
Kini pagi hari adalah keadaan yang sangat disukai oleh dua pasangan yang dilanda asmara ini yaitu Malik dan Nadifa, mereka dapat bertemu kembali melepas rindu dan mencuatkan perhatian satu sama lain. Mereka tidak lebih seperti ABG jatuh cinta pada umumnya.
"Hati-hati ya nak, belajar yang baik jangan nakal ," Ucap Malik kepada Aisyah sambil mencium pipi putri sulungnya itu dan Kinanti pun melakukan hal yang sama.
"Dihabiskan bekalnya ya sayang," Kinanti menambahkan pesan Malik.
"Iya Ayah, bunda, Aisyah pamit masuk ya ," Aisyah mencium tangan Ayah dan Bundanya yang telah berdiri didekat gerbang sekolah. Mereka terus melihati Aisyah yang sedang berjalan menuju ruang kelasnya.
"Tidak terasa ya Bun, anak kita sudah besar dan tumbuh cantik seperti kamu," Malik memuji Aisyah dan Kinanti.
"Apa mau punya anak lagi, lelaki. Biar ganteng kaya ayahnya," Kinanti dan Malik pun tertawa.
"Baiklah ayo kita berangkat lagi," Ajak Malik kepada Kinanti dan mereka pun masuk kembali kedalam mobil untuk pergi ke kantor.
Hari ini Malik tinggal mengantarkan Kinanti untuk ke redaksi TV, Malik yang gagah berbalut kemeja biru navy dengan dasi warna senada membuat ia begitu berkarisma. Kinanti pun sama, ia berbusana cukup cantik hari ini dengan stelan rok jas berwarna cream, rambut panjang bergelombang menghiasi indah wajahnya.
__ADS_1
"Cintah ayah ke bunda tuh masih besar kan yah ?" tanya Kinanti memeluk dada Malik bertengger di bawah lengan.
Malik yang sedang fokus mengemudi pun terbelalak mendengar hal itu.
" Masih sayang...sangat besar ," Malik menelan ludahnya sampe ke kerongkongan berdalih menipu Kinanti dengan handal.
" Makasi sudah jagain bunda dan anak-anak, semoga pernikahan kita selalu abadi, aamiin ,"
"Aamiin," jawab Malik serius dan tidak terasa kini mobilnya sudah sampai perkarangan redaksi TV.
"Aku kerja dulu ya sayang, kamu hati-hati dijalan," Kinanti turun dari mobil dan melambaikan tangan, ia pun kembali berjalan masuk kedalam kantornya.
Malik pun mengemudikan mobilnya dengan cepat, karena hari ini ada rapat penting sekaligus ia rindu akan pujaan hatinya.
Hati Malik selalu membara jika stimulus pemkirannya memberi signal tentang nama Nadifa, ia haus seperti menahan dahaga seharian dan ingin mencari minuman segar mungkin ibarat seperti itu sosok Nadifa di mata nya.
__ADS_1
Nadifa yang kini telah sampai dikantor terlebih dahulu dari pada Malik, Dania dan pegawai kantor yang lain. Di meja kerjanya ia mengeluarkan tempat bekal berwana kuning yang didalamnya berisi pancake srikaya bersaus cokelat dan keju yang ia buat tadi pagi untuk sarapan Galih.
Dibawanya makanan itu ke dalam ruangan Malik dengan langkah cepat karena belum ada karyawan-karyawan yang sampai.
Diletakan bekal tersebut didepan komputer lalu ia mengisi gelas Malik dengan air putih sampai penuh, dikira nya sudah cukup ia pun berbalik badan dan langsung histeris dengan teriakan kecil, kaget melihat sosok orang tepat dimatanya ia lah Malik yang sudah datang.
"Ya allah ..kamu tuh ngagetin aja, kenapa tidak beri salam ," Nadifa mengelus dadanya yang bergemuruh kencang karena kaget.
Malik pun tersenyum lalu melangkah kan kaki untuk mendekat Nadifa dan ummmmmm....!! ia menyumpat bibir mungil itu dan kecupan itu pun terbalas, dibukanya bibir Nadifa dan terus merasuki hingga penuh.
aaasssshhh.... !! rintihan kecil timbul dari arah dua-duanya, mereka terpagut cinta dalam keheningan kantor seperti ini, Nadifa pun tersadar dan mendorong wajahnya kebelakang melepaskan persatuan tersebut.
"Ah..kamuu, nanti kalau ada yang sudah datang, kita bisa mati ," Nadifa mengambil tissu untuk mengelap bibirnya yang sudah polos tidak terlihat warna lipstik ya lagi.

__ADS_1