
Aku balik lagi nih, pas buka aplikasi liat deh komenan kalian..Makasi yah antusias kalian, Keep reading kesayangan❤️🖤
"Difa, kamu enggak apa-apa?" Malik memegangi kedua lengan Nadifa dengan khawatir.
"Iya Pak, kenapa memang?" jawab Nadifa santai terus melihati wajah Malik yang begitu khawatir dan mencemaskan dirinya.
Kemudian Malik memberi isyarat agar pandangannya diikuti oleh kedua mata Nadifa ke arah kaki wanita ini.
"Masya Allah, Pak. Ada darah!" Nadifa terbelalak melihat kedua kakinya di penuhi dengan cairan darah yang sudah menetes dan jatuh membuat pulau dilantai walau tidak terlalu banyak.
Lalu Malik dengan sekejap turun kebawah, berjongkok untuk mengelapi darah yang mengalir dengan sarung tangannya.
"Pak, jangan nanti sarung tangannya kotor,"
Malik tidak menggubrisnya, ia terus mengelapi cairan yang tumpah ruah disekitar betis bawah diatas sampai ke telapak kaki. Hatinya cemas, jantungnya bergemuruh. Ada apa dengan mantan kekasih hati nya ini.
"Kita kerumah sakit ya, saya khawatir sama kamu," Malik mencoba merangkul Nadifa tetapi langkah wanita itu tertahan.
"Pak kan lagi ada rapat?"
"Bisa-bisanya disaat kaya gini, kamu masih mikirin rapat, ayo cepat kita ke UGD. Mau di papah atau mau digendong?"
"Jalan sendiri aja, Difa bisa,"
"Ya, ayo!" Malik memutuskan untuk tidak memapah atau menggendong melainkan membawanya cepat dengan genggaman erat yang tidak mau ia lepaskan.
__ADS_1
Nadifa merasa kini dadanya kembali berdetak kencang, bukan semata-mata karna alasan cairan darah yang mengalir, melainkan karna genggaman tangan Malik yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah ia rasakan lagi. Ia terus menatapi wajah Malik dari samping ekor matanya. lelaki itu begitu dirasuki rasa khawatir, terus melangkah cepat membawa dirinya pergi dari sana.
"Ayo yang cepat jalannya," kata-kata yang tersisip disela-sela langkah mereka.
***
Huwe..Huwe..Huwe
Suara rintihan Nadifa ketika sedang mual dan muntah. Malik dengan setia memegangi kantong plastik yang menjadi tempat pembuangan muntah untuk Nadifa. Nadifa sudah berada di ranjang pasien dan Malik terus berdiri disampingnya. Mereka berdua sedang menunggu Dokter untuk memeriksa.
Tidak lama kemudian.
"Apakah ibu sedang hamil ?" tanya seorang Dokter jaga mulai memeriksa.
"Bisa saja ibu sedang hamil, tapi hormon HCG nya rendah jadi belum sepenuhnya muncul dalam urine, sehingga belum bisa terdektesi dengan alat itu atau juga menggunakan tespack di waktu yang tidak begitu mendukung, saya sarankan untuk ke poli kandungan. Biar di USG, mumpung lagi ditemani sama suaminya," Dokter memberi senyum ke arah Malik. Malik pun menangkap itu dengan baik, berbeda dengan Nadifa yang merasa tidak enak kepada lelaki itu.
"Apakah harus sekarang dok?" sambung Malik.
"Saya sarankan secepatnya, dengan adanya pendarahan seperti ini, pasti ada yang tidak beres. Maaf jika memang tidak hamil mungkin bisa saja ada penyakit yang lain, maka dengan USG semua akan dapat diketahui."
"Penyakit lain bagaimana Dok?" tanya Nadifa memelas, terlihat beberapa kerutan dikeningnya.
"Bisa saja seperti kista atau tumor, tapi saya tidak bisa menafsirkan lebih dalam, ini hanyalah perkiraan saja jika tidak ada opsi selain hamil. Karena yang dapat menjelaskan hanya Dokter kandungan nanti."
Nadifa dan Malik tercengang. Wanita itu seketika diam, ketika mendengar opsi lain dari selain kata hamil. Masalah apa lagi ini, sepertinya tidak jera mengikat Nadifa terus-terusan. Mengingat baru saja ia merasakan kebahagiaan menjadi serang ibu, walau hanya sebagai ibu sambung untuk Gifali.
__ADS_1
"Baik dok," Malik memutuskan cepat.
"Baik saya permisi," Dokter pun berlalu meninggalkan mereka.
"Pak?" Nadifa hanya bisa memanggil Malik dengan pelan. Wajahnya sayu dan merunduk.
"Difa yang sabar, kita harus tetap positif,"
Wajah Nadifa mengerut, matanya mendung terlihat air bening mulai menggenangi kelopak matanya, dengan ragu-ragu Malik merangkul Nadifa untuk menguatkan hati wanita ini, yang sedang dirundung lara. Merasakan sentuhan itu, Nadifa pun menangis dengan tumpah ruah. Ia menangis sejadi-jadinya. Malik terus menguatkan hati Nadifa sekuat mungkin.
Setelah mendapat arahan dari dokter jaga. Akhirnya Nadifa mau dibujuk untuk memeriksakan kondisinya ke Dokter spesialis kandungan saat ini juga. Malik terus mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh Nadifa. Dengan membawa surat rujukan dari UGD, akhirnya mereka sampai didepan poli kandungan yang setengah jam lagi akan dibuka.
"Sebentar ya Dif," Malik ijin pamit pergi keluar sebentar. Nadifa pun baru teringat dengan Galih, ia lupa mengabarinya. Bergegas mencari HP, namun sialnya. Ia baru teringat jika sesaat datang kemari tidak membawa apa-apa.
Nadifa kembali menggerakan kedua bola matanya ke arah ibu-ibu yang sedang mengelus-ngelus perut hamil mereka. Tersembul wajah bahagia bertahta disana. Berbeda dengan Nadifa yang masih terlihat pedih dan hancur. Ia tidak berani membayangkan apapun tentang dirinya saat ini.
Diluar
"Ya sekarang, di Poli Kandungan RS Merpati."
Perbincangan Malik dengan seseorang di sambungan telepon. Setelah menutup teleponnya, ia menghela nafasnya berkali-kali terus berfikir apakah akan ada berita baik atau buruk.
"Kenapa sama kamu Difa?" batin Malik menyeruak, ia pun kembali bergegas untuk menemani Nadifa.
Like nya ya guyss...hatur nuhun🖤🖤
__ADS_1