
***
Malik kembali menjalankan deru mesin mobilnya. Ia hanya fokus menyetir sekarang. Alam sadar mereka telah kembali untuk bersikap biasa saja saat ini. Lupakan kenangan, buang rasa dan hilangkan cinta. Karena mereka sudah pernah melewati masa-masa terpuruk dengan tidak mudah. Saling melupakan jauh lebih sulit dari pada memulai cinta.
"Pak?"
"Iya, Dif?"
Tanpa tolehan ke sumber suara masing-masing. Mereka tetap menatap lurus kedepan jalanan.
"Maafkan Difa ya Pak."
"Untuk---?"
Malik tetap memutar-mutar setir mobil nya mengikuti rute jalan menuju rumah Nadifa.
__ADS_1
"Difa takut nggak kuat ketika lahiran nanti. Difa cuman mau minta maaf dari sekarang sama Pak Malik dan Bunda. Semoga aja aku dan bayi ini selamat." tatapan Nadifa makin lesu dan lemas, ia terus melihati kedua kaki dan tangannya yang sudah bengkak. "Hal yang dulu terjadi dengan Mba Gita, sepertinya berpihak juga kepadaku Pak. Cuman kata Dokter memang masih bisa untuk diawasi dari sekarang."
Mendengar ucapan tersebut, sontak membuat dunia Malik tergegap lalu gelap gulita. Ia menepikan kembali mobilnya yang bertepatan sampai didepan rumah Nadifa dan Galih.
"Kamu kenapa Difa? kenapa bicara seperti itu?"
"Protein dalam darah Difa, terpaut tinggi. Ditakutkan aku akan mengalami Preklamsi. Difa takut Pak, ini adalah pengalaman pertama untuk aku."
"Difa tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib Mas Galih, Gifali dan bayi ini. Kalau Difa tidak selamat seperti Mba Gita dulu."
"Saya sudah mengikhlaskan kamu untuk pergi dari hidup saya.Kembali berbahagia dengan Galih, itu saja sudah lebih dari cukup. Saya nggak mau kamu kalah dengan keadaan, saya nggak akan siap kalau liat kamu pergi untuk selamanya. Kamu harus kuat! harus bisa melawan rada takut. Insya Allah, Allah akan selalu menjaga kamu, Difa."
Malik meraih tissu lalu menyeka air mata Nadifa yang mulai turun. Nadifa masih menunduk lemas untuk meraih sekumpulan semangat untuk menyegarkan kepada dan tubuhnya.
"Makasi banyak ya Pak. aku merasa kembali membaik kalau sudah melepas semua beban ini sama kamu. Kamu harus ingat! cukup kamu pernah salah arah sama aku. Jangan pernah kamu ulangi sama perempuan manapun, Pak Malik harus berjanji sama Difa!"
__ADS_1
Kedua mata Nadifa terus menyoroti wajah Malik dengan serius. Ia ingin lelaki ini terus memegang janjinya.
"Iya Difa, saya berjanji kepada kamu. Jangan resahkan saya. Saya tidak akan mengulangi hal yang sama seperti dulu, membuat rumah tangga kita saling berantakan seperti ini."
"Dan beruntunglah Mas Galih tetap menerimaku dan Bunda menerimamu ya, Pak! baiklah, Difa turun dulu ya. Makasi banyak Pak Malik sudah mengantar Difa. Salam untuk bunda ya, kabari kalau Gifali sudah mau belajar jalan. Datanglah kerumah untuk menengoknya."
"Insya Allah, pasti kami akan menengoknya."
Nadifa pun meraih punggung tangan Malik untuk ia cium sebagai tanda hormat dan perpisahan. Entah kapan lagi dan dimana lagi mereka akan bertemu untuk saling bertatap muka, melepas kerinduan dalam arti yang sudah berbeda. Kini cinta terlarang itu sudah mampu mereka musnahkan, walau dengan gejolak dada yang terus menghasut untuk menyuruh mereka kembali.
Terlihat mobil Galih sudah menepi dibelakang mobil Malik yang baru saja menuruni Nadifa yang kini tengah berjalan membuka pintu gerbang rumah.
"Siapa itu..?" gumam Galih dibalik stir kemudinya.
***
__ADS_1
Berikan semangat kalian buat aku ya❤️🖤