
**Assalammualaikum Guyss..
Makasi banget atas semua coment yang masuk ya, aku suka banget liat emosi kalian yang memuncah karna baca cerita ini
walau berfikir dan mengetik membuat aku letih dan capek tapi karena ngeliat antusias kalian..aku selalu mau nerusin semua yang ada dikepala aku..makasi buat kalian🖤🖤
Mett baca kalean🤗**
19:00 Wib.
Nadifa telah sampai di perkarangan rumah, ia baru pulang dari rumah Dania untuk menenangkan diri nya.
Terlihat Galih masih di meja makan bersama Gita, Gita mulai melayani Galih seperti layaknya istri sungguhan.
Tentu pemandangan ini tambah menyakiti psikis Nadifa.
"Sayang, ayo kita makan dulu," Ajak Galih melihati istrinya yang terus berjalan lurus masuk kedalam kamar tamu tanpa menoleh ke arah mereka berdua diruang makan.
"Nadifa, ayo kita makan," Gita pun bergantian menyapa.
__ADS_1
Galih pun bangkit dari kursi untuk mengejar istrinya, namun ia kalah cepat karna pintu kamar langsung terkunci rapat.
Nadifa terpaksa seperti ini, karna menyembunyikan wajahnya yang begitu sembab karna menangis berjam-jam.
Tokk..tok.. Galih mengetuk pintu berulang kali.
"Sayang, ada apa? buka pintunya, aku suapi kamu makan ya," Galih merayu. Dia khawatir dengan sikap Nadifa yang tidak pernah seperti ini.
Gita masih tetap di meja makan terus melihati Galih merayu Nadifa agar mau membuka pintu.
"Sayang, kenapa ? kamu sakit ?" Galih bertanya terus. Mendengar Galih yang tidak mau berhenti membuat Nadifa semakin pusing tidak karuan.
"Buka dulu pintunya, aku kangen mau liat kamu," Galih mencoba merayu lagi.
Galih merasa Nadifa cemburu dengan apa yang barusan dilihatnya di meja makan. Padahal jika bukan karna perut yang terus berbunyi, dia tidak akan mau makan semeja berdua dengan Gita.
"Aku lupa dia enggak sekuat ini, kamu bukan karang dilautan yang tetap kokoh walau diterpa ombak," Galih merintih ikut bersedih merasakan kehancuran istrinya itu.
Galih terus berdiri didepan pintu, mengetuk-ngetuk sudah, merayu dan memanggil istrinya telah dilakukan, saat ini sudah 1 jam berlalu, Nadifa tidak kunjung keluar. Galih tetap menunggu didepan pintu sesekali mengetuk dan bersua lagi.
__ADS_1
"Bereskan saja piring-piring ini, makanannya biar saja ditutup ditudung saji, aku belum mau makan," perintah Galih kepada Gita.
"Tapi Lih, nanti kamu sakit kalau telat makan,"
"Istriku sedang enggak mau makan, aku pun jadi kurang berselera, kamu tidur saja duluan. Aku akan tetap disini menunggu istriku keluar dari kamar,"
Gita hanya diam sedih, apa yang sudah ia siapkan tidak ada artinya dimata Galih, tetap saja posisinya selalu diambil oleh Nadifa.
Istriku...istriku dan istriku...
Telinga Gita sangat terasa panas jika Galih selalu menyebut Nadifa dengan panggilan seperti itu, mengingat Gita saat ini juga sudah menjadi istrinya.
Nadifa sudah meletakan tubuhnya ditempat tidur, melepas semua penat dan letih seharian, matanya tetap terbuka menatap sudut kamar ini.
Fikirannya terus berpusat memikirkan Malik, ia rindu akan dirinya. Ia rindu dikirimi puisi malam pengantar tidur.
"Kini, kita teramat asing untuk diri kita masing-masing," Nadifa lirih, air matanya turun lagi dengan pelan-pelan.
Nadifa meraih HP dan membuka folder galeri, dicarinya foto 7 bulan lalu yaitu foto Malik sedang memakan roti bakar yang ia ambil secara diam-diam.
__ADS_1
"Hapuslah aku dari ingatan Malik Ya Allah, biar dia enggak merasakan sesak seperti yang kini aku rasain, maafkan lah segala perbuatan kami berdua, dan semoga hati istrinya di lembutkan untuk menerima Malik kembali dengan baik, Aamiin!"