Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Sangat berdosa


__ADS_3

I'm Come back again...happy reading people.💙💙🖤❤️


***


"Mba Dania!" Ujar Nadifa, merasa senang ketika melihat Dania menyusul dirinya ke Rumah Sakit.


"Enggak apa-apa ya aku kesini, tadi aku khawatir sama Nadifa," jawab Dania sambil mengarahkan mata bergantian dari Nadifa lalu ke arah Galih.


Dania takut Difa akan dilukai oleh Galih!


Mereka berdua memberikan senyum terbuka," Kan ada saya, Mba. Saya akan selalu jagain Difa," Galih menjawab mantap.


Dania hanya tersenyum mendengarnya,"Kamu kenapa kok pucat, Dif?"


"Tadi abis donor darah Mba buat istrinya Mas Galih," jawab Nadifa apa adanya.


Terlihat raut wajah Dania seperti tidak suka akan hal itu."Oh ya Mba, kesini sama siapa..." tiba-tiba pertanyaannya terputus ketika ada perawat yang menghampiri sambil membawa kursi roda untuk Nadifa, karna sebelumnya Galih meminta kepada mereka untuk mencarikan Kursi Roda.


"Ayo kita ke Mba Gita, Mas," pinta Nadifa. Lalu Galih menggendong Difa untuk menduduki kursi roda. "Biar saya aja Sus, yang dorong," Galih mengambil alih untuk itu."Baik, permisi!" Perawat pun berlalu meninggalkan mereka.


Ada Kinanti dan Malik yang sudah ada dikamar perawatan melihat kondisi Gita. Wanita hamil itu kini terbaring lemah, begitu pucat pasi, matanya terus berair karna menangis menahan tubuh yang begitu lemas tidak tertahan, bibirnya mengering seperti orang yang dehidrasi, ada selang oksigen yang bertahta di kedua lubang hidungnya.


Ia terus mengelus-elus perut nya yang sudah membesar, dadanya terus bergerak naik turun karna menahan sesak. Sungguh miris melihat keadaan Gita saat ini.

__ADS_1


Ia tidak bisa bicara, hanya diam sambil terus memegangi tangan Kinanti. Malik yang hadir pun turut memberikan support dan semangat untuknya.


Terlihat ada kantong darah yang menggantung ditiang sejajar dengan botol infusan mengalir tepat memasuki kulit tangan Gita. Kini Darah Nadifa sudah mengalir ditubuh Gita dan anaknya.


Beberapa lama kemudian, masuklah Galih yang sedang mendorong Nadifa dikursi roda bersama Dania kedalam ruang perawatan.


Mereka yang ada didalam ruangan bersamaan menoleh kearah Nadifa. Gita terlihat terus menangisi dirinya berderai air mata, ia begitu kaget melihat keberadaan Nadifa saat ini.


"Assalammualaikum Mba!" ucap Nadifa mendekat ke tepi tempat tidur. Nadifa memegang tangan Gita dengan lembut.


"Waalaikumsalla Dif, akhirnya kamu datang," jawab Gita pelan."Kamu sakit Dif? kenapa memakai kursi roda ?" tanya Gita lagi.


"Difa masih lemah, karna habis mendonorkan darah itu untukmu," Galih menunjuk kantong darah yang mengantung ditiang infusan sedang mengalirkan darah melalui selang kedalam tubuhnya.


"Hah? apa Lih?" Gita kaget bukan main. Ia tidak mengetahui jika Nadifa akan bersedia untuk mendonorkan darah untuknya.


"Ini kah wanita yang telah ku hancurkan hidupnya? ku rebut suaminya? sungguh aku sangat berdosa!" batin Gita meronta, ia terus menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Nadifa.


Kinanti terus melihati Nadifa, ia iri dan kagum akan kebaikan wanita itu, pantas saja semua lelaki diruangan ini begitu mencintainya. Bahkan ia mau menyumbangkan apa yang ada didalam raganya untuk orang yang sudah menyakiti jiwa dan merusak hidupnya.


Nadifa pun mengetahui tatapan itu, ia memberikan senyuman tipis tapi agu-ragu, ia takut akan kecewa jika melihat respon Kinanti yang masih tidak suka dengannya, namun semua kecemasan itu hilang ketika Kinanti mulai memberikan senyuman terbuka untuk Nadifa.


Dada Malik serasa lega melihat mereka seperti ini, ia berjanji akan selalu membuang jauh-jauh perasaan yang pernah ada untuk Nadifa.

__ADS_1


"Dif?!" panggil Gita membangunkan lamunan Nadifa." Iya Mba,"


Gita mengulurkan tangan kiri untuk meraih tangan Nadifa."Lih?!" Ia menatap dan mengulurkan tangan kanan untuk meraih tangan Galih. Gita mempertemukan tangan mereka untuk saling menggenggam."Berjanjilah kalian, untuk selalu bersama-sama. Jangan pisah lagi, maafkan aku yang sudah menjadi duri di istana kalian," ucap Gita terbata-bata.


Kinanti yang melihat itu, sontak mengalirkan air mata. Ia merasa ikut bersalah atas kesalahan yang telah dilakukan oleh adik sepupunya itu. Terus mengelus-elus bahu Gita untuk berhenti menangis.


Galih terus menatap Nadifa ingin mengetahui reaksi dari istrinya itu, tetapi Nadifa tetap hanya diam tidak bisa menjawab. Hatinya seperti masih berat akan keadaan yang sudah menghimpit dirinya.


"Seperti yang pernah ku bilang, Nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan bisa tanak kembali Mba, jadikanlah semua ini pembelajaran dengan harga yang sangat mahal," ucap Nadifa dengan lembut.


Gita kembali terdiam menatapi atap langit ruangan kamarnya tanpa bisa berkata-kata apapun lagi, air matanya terus mengucur.


1 jam berlalu, dirasa sudah puas menjenguk Gita, Nadifa pun pamit untuk pulang.


Galih terus mendorong kursi roda itu meninggalkan kamar perawatan."Pulang kerumah bersama ku ya sayang," pinta Galih sambil menghentikan dorongan itu lalu berjongkok disamping kursi roda Nadifa.


Nadifa menggeleng dengan senyum," Enggak Mas, aku mau pulang sama Mba Dania aja, kamu juga kan harus temani Mba gita disini!" Nadifa mengelus lembut bahu suaminya.


"Biar kami aja yang antar Nadifa sama Dania pulang Lih, kamu disini sama Gita," ucap Kinanti menawarkan diri, Malik pun mengangguk tanda setuju.


Obrolan mereka pun terhenti ketika melihati sosok Fajar yang mulai mendekat menghampiri mereka.


"Fajar? mau apa anak itu!" batin Malik menggema.

__ADS_1


***


Like dan Koment ya Guyss..ku tunggu 🖤🖤


__ADS_2