
Malam-malam mereka sudah bisa berjalan tanpa puisi cinta menemani, Nadifa dan Malik sudah harus terbiasa untuk hal ini, mengingat mereka tidak ingin diketahui.
Malam ini akan menjadi malam yang sangat berkesan dimana dua pasangan ini memutuskan untuk makan malam bersama keluarga masing-masing ditempat yang sama pula...jangan sampai mereka ketemu, akan ada kecemburuan abadi datang menyeruak.
Malik dan Kinanti yang telah sampai terlebih dahulu direstauran itu, tengah duduk di meja dekat taman di bangku no 5 memesan meja untuk 4 orang, yakni mereka beserta anak-anak nya.
Lalu datang dari arah kanan, Galih yang tetap menggandeng tangan Nadifa tanpa bisa lepas sekalipun, Nadifa begitu cantik memakai dress berwarna biru dongker panjang selutu dengan rambut dikuncir meninggi membuat ia semakin sexy dan sangat cantik.
Galih memilih dekat taman pula dengan meja nomor 2 hanya dipisahkan 2 meja untuk sampai di meja Malik.
Mencium aroma farfum yang tidak asing baginya, Malik pun menoleh ke arah samping kanan tubuhnya..kagetnya bukan main ketika Nadifa dan suami yang tengah ia lihat kini.
Malik terperangah, entah harus bersikap seperti apa, matanya tetap serius melihati Nadifa yang belum tau ada Malik juga disana, ia masih sibuk memilih-milih makanan yang akan ia pesan.
"Kenapa yah?" tanya Kinanti mengikuti alur bola mata Malik yang sedang melihati pengunjung yang entah siapa.
"Oh, tidak Bun. lagi menikmati suasana saja, udaranya sangat sejuk,"
Malik mengubah pandangan itu kembali ke pandangan semula.
__ADS_1
Nadif masih belum ngeh dengan posisi Malik yang sudah melihatnya duluan.
Makanan pesanan keluarga Malik pun sudah datang, ini membuat keributan kecil diantara Aisyah dan Letta untuk mau makan sendiri tanpa disuapi oleh Bunda dan Ayahnya.
Kebisingan itu menarik perhatian Nadifa untuk menoleh ke sumber suara tersebut.
"Hah?" dia kaget tapi bisa menahan untuk tidak bersuara.
Nadifa tetap memperjelas penglihatannya apakah betul itu Malik yang ia lihat.
Dan tanpa sengaja pandangan itu ditatap balik oleh Malik, kini mereka hanya saling bertatap layaknya orang yang tidak saling mengenal.
Nadifa hanya hening diam terpaku, menyaksikan semua itu dengan cemburu dan nanar.
"Kenapa sayang?" Galih memegang dagu Nadifa untuk melihat dirinya.
"Lihat siapa ?"
"Ohh enggak, aku lagi nikmatin udara dan suasana nya aja disini,"
__ADS_1
"Permisi," Ucap Pelayan yang telah sampai sambil meletakan makanan pesanan mereka.
"Dua steak tenderloin dan 2 jus alpukat " Pelayan menyebutkan lagi.
Nadifa dan Galih mengangguk tanda betul itu pesanan mereka.
Entah kenapa dada Nadifa terasa sesak, ia memasang wajah tidak begitu baik malam itu. Matanya terus dan terus ingin melihati keluarga Malik tanpa henti.
Nadifa tahu Malik seperti sengaja memanasi dirinya saat ini, ia berulang kali menyuapi Kinanti dari sendoknya.
Betul yang diprasangkai oleh Nadifa, Malik memang sengaja. Hatinya pun merasa cemburu dengan Nadifa yang bisa makan malam berdua diluar tanpa mengirim pesan WA kepadanya malam ini.
"Sini aku bantu potongin dagingnya," Galih memotongi daging steak Nadifa menjadi ukuran kecil-kecil agar mudah di makan.
"Makasi sayang," Nadifa refleks mengusap tangan Galih dengan lembut.
Semua pemandangan ini tertangkap di mata Malik.
Nikmati lah makan malam kalian dengan kecemburuan yang selalu mengikuti dan menemani...biar kalian tauu cinta terlarang tidak akan ada Bahagia yang permanen dan bisa diraih.
__ADS_1