Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Malam petaka


__ADS_3

Demi rindu kalian..heheh. Aku balik lagi.


selamat baca ya🤗


***


Hari sudah tengah malam. Nadifa sudah setengah terlelap dalam tidurnya dan Gifali pun sudah nyenyak di box nya. Nadifa baru bisa tertidur setelah ia menggusarkan badannya kesana kemari untuk mencari kenyenyakan.


Hatinya memang cemas malam ini entah mengkhawatirkan hal apa, yang jelas malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Ia tidak lagi merasakan suara dengkuran tidur kepemilikan Galih.


Prakkk


Terdengar sebuah guci diruang tamu yang sedikit bergeser namun tidak menjulang jatuh ke permukaan lantai.


Langkah iringan pelan menyusuri setiap rumah. Ia berpakaian gelap dan topi menutupi rambutnya. Kedua matanya tidak melirik kemana-mana lagi, karna ia sudah tahu dirumah ini hanya ada satu wanita dan satu anak bayi.


Kepala nya terus didongakkan ke arah pintu kamar atas, berjalan sepelan rayap menaiki anak tangga.


"Tunggu..jangan dulu!" ada suara lelaki diseberang lain tengah mencengkram tubuh temannya untuk menghentikan langkah agar tidak beraksi dulu.


Terlihat dua lelaki itu terasa geram durjana melihati aksi lelaki yang tengah memindik-mindik menaiki anak tangga.


Lalu kemudian


Langkahnya terhenti karena mendengar ada suara tangisan bayi dibalik pintu kamar yang ingin ia tuju. Sontak membuat langkahnya gelagapan bukan main, ia cepat beringsut terjun untuk bersembunyi dibawah tangga ketika ia melihat pintu kamar terbuka sedikit memunculkan cahaya terang lampu dari dalam.


Nadifa melangkah menuruni anak tangga menuju dapur untuk membuat susu Gifali. Ia menuruni nya dengan setengah mengantuk dan cukup pelan.


Jag.


Langkah kaki terakhir dihentakan dilantai dasar, lelaki yang tengah bersembunyi langsung berlari cepat menyergap Nadifa dari belakang. Kedua mata nya langsung terbelalak, melebar dengan kuat ketika merasa ada yang menyingkap ceruk lehernya. Sontak membuat Nadifa berteriak dan meronta-ronta ketakutan. Ia merasa nyawanya kali ini akan habis tidak tersisa.


"Jangan berisik sayang.." suara lembut dan pelan berbisik tepat di telinga Nadifa.

__ADS_1


Membuat Nadifa mengerutkan keningnya, menatap tajam kedepan mencari tau suara siapa ini kah yang tidak asing di benaknya.


"Mas Fajar!" seru Nadifa setengah menoleh, tubuhnya tidak bisa bergerak banyak karna masih dikunci erat oleh sosok lelaki yang sudah ia sebutkan namanya.


"Kenapa sayang?rindu ya?" seringai Fajar diiringi gelak tawa yang menakutkan. Lelaki ini sudah gelap mata menjadi tidak bisa berfikir lagi dengan akal sehat nya.


"Brengsek, lelaki keparrat!" gumam laki-laki disebrang sana, dan lagi-lagi langkahnya dihentikan."Tunggu dulu!"


Kedua lelaki ini kembali terdiam dan melihati apa yang terjadi didepan kedua mata mereka.


Fajar yang seperti anak buaya tengah lapar, terus mendengusi nafasnya untuk mengesap aroma rambut Nadifa yang wangi. Ia terlihat begitu sangat mencintainya.


"Tolong Mas, lepaskan Difa. Jangan seperti ini!" Difa merintih dan mulai menangis.


"Pergi sama aku ya, terus nikah sama aku. Aku siap kok jadi ayah dari kandungan kamu!" ucap Fajar memelas, ia amat sangat memohon.


"Mas!" Nadifa meronta-ronta kembali namun ia tidak punya daya untuk melepaskan cengkraman dari lelaki itu.


"Aku akan buat kamu bahagia dari dua lelaki itu Dif, Malik dan Galih! mereka itu bejat, cuman bisa buat kamu menderita! mau yah, kamu hidup sama aku dan juga Naka, ya...sayang?" Fajar menghela nafasnya lagi menyusupi rambut Nadifa yang terurai indah.


Jag.


Perkataan terakhir membuat Fajar melepaskan tubuh Nadifa dan mendorongnya terjungkal ke sofa.


"Akhhh..." Nadifa merintih ketika perutnya terbentur dengan ujung sofa yang keras.


"...Itu jadinya kalau kamu nggak mau nurut sama aku Dif!" Fajar mengembangkan tawa diudara. Ia seperti tidak lebih dari serigala beringas dimalam hari.


"Ternyata kamu yang jahat ya Mas, kamu sengaja bersandiwara untuk membuat aku benci sama Mas Galih, kamu...Biyadab!" Nadifa berteriak sambil terus memegangi perutnya.


"Oh sayang.. kamu salah, yang harus kamu tau cuman aku yang mau sama wanita penggoda suami orang, kaya kamu sayang."


"Berani nya kamu, merendahkan aku seperti ini Mas!" Nadifa meraih asbak lalu melemparnya ke arah Fajar.

__ADS_1


Prang....


Pecah berhamburan ke lantai.


"DIAM----dasar wanita brengsek, berani nya kamu--!" Fajar mulai melangkah untuk menyergap Nadifa namun langkahnya tak sampai.


Dagg...


Tubuhnya tersungkur ke sisi lain, wajahnya mencium lantai dengan sempurna, lalu sebelum sempat ia mendongakkan wajahnya untuk mencari tau siapa yang berani melakukan ini kepadanya, ia terus habis dihujani pukulan demi pukulan, hantaman demi hantaman, membuat ia berdarah-darah tidak tersisa diarea wajah.


"Mas Galih?"


Nadifa berteriak histeris ketika melihat suaminya tengah asik secara brutal menghujani Fajar.


"Kamu nggak apa-apa Dif?"


"Pak Malik..kalian?"tanya Nadifa saling melemparkan pandangan ke arah Galih yang sedang menikam Fajar dan ke arah Malik yang kini tengah membantunya untuk membawanya jauh dari pertikaian dua lekaki yang ada dihadapan mereka.


"MATI LO SEKARANG--- dasar pebinor, banggsat, durrjana, bedebahh, laki-laki siaalan!" Galih terus memaki lelaki ini dengan umpatan yang terus mengalir dari mulutnya.


Fajar yang masih mempunyai sedikit kekuatan lalu membalas memukul Galih. Teman sesama SMP itu sekarang bergulat untuk menginginkan haknya mendapatkan Nadifa.


Hantaman terhenti ketika Fajar menyodorkan pistol didahi Galih. Sontak membuat semua mata terbelalak histeris, ditengah malam kini mereka sedang dihujam jantungnya dengan peristiwa yang tidak akan sama sekali terlupakan.


"Mundur Lih! lo jangan macem-macem!" Fajar terus mengarahkan pistolnya kesembarang arah dan terakhir ia pusatkan ke arah Nadifa.


"Kalau memang gue nggak bisa milikin dia, kalian semua juga nggak boleh! lebih baik Nadifa mati, biar kita semua nggak ada yang menang atau kalah!"


Seringai Fajar membeludak disisi ruangan, kepala pistol sudah ditujukan tepat dibagian jantung Nadifa, jari telunjuknya sudah mulai menekan platuk pistol, ia terus menajamkan matanya ke arah Nadifa.


Nadifa hanya bisa mengerang, memohon ampun agar Fajar tidak membunuhnya.


***

__ADS_1


Haii kesayangan liat chat kalian digrup buat aku semangat banget💕💕💋


Like VoTe Rate dan Komen yaa❤️


__ADS_2