Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Sudah letih


__ADS_3

Galih terus memegangi kedua tangan Nadifa, mereka masih bergeliat diatas ranjang yang setiap hari menjadi saksi dekapan, pelukan dan kehangatan yang selalu mereka lakukan.


Nadifa lelah dalam tangisannya, ia tidak mampu berkata-kata lagi, ia hanya bisa diam melihati dirinya yang sudah terinjak tidak ada harga diri.


Apalagi guna dirinya sebagai istri, jika suami nya telah membagi benih dengan wanita lain.


Nadifa diam mematung, air mata terus turun tidak mau surut, Galih terus menyeka air mata itu dengan kedua tangannya.


Mungkin sebentar lagi Nadifa akan gila !


Nadifa terus membayangkan Galih membagi tubuhnya dengan Gita.


Nadifa meraung lagi, menangis lagi dan memaki lagi, bagaimanapun Galih menenangkan dan menjelaskan duduk perkaranya, Nadifa tetap belum bisa mencerna maksimal karena masih dilanda emosi teramat berat.


"Sampai saat ini, dihatiku cuman ada istriku yaitu Kamu! demi tuhan.." Galih tidak sanggup melanjutkan suaranya..karena sudah serak menahan tangis.


Nadifa kembali diam mematung lagi.


"Aku enggak ngerti, gimana bisa aku ngelakuin ini sama Gita, demi Tuhan..aku enggak pernah cinta sama dia!"


Nadifa hanya diam tetapi sudah tidak menangis, ia mengubah wajahnya menjadi lebih kencang menguatkan kedua rahangnya untuk menahan rasa sakit di malam ini.


"Uhhhh!" Nadifa merintih sakit, ia diingatkan oleh tubuhnya jika ada luka bekas sayatan silet yang sudah dibalut didalam perban.

__ADS_1


Galih dengan amat lembut dan sayang, meraih tangan itu dan mengusap nya.


Galih mencium pipi kanan istrinya terus menerus, Nadifa kembali diam dengan terus berdoa untuk dibangunkan dari mimpi buruk ini..


Galih mengelap wajah Nadifa yang basah dengan tisue, mengambil sisir yang masih tersungkir jatuh dilantai.


Menyisiri rambut Nadifa dengan amat pelan masih terus diringi kepedihan hati teramat sesak.


Ia tidak pernah melakukan hal seromantis ini, tidak pernah menyisiri rambut istrinya selama menikah, namun mengecamnya kenapa harus dengan kejadian seperti ini dulu.


Galih mengusap-usap punggung istrinya, memijit pelan pundak Nadifa.


Mengerang, mencaci maki dirinya sendiri.


"Aku ingin tidur, Mas!" rintih Nadifa.


"Ayo, tidurlah sayang," Galih menyiapkan bantal kembali dengan rapih kemudian membaringkan tubuh Nadifa yang bersiap tidur.


Nadifa memejamkan matanya, melupakan rasa haus dan lapar yang telah melanda dirinya.


Galih kembali tidur disebelahnya, terus menjaga dan membelai- belai rambut istrinya yang habis meronta-ronta bagai sapuan Tsunami.


Galih mendekap tubuh Nadifa didalam pelukannya, menciumi wajah istrinya tanpa henti, dia sedang membayangkan jika wanita ini lari dari hidupnya.

__ADS_1


Sungguh untuk mendapatkan Nadifa dulu tidaklah mudah, ia harus menghadapi banyak lelaki yang saling berebut untuk mendapatkan hatinya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya bisa bertahan hidup tanpa sang istri.


"Aku haus," Nadifa bersuara pelan.


Galih mencium kembali wajah istrinya dan bangkit menuju dapur serta kembali membawa segelas air dan membantu Nadifa untuk menenggaknya.


"Maafkan aku sayang," Galih membisiki telinga Nadifa yang sudah melanjutkan kembali tidurnya.


Kring..kring..!!


Dering HP Galih berbunyi, ia merogoh kantong untuk melihat HP nya..


Gita incamingg call


"Dasar brengsek!" Galih mengumpat dalam hati, ketika melihat Gita yang menelpon dirinya.


HP pun terus berbunyi tanpa putus, tetapi Nadifa sudah tidak bangun lagi..ia sangat lelah dan mengantuk


Prakkk !!


HP dilempar ke lantai lalu mati total, itu bentuk pemberontakan dirinya dari Gita.

__ADS_1


"Setelah kamu melahirkan, aku pastikan kita akan bercerai, Gita !" kata Galih dalam hatinya, ia terus mendekap istrinya yang sangat berharga itu.


__ADS_2