Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Malik Marah


__ADS_3

Malik mendenguskan nafasnya yang ia keluarkan lewat mulut ke udara.


"Huh...ya Beda !" Malik tidak mau kalah


"Cemburu mu itu tidak beralasan ,"


"Kita saling mencintai dan menyukai hal itu, aku dan dia berbeda !" Malik tegas tidak mau mengubah statmenya.


"Mas Fajar itu orangnya baik , dia pun cukup perhatian, kamu harus menjaga sikapmu kepada dia ,"


"Kamu suka padanya ?"


"Mungkin iya ," Nadifa menjawab asal pertanyaan itu, ia sangat kesal dengan sikap Malik yang berubah tidak baik kepada Fajar.


Malik pun menoleh dengan menajamkan wajah dan matanya


"Kamu ,..." ucapan Malik seketika terhenti karena Dania telah kembali dari toilet, kembali duduk disamping Nadifa dan percakapan antara mereka pun terhenti dan hilang ditelan angin.


" Wah udah bagiannya si Fajar yah yang presentasi ," ucap Dania kepada mereka.


dan lagi-lagi hanya Nadifa yang mau mengangguk.

__ADS_1


"Oiya Dif , maaf aku lupa tanya kamu dulu, kemarin Fajar WA aku minta nomor kamu, aku takut ada yang penting jadi aku beri saja ,"


Nadifa terbelalak dengan ucapan Dania dan Malik ikut mendengarkan penjelasan itu, ia hanya bisa memasang wajah mengerut dan amat kesal.


"Aduh mba Dania, " batin Nadifa mulai takut sambil memikirkan Malik yang ada disampingnya.


"Dia juga nanyain tentang kamu, sakitnya parah enggak gitu ," Dania makin menjadi-jadi, ia bebas menjelaskan apapun itu karena tidak merasa ada yang dibuat kesal.


Ciatt...!! Malik hampir mendidih...😆😆😆


"Benarkan dugaan saya , anak ini memang ada maunya sama Nadif ," Malik terus memandangi Fajar dengan amat kesal.


"Pak Malik mau teh tidak ? biar Nadifa buatkan ," Nadifa kembali mengalah dan menurunkan Ego nya ia tidak ingin Malik marah kepadanya.


"Dania saja yang buatkan, tolong buat kan saya teh Nia ," Malik menolak tawaran dari Nadifa.


"Baik pak ," Dania merasa bingung dengan sikap Malik yang seperti itu kepada Nadifa.


Dania pun bangkit menuju pojok belakang berjalan membuat teh untuk bosnya itu.


"Kamu marah ?"

__ADS_1


Malik hanya diam tidak ingin menjawab.


"Kamu marah ?" Nadifa mengulanginya lagi.


Malik tetap diam tidak menjawab, ia terus fokus melihati Fajar dan bu Sarah yang sedang memasuki sesi tanya jawab.


Nadifa pun kembali terdiam dan pandangannya pun diarahkan kedepan kembali.


Dua jam pun berlalu sudah rapat kerja akhir tahun diperusahaan ini, peserta rapat yang hadir dipersilahkan untuk menyantap makanan yang sudah tersaji dal bentuk prasmanan, terlihat beberapa cemilan gubukan ada disana.


Malik pun sudah berkumpul lagi dengan para Manajer dan Presdir meneruskan percakapan entah apa yang sedang dibicarakan.


Nadifa dan Dania pun ikut bersatu dengan para staf asisten manajer lainnya. Mereka berdua pun menikmati makanan yang sudah tersaji dihadapan mereka.


Walaupun saat ini Malik sedang berkumpul dengan orang-orang yang setara jabatan dengan nya, kedua matanya itu tetap mengawasi Nadifa, kemana pun langkah dan siapa saja orang yang sedang berbicara padanya, ketika ia melihat Nadifa sedang jauh dari Fajar seketika itu ia merasa aman dan mulai kembali bercakap dengan para temannya.


"Dif , Kamu mau makan apa lagi ? " tanya Dania sambil memakan bakso salah satu cemilan yang ada disana.


"Aku mau makan nasi saja mba, aku udah laper nih ,"


"Ayo kita kesana ," Dania menaruh piring baksonya disembarang tempat lalu berjalan bersama Nadifa ke meja prasmanan.

__ADS_1


__ADS_2