
Hayy kesayangan, aku kembali❤️❤️
yuk mari baca guyss
🤗🤗
***
Bruggg.
Terlihat Nadifa begitu saja tersungkur kelantai, masih didalam kursi rodanya. Melihat Nadifa mengerang sontak membuat Galih kaget dan meraih tubuhnya.
"Sayang..!" seru Galih amat kencang.
Alea pun dengan cepat menarik lengan Fajar yang ingin ikut meraih tubuh Nadifa.
"Jangan, Mas!"
"Ahh, minggir..!" Fajar tanpa sengaja menepis tangan Alea yang sedang menhadanganya, ia pun terjatuh ke lantai. Mengeluh sakit pada perutnya.
"Mas?" keluh Nadifa dengan penuh iba.
"Ayo, sayang bangun." Galih merangkul tubuh istrinya.
Lalu
Plashhh.
Tangan Fajar seketika mengembang ke udara. Galih menepisnya ketika melihat Fajar mau menolong sang istri.
"Jangan sentuh istri gue! urus aja istri lo yang kurang ajar itu!" tatapan Galih garang melihati Fajar dan Alea berbarengan.
"Gue bisa pecat istri lo! suami istri brengsek semua!" Galih terus memaki sambil meraih istrinya. Jika Alea adalah lelaki mungkin ia sudah menghajarnya sampai luluh lantah tak tersisa.
"Difa?" Fajar tetap tidak menanggapi sikap kasar Galih, ia tetap ingin mencoba meraih Nadifa yang terus meringis.
Dorongan Alea membuatnya benar-benar sakit.
"Pergi sialann..!!" Galih sudah tidak dapat mengontrol emosinya, dengan cepat ia menarik kerah baju Fajar dan menghajar wajahnya dengan hantaman buas.
__ADS_1
Bagg.
Bugg.
Mereka saling hantam menghantam. Nadifa hanya bisa mengerang kesakitan sambil memegang perutnya, ditambah lagi melihat perkelahian Galih dan Fajar. Membuat dirinya semakin tersiksa.
Alea pun terlihat masih tersungkur di lantai. Dua wanita itu kini terkulai lemas.
"Dasar sialannn!" Galih menghentakan kepalan tangannya ke pipi Fajar.
Fajar pun menyambutnya dengan tangan terbuka. "Ayo maju sini!" tantangnya.
Tak berapa lama terdengar langkah satpam yang tengah berlari menuju mereka. Memisahkan perkelahian yang sudah terjadi ditempat ini. Semua mata pengunjung terus melihati mereka tanpa bisa melerai.
Beberapa Perawat ikut membantu Nadifa dan Alea, untuk membawa mereka ke Unit Gawat Darurat.
Wajah Galih masih memerah, panas dan ambusius. Ia seperti ingin membunuh saja Fajar didetik ini.
"Sialann lo!" hanya itu yang diucapkan oleh Galih menatap mata Fajar yang masih berkoba-kobar.
"Lepas Pak!" Galih melepaskan tubuhnya dari cengkraman para satapam yang sedang memisahkan mereka. Seraya merapihkan baju nya dan berlalu mengikuti langkah Perawat yang sedang membawa Nadifa kesana.
Galih memberikan ultimatum terakhir untuk menyadarkan Fajar, jika ia sedang dalam posisi bahaya.
"Nadifa, maafkan aku!" desah Fajar.
Ia pun memulai langkahnya untuk mengikuti Galih menuju IGD untuk melihat Alea dan Nadifa.
***
Terlihat Nadifa berada di bed pasien no 1 dan Alea ada di bed sebelahnya. Mereka hanya terpisah dengan sekat hordeng saja.
Fajar masih tidak fokus, walau kini tangannya sedang menggenggam Alea, tapi fikirannya tetap menatap hordeng. Ia ingin sekali melihat Nadifa yang tengah berbaring dibalik sana.
"Sakit, Mas!" Nadifa terus merintih. Menggenggam tangan suaminya dengan kuat.
Sepertinya hentakan terjun bebas ke lantai, membuat trauma dalam perutnya. Keringat dingin terus bercucuran. Wajah Nadifa seketika menjadi pucat pasi.
"Sabar sayang, dzikir lah terus!" Galih amat sendu melihat keadaan sang istri, ia terus mengelap keringat sang istri dengan kedua tangannya. "Mas? sakit...ahhh!" seru Nadifa begitu panjang.
__ADS_1
"Sus? bagaimana ini, istri saya kesakitan!" suara Galih menggema di IGD. Ia bersua kepada siapa saja yang bisa membuat istrinya untuk berhenti mengerang sakit.
Fajar makin dibuat frustasi. Dengan cepat ia melepas genggaman tangan Alea.
"Keterlaluan kamu! bisa-bisanya kamu melakukan itu sama Difa!" Fajar mendelikan mata yang tajam ke arah Alea.
"Kamu masih belain dia, Mas? jelas-jelas sekarang aku yang lebih menderita!"
"Kamu keguguran kan karena ulah kamu sendiri! jangan salahkan aku!"
"Jahat kamu, Mas! aku keguguran karena selalu memikirkan kamu terus mengingat wanita itu! kamu sadar Mas, aku ini istri kamu! istri sah kamu..!" Alea kembali menangis, ia bangkit setengah duduk untuk memukuli dada sang suami.
"Jahat kamu Mas, aku benci kamu, pergi sana! aku nggak mau liat kamu!"
Fajar tidak menjawab. Ia tetap mematung, bukan karena ucapan sang istri. Tetapi lebih kepada Nadifa. Memang cinta nya begitu besar seperti Galih.
"Ahhhhhh...Mas! aku sakit, banget!" Nadifa kembali mengerang. Tak lama kemudian Dokter jaga dan Perawat datang kembali.
"Pak, Bu. Dokter Kandungannya sudah menunggu di Kamar Bersalin. Ibu akan diperiksa disana, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut!"
Raut wajah tegang menghiasi pelupuk mata Galih dan Nadifa. Mereka saling menatap.
"Mas?"
Galih seketika merubah wajah histerisnya menjadi raut yang sedikit tegar. "Sabar sayang, kita ikuti saja apa kata Dokter nanti, Ayo Sus, bawa saja istri saja kesana!"
"Baik Pak!"
****
Oiya aku mau ngasih tahu kalo PART TIGA nya aku buat di cover baru ya.
judulnya :
"GIFALI dan MAURA"
bisa cari di profil aku, Cerita nadifa dan galih masih ada dan ditambahkan tentang ke empat anak mereka. Nggak akan adalagi Pelakor dan Pebinor disana, cukup hanya di BDCT aja.
Kayak biasa
__ADS_1
Like Vote Rate dan komen kalian ya, aku selaluu baca💋💋