Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Teriris Pisau


__ADS_3

Mobil Malik sudah terparkir baik digarasi rumahnya, ia turun dan menggendong Letta yang ketiduran di pangkuannya semenjak tadi, kemudian masuk kedalam rumah menuju kamar anak nya.


grek.." Pintu kamar terkunci, Aisyah masih didalam bersembunyi.


"Aisyah, buka Nak, ini ayah," Malik berseru sambil tetap menggendong Letta. Tidak ada suara dari dalam, Aisyah tidak kunjung membuka pintu membuat Malik meninggikan suaranya.


"Buka pintu nya nak!!..Adikmu kasian. dia mau istirahat dikamar,"


Tetapi pintu kamar tidak dibukai ole Aisyah, ia takut di marahi oleh Ayahnya.


"Ayah tidak marah sama siapapun, ini hanya ketidak sengajaan Adek dan Kakak dalam bermain, buka nak," Malik mulai meredam dahulu emosinya.


Aisyah pun bangkit dari bawah tempat persembunyiannya yaitu dibawah tempat tidur, berjalan menuju pintu kamarnya.


Grekk..," terdengar suara kunci pintu berputar, dan Malik langsung masuk membuka lebar pintu. Dilihatnya Aisyah sedang menangis ditempat tidur.


Malik kemudian berjalan menghampirinya dan menaruh Letta di kasur yang sedang tertidur, memperbaiki bantal dan menyelimuti anaknya dengan baik. Aisyah semakin menangis melihat ada perban dikepala adiknya

__ADS_1


"Ayah.." panggil Aisyah tersedu. Malik menoleh dan menghampiri Aisyah membawanya ke ruang tamu untuk berbicara kepada Anak sulungnya.


Kini mereka duduk berhadapan disofa, Aisyah tetap menunduk dan menangis. Malik terus melihati anaknya, ia ingin mendengar dahulu pembelaan apa yang akan keluar dari mulut Aisyah.


"Masih tidak mau bicara ?" Malik membuka kebisuan diantara Ayah dan Anak itu. Aisyah pun menatap ke wajah ayahnya dan memeluk Ayahnya, menangis kembali.


"Maafkan kakak ayah, aku engga sengaja mendorongnya. Adek mematahkan bonekaku, aku kesal lalu mengejarnya ke tangga," Aisyah menjelaskan dengan baik, tetap memeluk perut ayahnya. Malik pun mengusap-usap rambut coklat ikal Aisyah.


"Sebagai kakak, Aisyah harus lebih mengalah kepada Adek. Suatu saat nanti jika Ayah dan Bunda sudah tidak ada lagi, Kakak lah tempat pelindung untuk adek," Malik menjelaskan dengan lembut dan bijaksana. Sungguh tipe Ayah yang sangat kebapak an, penuh perhatian kepada putri-putrinya.


" Maafkan kakak, ayah. Kakak janji tidak akan mengilanginya lagi," Aisyah tetap menempel didada Malik.


Ia masih sibuk mengurusi Putri-putrinya itu sampai lupa untuk melihat HP nya, karena ada Nadifa yang masih setia menggu balasanya WA nya.


-RUMAH NADIFA-


Jam 16.30, Nadifa sudah sampai dirumah. Mengganti pakaian kantor dengan daster rumahan, Menyisir rambut dan menguncirnya lalu berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam, ia terus mengantungi HP nya disaku celana karna menungggu balasan WA dari Malik.

__ADS_1


"Kenapa sudah 2 jam dia tidak membalas Wa ku yah, apa ketahuan sama istrinya ? atau sedang sibuk, apakah anaknya parah," batin Nadifa terus bergejolak penuh tanda tanya sambil mengiris bawang merah dan....syur darah memuncar..


"Haduh , teriiris jariku," Nadifa membersihkan darah yang ada dijarinya kedalam guyuran air wastafel.


"Karena memikirkan mu, aku ampai seperti ini.. menyebalkan," Nadifa merintih perih memberikan betadine para jarinya, lalu memberikan hansaplast untuk menutupi lukanya.


krek..." handle pintu utama terdengar, kemudian terlihat Galih melangkahkan kakinya kedalam.


"Sayang, Aku pulang..," Ucap Galih menuju dapur. Ia tau pasti dijam-jam segini istrinya sedang sibuk didapur.


"Ya Sayang..," Nadifa membalas.


"Masak apa yang ?" tanya Galih sambil membuka kulkas, mengambil sekotak susu kemasak dan meminumnya.


"Masak gulai Ayam Mas, ayo mandilah istirahat sebentar kalau sudah matang, aku panggil kamu," Nadifa masih sibuk dengan tangannya yang sedang menumis bumbu.


"Cium aku dulu," Galih menyodorkan pipinya ke wajah Nadifa.

__ADS_1


"Muach...sudah sana," balas Nadifa.


__ADS_2