kamu, selamanya,"jawab Nadifa meyakinkan dan mencium suaminya. lalu mereka sarapan berdua. Galih sangat menikmati masakan buatan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2