
Ada air mata yang terjatuh ke dalam genggaman tangan mereka, Malik dan Nadifa saling bertatapan dalam perpisahan. Mereka saling menangis dalam peraduan, menangisi hari perpisahan yang direstui untuk mereka.
"Aku ingin kita kembali ke keluarga kita masing-masing, menjalani kehidupan yang nyata dan normal," Malik menuntaskan sudah rasa sedih yang sekarang sedang berbuih.
Hanya suara isak tangis Nadifa yang lebih kencang mendominasi di dalam mobil ini.
Ia mengingat bagaimana rumah tangga nya kini bersama Galih, dia bayangkan Gita yang akan menggendong anak mereka dan bersatu lalu keluarga Malik dan anak-anak mereka, sementara ia hanya akan menjadi debu mengiringi kebahagaiaan mereka.
Nadifa tidak pernah membayangkan, sebegini sakitnya kehilangan cinta yang sedang merekah, ia tidak menyangka begitu hancur dan pedih hatinya ketika Malik yang lebih dulu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Disisi lain, Nadifa merasa bersyukur ia tidak menyakiti hati Malik terlebih dahulu dengan kata-kata putus ini, seperti yang ingin ia utarakan kemarin siang.
Ia sangat berterima kasih kepada Semesta telah memisahkan mereka untuk tidak terus menyakiti keluarga nyata mereka.
Nadifa tau, Malik adalah sesosok orang yang sangat berharga untuk keluarganya, ia tidak mau Allah menurunkan balasan kepada Malik seperti yang saat ini ia rasakan dengan masalah Galih dan Gita.
__ADS_1
"Aku mengerti Pak, ayo kita kembali ke kantor sekarang. Mba Dania pasti cemas mencari keberadaan ku,"
Malik begitu heran dengan sikap histeris Nadifa yang berangsur pulih mendadak tegar dan kuat.
Malik melepaskan genggaman itu dan kembali menjalankan deru mesin mobilnya. Nadifa hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke sandaran mobil terus melihati jalan dengan tubuh yang lunglai.
Malik terus melihati sikap Nadifa yang tidak banyak bergeming atau menolak keputusan ini, Nadifa hanya menerima semua ini dengan hati yang legowo.
Dalam keheningan mereka, Nadifa membuka suara.
"Difa akan selalu mengenang ini semua didalam dasar hati yang paling dalam, menyimpan semua ini menjadi sebuah pelajaran, terima kasih untuk 7 bulan yang penuh kasih sayang ini,"
Nadifa mengakhiri ucapannya, ketika bersamaan mobil Malik sudah terparkir di Basement.
Malik menari kembali tangan Nadifa yang masih dingin berkeringat. Malik tidak bisa berkata apapun lagi.
__ADS_1
Nadifa melepaskan genggaman itu dengan memindahkan tangannya untuk membetulkan dasi dilehernya.
"Aku akan rindu, melakukan ini. Duduk disamping Pak Malik dan bersenda gurau melepas cinta," Nadifa tertawa kecil menguatkan hati yang sedang berada dititik atas menembus jurang kehancuran.
"Difa turun duluan ya Pak, selamat menjalani kehidupan kita yang baru,"
Nadifa pun turun dan berlalu masuk kedalam kantor. Malik tetap membeku untuk mau menarik kembali perkataanya yang telah menyakiti kekasih nya itu.
Kekasih yang kini telah kembali dilanda patah hati untuk kedua kalinya,
Malik belum merasakan bagaimana hari-harinya tanpa senyum riang Nadifa, saat ini ia masih merasa kuat karna Nadifa masih berucap sapa kepadanya.
Tetapi belum membayangkan bagaimana keadaan di siang, sore dan malam atau esok pagi tanpa sapaan dan ucapan cinta lagi dari wanita yang telah menghiasi hati dan hidupnya selama 7 bulan ini.
Gimana guyss, ada yang nangis gak nih, hehhe...Ku tunggu Komenan kalian yah..dan aku ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah berbaik hati untuk memberiku VOTE..
__ADS_1
Maafin aku rada bawel untuk selalu Like cerita ini...hatur thakyou💕🖤🖤