Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Kebawelan


__ADS_3

"Ini daftarnya Dif," Dania memberikan secarik kertas yang berisi list perlengkapan bayi yang harus di beli oleh Nadifa.


Nadifa mengambil dan membaca semua yang ditulis oleh Dania."Banyak juga ya Mba,"


"Memang begitu kalo punya bayi, perlengkapannya banyak, hitung-hitung sekarang Difa lagi belajar, semoga aja nanti bisa cepet nyusul kasih dedek buat Gifali," Dania terus menciumi Gifali yang masih dalam gendongan Nadifa.


Nadifa mengangguk bahagia.


Untung saja hari ini weekend, Nadifa dan Galih sengaja menyambangi Dania dirumahnya untuk menanyakan hal ini. Karna mereka masih sangat awam.


"Gimana, sudah semua Mba?" tanya Galih kepada Dania, ia muncul kembali ke dalam lalu duduk disamping Istrinya. Karna sedari tadi ia diluar sedang berbicara ditelepon dengan Dendi perihal pekerjaan.


"Udah nih Mas!"Nadifa memberikan secarik kertas yang sudah terisi.


"Makasi banyak ya Mba, maaf sudah selalu direpotkan sama kami," ucap Nadifa memelas dengan lembut menggenggam tangan Dania.


"Aku enggak pernah ngerasa direpotin sama kamu Dif, aku anggap kamu kaya adik sendiri,"


Nadifa pun memeluk Dania sebagai rasa syukur dan terima kasihnya."Aku sayang Mba Dania!"


Tidak menunggu lama, mereka pun pamit untuk berbelanja kebutuhan Gifali.


"Hati-hati ya Mas Galih, bawa Difa sama Gifali," ucap Dania melepas kepergian mereka dan melambaikan tangan kedalam mobil.

__ADS_1


Dania masih senyum-senyum sendiri, ia masih berdiri tegak didepan pagar rumah melihati mobil mereka yang sebentar lagi akan hilang terbawa bayangan.


Ia merasa bahagia karna melihat Nadifa sudah bisa bangkit dari segala keterpurukan, menyatuhkan kembali pernikahan mereka yang hampir musnah karna keegoisan. Mengingat masalah-masalah yang sudah dilalui oleh mereka, membuat logika sempat menghilang lama.


Dania begitu bahagia melihat Nadifa sedang menikmati perannya sebagai Ibu Sambung untuk Gifali, buah cinta Gita dan Galih.


****


"Yang warna biru aja Mas, anak saya cowok soalnya,"


"Kalau yang garis-garis ada nggak ? jangan polkadod kaya gini Mas,"


"Jangan yang renda Mas, kan tadi saya udah bilang anak saya cowok,"


Galih hanya senyum-senyum mendengarnya, ia hanya duduk dibangku pembeli sambil memainkan Ipadnya. Sesekali ia melihati Nadifa yang terus mengelus-elus kain gendongan yang menutupi Gifali dari dinginnya ruangan, serta tidak berhenti dari ke bawelannya yang membuat pusing si penjual baju bayi.


"Alhamdulillah Allah telah mengembalikan dia lagi kepadaku. Nadifaku, istriku yang bawel," ucap Galih dalam hati sambil menahan tawanya yang tidak sampai hati untuk dikeluarkan.


Galih begitu bahagia, melihat istrinya dapat mencintai Gifali dengan sempurna. Ia berikan waktu, hati, fikiran dan tenaga nya untuk anak yang tidak secara langsung keluar dari rahimnya.


Ia tidak menyangka, sesosok anak yang sudah didamba selama lima tahun dalam pernikahan mereka akan hadir dengan cara yang sulit untuk dibayangkan, mencacah fikiran, mengaduk emosi, dan hampir bercerai berai mempora porandakan rumah tangga yang sudah mereka jalani selama ini.


"Ayo Mas, bawain belanjaannya," seru Nadifa membuyarkan lamunan Galih.

__ADS_1


"Masya Allah, belanja baju sampai 5 kantong gede kaya gini, apa enggak salah sayang?" Galih mengerutkan dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Segini aja dulu deh Mas, besok kita belanja lagi," Nadifa kembali melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari pintu toko baju bayi, ia sudah merasa sangat pegal karna menggendong Gifali selama beberapa jam.


"Hah ?! segini tuh masih kurang??" Galih mengumpat dalam hatinya, ia tidak berani komentar apapun dulu saat ini.


Galih pun berjalan menyusulinya dibelakang dengan membawa segudang gembolan belanjaan yang baru diborong oleh istrinya itu.


"Haus nih Mas, duduk dulu deh. Aku capek..hemmm," Nadifa meletakan dirinya duduk di bangku Mall, mengistirahatkan kaki nya karna kelamaan berdiri semenjak tadi.


"Tuh Mas," Nadifa memberikan arah matanya kepada Galih menunjuk ke penjual stand minuman."Yaudah tunggu, aku yang beli,"


5 menit kemudian ia kembali menghampiri istri dan anaknya."Ini, kamu minum dulu!" Segelas thaitea ukuran besar disodorkan ke arah Nadifa.


"Makasi ya suamiku," ucap Nadifa begitu manja.


Belum sampai seteguk, ia seperti mau tersedak, seketika matanya melotot melihat suaminya telah bersimpuh dibawah, memijati pelan kakinya."Sini, biar aku pijati,"


Galih tidak perduli dengan rasa malu karna dilihati orang-orang, yang ia pedulikan adalah bagaimana terus mempertahankan Nadifa untuk tetap tinggal di Istana nya.


**Duh guys jadi pengen kaya Nadifa nggak sihh..wkwkw


Awal-awal mah lemesin dulu aja yah, yang bahagia-bahagia dulu, baru kalau mereka udah siap..aku masukin lagi beberapa konflik. Kan rumah tangga mah kalo engga ada masalah, bagai sayur asem tanpa garam..he he he hehe.😁😁🤭

__ADS_1


Berikan semangat kalian kepadaku untuk Like, Vote, Rating dan Komen Ya..wajib🤭❤️🤗**


__ADS_2