Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Rintihan dua istri.


__ADS_3

Terdengar suara dentuman sendok dan garpu yang begitu keras ditampiaskan ke piring Galih, terus makan dengan wajah dingin ke arah Gita. Nadifa mengetahui hal itu, ia pun bertanya-tanya mengapa sikap suaminya seperti sedang menahan amarah.


Gita tidak memperdulikan itu, ia tetap makan dengan lahapnya karna masakan Nadifa sangat menggoda lidah dan perutnya.


"Oh iya besok malam ada acara pernikahan kakak sepupu ku, bisa kan kalian ikut," Gita membuka suara memecah keheningan.


"Iya Mba..," Suara Nadifa terhenti karna terselak oleh Galih."Pergi saja sendiri, toh kamu masih punya kaki untuk berjalan!" Galih kembali memasukan sendok ke mulutnya.


"Jangan gitu Mas, keluarga Mba Gita juga keluarga kita, besok malam jam berapa Mba?"


Gita tetap meyampingkan rasa kesal dan sedihnya, mengingat pipi nya masih panas bekas tamparan Galih ditambah dengan perkataan menyakitkan barusan.


"Besok jam 7 malam, bisa ya Dif," Gita memelas penuh harap.


"Iya Mba, bisa." Nadifa memutuskan langsung ia tau Galih pasti akan menurut.


Galih hanya diam tidak memperdulikan Gita akan kemauannya itu. Mereka kembali menikmati makan malam mereka sampai habis.


Selesai makan malam, Galih langsung bangkit menuju kamar tamu tempat dimana Nadifa akan tidur. Ia akan bergerak cepat malam ini karna tidak mau dikuncikan lagi oleh Nadifa, Galih tetap hanya ingin berdua dikamar bersama Istri pertama nya itu, entah perasaannya ke Gita masih di rasuki rasa benci dan sakit hati. Padahal mengingat dulu Galih amat perduli dengan Gita selama mereka masih menyandang status sahabat sejati.

__ADS_1


Nadifa tidak bisa memaksa hal yang dimaui oleh Galih, mengingat Galih butuh proses dan waktu untuk mau menerima Gita, mungkin saat anak mereka lahir.


"Bersabarlah Mba, Mas Galih butuh proses untuk hubungan kalian," Nadifa menggenggam tangan Gita dengan lembut, ia tidak mau Gita menjadi stress dan mengganggu kesehatan janin yang sedang di kandung.


"Kenapa kamu begitu baik sama aku? padahal aku udah jahat banget sama kamu, Dif !"


Gita menangis sejadi-jadinya, ia memeluk Nadifa begitu kuat, Nadifa pun menangis dalam pelukan itu.


"Aku hanya tidak ingin suamiku menanggung dosa seumur hidup karna melalaikanmu dan anak kalian, nasi sudah jadi bubur Mba, tidak akan bisa tanak lagi,"


Mendengar jawaban Nadifa, hati Gita begitu pilu dan hancur, ia terus memeluk erat dalam erangan kesedihannya, terus mengingat kesengajaan yang telah ia buat untuk merusak rumah tangga mereka.


****


Galih melepaskan pelukannya dari Nadifa, Ia bangun lebih dulu. Ia fikir pagi ini masih subuh nyatanya sudah jam 6.30 pagi.


Terlihat Nadifa masih bergelut dalam selimut tidak biasanya dia bangun lebih akhir dibanding Galih.


"Sayang, bangun," Galih memegang tubuh istrinya itu.

__ADS_1


"Badan kamu panas sekali, kamu sakit sayang?"Galih memegang dahi, pipi dan leher Nadifa, dan semua itu memuncarkan rasa panas sampai ke ubun-ubunnya.


Galih pun bangkit berjalan menuju dapur untuk mengambil baskom berisi air hangat. Tidak biasanya Gita sudah rapih dan sedang menyiapkan sarapan pagi.


"Kamu sudah bangun Lih, Nadifa mana?"


"Tolong Git ambilkan aku air hangat dan handuk bersih, Nadifa sakit badannya panas,"


Gita pun langsung bangkit untuk menyiapkannya, ia pun berjalan menyusuli Nadifa dikamar.


"Ayo minum obat dulu sayang," Galih menyuapi obat ke mulut Nadifa. Gita mencelupkan handuk kedalam air hangat dan memerasnya.


"Tidak usah masuk kerja ya, aku akan bawa kamu ke dokter,"


Nadifa menggeleng tanda tidak mau,"Cuman demam biasa Mas, nanti juga turun. Aku harus masuk kantor, masih ada rapat yang harus aku ikuti,"


"Tapi badanmu panas sekali, kamu juga pucat Dif," ujar Gita menimpali.


Sepertinya rayuan mereka tidak mempan untuk menyuruh Nadifa tetap tinggal dirumah. Nadifa tetap dengan keputusannya untuk tetap masuk kerja di hari ini.

__ADS_1


__ADS_2