
Malam para kesayangan❤️
selamat baca 🤗
***
Malik dan Galih akhirnya memutuskan untuk mengangkat masalah Fajar kepada pihak berwajib. Dengan tuntutan ancaman yang membahayakan dan Fajar sempat ditangkap beberapa hari di sel penjara. Namun dengan permintaan Dania kepada Nadifa untuk keponakannya yang amat mencintai Fajar, maka lelaki itu dibebaskan dengan berbagai syarat.
Galih pun memindahkan Alea ke cabang SUAM yang lain untuk berhenti menjadi sekretaris pribadinya, ia tidak mau berdekatan dengan orang-orang yang masih mempunyai hubungan dengan Fajar.
Setelah huru-hara yang terjadi di rumah tangga Nadifa dan Galih selama ini, membuat mereka saling menerima dalam kecurangan yang pernah mereka buat untuk menyakiti hati masing-masing.
Menjadikan Galih sebagai sosok ayah dan suami yang bisa bersikap bijaksana, sabar dan menjaga jarak hubungannya dengan teman wanita. Baginya hanyalah Nadifa dan anak-anak perempuan nya kelak yang pantas menjadi teman hidupnya, tidak ada yang lain.
Begitu pun dengan Nadifa, menjadikan ia sebagai sosok istri dan ibu yang lebih lembut, pengertian dan mampu mengolah suatu masalah tanpa terburu-buru memutuskannya secara sepihak. Tidak lagi memberi ruang dengan sosok lelaki selain Galih dan anak-anak lelaki nya kelak.
Mereka terus saling merangkul, berggenggam tangan, tidak akan lebih maju meninggalkan atau lebih mundur sedikit, mereka tetap berjalan beriringin sampai maut memisahkan.
Kini sudah tepat tiga bulan Nadifa resign dari kantornya. Meninggalkan karirnya untuk sementara waktu, menutup kenangannya bersama Malik, melepas persahabatan dengan Dania dan meninggalkan sosok Fajar yang akan terus mengincarnya.
Keluarga Hadnan tetap berhubungan baik dengan keluarga Gunawan. Karena bagaimanapun Gifali adalah keponakan mereka, sesekali Kinanti akan mengirim pesan kepada Nadifa untuk menanyakan kabar sang keponakan dan mengirim beberapa baju baru untuk bayi gendut itu yang sudak menginjak usia 9 bulan. Tentunya Nadifa sedang menikmati masa nya menjadi Mama yang sedang berjuang untuk MPASI Gifali.
Nadifa akhirnya bisa berdamai dengan kemauan Galih untuk memintanya hanya tetap dirumah sampai ia melahirkan anak kedua mereka. Lebih tepatnya anak pertama yang akan ia lahirkan dari rahimnya sendiri, yang sudah lama ditunggu-tunggu selama lima tahun pernikahan.
__ADS_1
Kesehariannya hanya dirumah, mengurus Gifali dan Galih. Walau kini usia kandungannya sudah memasuki usia 6 bulan ia tetap bisa mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri. Tanpa pernah mengeluh dan meminta asisten rumah tangga untuk membantunya.
Galih menghadiahkan sebuah rumah baru yang besar dan megah tidak lupa fasilitas kolam renang dan 100 meter lahan tanah hijau yang begitu lapang dibelakang rumah untuk mengisi hobi sang istri dalam bercocok tanam.
Galih membawa anak dan istrinya dari rumah lama semata-mata hanya ingin terlepas dari berbagai kenangan kelam yang pernah mereka alami. Menjadikan mereka untuk terlahir kembali, meninggalkan masa lalu dan mengubur semua kenangan pahit untuk menjalani kehidupan yang baru
****
Galih masih memeluk Nadifa dalam satu selimut yang sama, semalam Galih tidak habis-habisnya melepas rindu untuk menengok anaknya yang masih ada dalam perut buncit sang istri.
Galih ingat betul apa kata dokter bahwasanya ia harus puasa selama tiga bulan untuk tidak menjamah sang istri dengan riwayat kandungan lemah yang beberapa bulan lalu melanda kesedihan dihati mereka.
Karena saat ini sudah diperbolehkan maka ia tidak akan melewatkannya begitu saja. Galih selalu menjaga mood istrinya, bermain lembut dan hati-hati. Bagaimanapun ia harus ingat ada bayi yang masih bergerak hidup didalam.
"Lihat deh, anak Papah lagi gerak-gerak hebat. Kayaknya dia seneng deh abis dijenguk" Galih tertawa sambil mengelus-elus perut polos sang istri. "Tuh anaknya jawab, iya Papah. Ayo tengok aku lagi." Galih berdecis geli lalu menempelkan telinganya diperut Nadifa.
"Eughhhh!" Nadifa mencebik bibirnya. "Itu mah bisa-bisan Papahnya aja, pake alasan kamu buat ngejarah Mama!" ucap Nadifa ikut turut mengelus perut nya yang sedari tadi tidak berhenti menendang-nendang.
"Pah?"
"Hmm.." Galih masih sibuk menciumi perut bulat nan kencang itu.
"Aku nggak kebayang, kalau Gifali tahu aku bukan Mama kandungnya. Aku nggak tega nyakitin perasaanya nanti Pah!"
__ADS_1
Mendengar ucapan sang istri sontak membuat Galih bangkit dari posisinya untuk menatap lurus kedua mata istrinya.
Mereka saling menatap dan diam sebentar. "Kamu akan selamanya menjadi Mama untuk Gifali, ia tidak perlu tahu apa yang telah terjadi dengan kita dimasa lalu.
"Tapi Mamah takut Pah! aku takut kehilangan dia nanti."
Air mata kini sudah tergenang dikelopak mata Nadifa, tentu saja ia takut akan kehilangan Gifali jika kelak anak itu tahu siapa jati dirinya. Ia akan merasa kecewa dan marah kalau mengetahu Nadifa bukanlah Mama kandungnya.
"Aku akan sekuat tenaga, untuk mendidiknya menjadi anak yang baik, kuat, soleh dan berbakti kepada kita. Dia akan menjadi anak yang soleh. Kamu jangan khawatirkan sesuatu yang masih jauh, sayang!" ucap Galih meyakinkan hati sang istri ya tengah dirancau kegalauan amat sangat.
Nadifa hanya bisa berucap aamiin untuk menenangkan dirinya saat ini.
***
Beberapa episode terakhir tentang mereka sebelum part tiga nya muncul, aku ada rencana untuk buat di work baru. Oiya mau nanya nih, menurut kalian aku lebih baik nyambung disini atau buat work baru ya? ceritanya masih nyambung cuman masalahnya udah berbeda banget. Ini akan lebih seruu❤️❤️ semogaa.
Nanti aku akan munculin prolog pembukanya.
Kayak biasa.
Jangan lupa like, Vote, Rate dan komen nya yah
Thank you,
__ADS_1
With love, gaga😘