
Haii Guyss, kembali lagi nih...met baca yaa kaleannnn 🤗🤗
Sehari semalam gundah gulana sungguh menyiksa batinnya itulah yang terjadi pada Malik saat ini.
Ia mencoba datang lebih pagi ke kantor, karena sengaja untuk bertemu langsung dengan kekasih nya.
Langkahnya cepat, ia mengira pasti Nadifa sudah datang lebih pagi,dibandingkan karyawan lainnya seperti biasa.
Zonkkkkkk...!!
Kedua matanya hampa, melihat meja Nadifa yang masih kosong melompong, terasa tubuh nya lemas tidak ada gairah seketika.
Diayunkan kembali kaki menuju ruangan kerjanya, lalu ia mengeluarkan sekotak susu kemasan yang diletakan dimeja Nadifa, Susu rasa strawberry kesukaan wanitanya.
Ia terus menahan cemas dan gelisah, ia takut Nadifa betul-betul dengan keputusannya itu
Keputusan yang asal dicetuskan, layaknya seperti kode membenarkan kejadian ini.
Tok..Tok..!!
Suara ketukan terdengar dipintu ruangannya, Malik mengangkat wajahnya ingin tahu siapa disana.
Dania menggeser pintu dan masuk kedalam.
"Maaf Pak, saya dititipi surat sakit nya Nadifa," Dania meletakan SKD ( Surat Keterangan Dokter) di meja kerja Malik.
__ADS_1
Malik diam sebentar, melihat surat itu lekat-lekat, kemudian mengambil dan membuka amplop yang berisi nama dan keterangan akan sakit nya.
"Nadifa kerumah kamu?"
"Suaminya yang mengantarkan kepada Niah, Pak,"
Dania berdalih, ia faham wajah gelisah yang mulai terlihat tanpa bisa ditutupi oleh Malik.
Malik terus menatapi apa yang dilihat dan dipegangnya kini.
"Baiklah, semoga lekas sembuh!" Malik memasukan kembali SKD itu kedalam amplopnya.
"Baik Pak, Niah kembali,"
Malik mengangguk biasa.
Dania faham sekali apa yang ia lihat.
Malik meraih HP nya dan mencari kontak Nadifa dengan cepat, ia tidak bisa bersabar untuk hari ini.
Ia tidak perduli apakah suaminya yang akan mengangkat telepon itu atau tidak, yang jelas saat ini ia sangat cemas, ingin melegakan hatinya dengan mendengar suara Nadifa.
Tuttt.......Sambungan telepon yang terputus karena tidak diangkat, Malik sudah mencoba menelpon nya lebih dari 8x.
Direbahkan tubuhnya menyender di kursi kerjanya, menghembuskan nafas berkali-kali ke udara.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, selain hanya bisa menunggu dengan pasrah.
****
Air mata Nadifa masih tidak mau berhenti, malah semakin deras, terus berpeluh sambil mengucap Asma Allah dalam Dzikirnya, ia bersimpuh dalam gelaran sajadah di waktu Duha kini.
Ia terus memejamkan mata, sedikit membuka bibirnya, berseru pelan sambil diiringi gerakan tangan melintir satu-persatu bulir tasbih.
Setengah jam kemudian, ia melepaskan mukena itu dan melipat kembali semuanya.
Lalu ia duduk disandaran tempat tidur dikamar tamu rumah Dania.
Ia menyilakan kaki dan menaruh bantal disana, ia merenung dan berfikir.
Mata dan hidung masih terlihat bengkak dan memerah, karena air mata yang sendu selalu datang dalam hitungan menit.
Kepala nya masih berat, tetapi ia tidak bisa beralih untuk memikirkannnya.
Kamar itu sangat hening, hanya terdengar detakan jarum jam yang terus bergulir, ia terus menatap perih.
"**Aku yang jahat !"
"Mungkin ini adalah teguran dari Allah untukku!"
"Aku istri yang tidak bisa menjaga kepercayaan suamiku!"
__ADS_1
"Aku istri yang selalu sibuk memikirkan suami orang lain!"
"Galih pasti akan bersikap sama seperti aku, jika ia mengetahui perbuatan ku dibelakangnya**!"