
"Hemmmmm!" Malik berdehem kencang, menggelegar semua telinga yang ada disini.
Nadifa pun melepaskan pelukan Fajar, Dania terhenti memegang bahu Nadifa serta memainkan mata, ada apa gerangan dengan mereka.
Malik terhenti sebentar terus melihati Fajar agak lama."Ayo, sudah mau mulai" Malik memberi aba-aba kepada Dania dan Nadifa untuk ikut ke ruang rapat besar, mengikuti kembali rapat terbuka bersama beberapa Divisi unit terkait.
Dania berjongkok ke bawah memberesi dokumen-dokumen yang berjatuhan dilantai, Nadifa pun ikut membantu.
"Duluan aja ya Mba, nanti aku nyusul," ucap Nadifa, ia masih ingin menanyai sikap Fajar ini.
"Baiklah, jangan lama-lama," Dania mengambil ahli membawa dokumen-dokumen itu, berlalu mengikuti langkah Pak Malik yang sudah kelewat jauh dari nya.
Nadifa menatap Fajar lalu tersenyum.
"Mas Fajar ada apa ? kenapa wajahnya sedih begitu ?"
Fajar terdiam seketika ia menjadi bisu, kedua bibirnya seperti tertahan.
"Mas?!" tanya Nadifa penuh keingintahuan.
"Maaf Dif, aku hanya sedang ingat Alm.istri ku, Fajar pernah bilang kan ke Difa, kalau wajah kalian berdua itu mirip, maka melihatmu membuat ku sedih tidak tertahan, maafin Fajar sudah lancang memeluk Difa,"
__ADS_1
Nadifa pun menghela nafas dan tertawa.
"Oh, aku fikir ada apa Mas, kirim selalu doa untuk istrimu ya, rasa rindu muncul kepada setiap roh yang berpulang adalah suatu pertanda bahwa mereka ingin dikunjungi dalam doa," Nadifa memegang bahu Fajar guna memberi semangat.
"Nadifa ijin pamit dulu ya Mas, mau ada rapat lagi,"
"Baik Dif, makasi ya,"
Nadifa berlalu membawa kakinya untuk meninggalkan Fajar yang sedang ikut merasakan kesedihan Nadifa yang orang lain belum ketahui.
"Aku enggak mau ngasih semangat dengan ikut sedih kaya gini, Nadifa nya aja kuat banget, aku enggak nyangka! terbuat dari apa sih hatinya, lebih baik Nadifa cerai saja sama Galih, mungkin aku bisa jadi sumber kebahagiaanya setelah ini," gumam Fajar.
Malik memasang sedikit wajah dingin dan masam, tidak seperti biasa memberikan wajah humor disetiap jalannya rapat. Bahkan beberapa kali terdengar suara menganggu karna suara ketukan pulpen yang ia bunyikan ke meja.
Nadifa pun menjadi tidak konsen dengan hal yang ia lihat kini.
"Mungkinkah ia marah? apa dia cemburu? setahu ku dia sangat cemburu dengan Fajar!" batin Nadifa terus bertanya.
"Wajahnya seperti tidak ada dosa sehabis memeluk lelaki itu, bisa-bisa nya dia membuatku seperti ini," batin Malik menyeruak.
"Bagaimana Pak Malik ?" suara pemimpin rapat membangunkan lamunan Malik yang sedari tadi tidak konsen melihatinya. Namun Malik yang cerdas tetap bisa mengeles dan menjawab dengan hebat.
__ADS_1
*****
Galih mendatangai Gita yang sedang bergerumul dengan para karyawan wanita didekat lorong. Melihat atasan mereka datang, para wanita ini pun pamit menyebar kembali keruangan masing-masing.
Gita bangga kepada mereka bahwa sekarang dirinya sudah menikah dengan bos, ia pun sudah menyiapkan tangan terbuka untuk memeluk dan menyambut kedatangan Galih.
Pakkkkkkk...!!
Galih tidak kuasa menampar pipi Gita dengan keperkasaanya."Kamu bangga ? menyebarkan berita tentang pernikahan keduaku bersama kamu?"
Gita menoleh sambil memegangi pipinya.
"Kamu jahat Lih, bisa-bisanya tampar aku kaya gini, aku tuh istri kamu Lih!"
"Kamu yang jahat, udah masuk dan ngerusak rumah tangga aku sama Nadifa ! kurang baik apa istriku sama kamu ? kamu buka aib keluarga kita, kamu asik bertebar ria tentang skandal ini, membuat seolah-olah kamu adalah wanita yang telah beruntung sudah hamil anakku dan menganggap Nadifa yang mandul !"
Gita menangis dan memelas memohon ampun sambil terus memegang tangan Galih.
"Aku bisa tinggalkan kamu kapan saja, aku tetap lebih pilih istriku dibanding kamu, untuk masalah anak, aku bisa tetap tanggung jawab walau aku enggak yakin itu anakku,"
Mata Gita nanar, wajahnya memerah menahan kesal didada lalu berbalik menampar Galih dengan sangat murka. Ia benci tidak dipercayai.
__ADS_1