
Hayy sayang-sayang, aku balik lagi nih
Stay tune yah
Keep Reading🔥
***
Setelah kepergian Galih menuju bandara. Nadifa kembali bersiap untuk berangkat ke kantor, sebelumnya ia sudah mengabari Dania kalau akan telat satu jam,karna harus ke Day Care terlebih dahulu untuk menitipi Gifali disana.
Ia meletaki Gifali yang setengah mengantuk ke dalam box nya. Mata Nadifa melamun melihati ranjang tidur mereka yang malam ini tidak lagi ditempati oleh Galih. Ia pun duduk ditepi ranjang dan menggusarkan tangannya dibagian seprei yang sering menjadi sandaran tubuh Galih jika sedang tidur.
Wanita ini menunduk sebentar, lalu menangis pelan. Ia terus meronta mengapa rumah tangganya menjadi seperti ini. Tak pernah berhenti dari fikirannya tentang kejadian Galih beberapa tempo lalu di Cafe yang sangat menyulut emosi di hatinya.
Jabatan Galih dikantor diyakini Nadifa menjadi salah satu sumbernya, Ia merasa suaminya kini telah sukses dan bisa mencampakkan nya kapanpun, maka dari itu ia tidak mau berhenti bekerja. Ia tetap ingin berdiri diatas kakinya sendiri.
Setelah puas untuk menangis, ia pun bangkit untuk berdandan, mengganti baju kantor dan menyiapkan susu dan baju ganti untuk Gifali.
15 menit kemudian, ia telah rapih berbusana ala kantor hari ini. Siap untuk berangkat terlebih dahulu ke Day Care lalu ke kantor.
"Ayo sayang, kita pergi ya Nak." ucap Nadifa meletakan tangannya di bawah tubuh Gifali untuk diangkat keatas lalu didekap didadanya. Terlihat raut wajah Nadifa mengerut heran.
"Kok badan kamu panas, Nak?" Nadifa terus menggendong Gifali, mencari-cari termometer digital dari laci lalu diarahkan ke dahi bayi itu. Hasilnya 38,4 derajat celcius
"Aduh sayangku panas banget tubuh kamu, Nak! perasaan tadi pas Papah berangkat kerja nggak panas deh?" ucap Nadifa merintih menciumi bayi gembil itu. Lalu ia terdiam.
"..Gifali kangen sama Papah ya? sama, Mamah juga kangen sama Papah!" wajah Nadifa memelas. Dengan cepat Nadifa membawa tas kerjanya dan tas kebutuhan Gifali.
Ia tidak akan membawa bayi itu ke Day Care hari ini, tapi ia akan membawanya ke Dokter Anak di Rumah Sakit.
"Ya Mba makasi ya, maaf Difa merepotkan lagi."
Nadifa meminta tolong kepada Dania untuk menyampaikan perihal ijin nya yang tidak masuk kantor hari ini kepada Malik. Nadifa tidak bisa menghubungi Malik, karna nomornya terlebih dahulu di blokir karna permintaan Kinanti dan akhirnya Nadifa menghapus nomor lelaki itu dari HP nya. Berguna membuat mereka terpisah sejauh mungkin.
Ia masih berdiri didepan gerbang rumah untuk menunggu kedatangan Grab Car, sudah 10 menit menunggu dan 2x dicancel.
__ADS_1
"Aduh gimana ini? dicancel terus!" gerutu Nadifa masih panik melihat keadaan Gifali yang serasa dirinya semakin panas.
Kemudian ia melirik ke arah mobil mereka yang masih mendarat cantik di bagasi.
Nadifa berfikir sejenak, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tidak akan mengikuti batin yang sedang berbisik memuncak di telinga dan hatinya.
Lalu Nadifa mencoba menunggu Grab Car kembai, namun tetap saja hasilnya nihil.
Tanpa fikir panjang lagi akhirnya ia memantapkan dirinya untuk mengendarai mobil tanpa Galih. Sebuah ultimatum pernah dilayangkan oleh Galih kepada Nadifa untuk tidak menyetir kendaraan apapun, karna Nadifa akan cepat panik dan gugup saar sedang menyetir ketika melihat jalan raya yang ramai dan padat. Ia akan hilang kosentrasi karna hatinya dipenuhi dengan rasa takut.
Ia tetap mendekap Gifali didadanya dengan kain gendongan. Ia berusaha untuk tenang, sesekali ketakutannya hilang timbul ketika sedang memutar-mutar stir mobil kekanan dan ke kiri. Ia menjalankan mobil itu pelan atau bisa dibilang sangat pelan dan sering kali menginjak rem mendadak. Suara klakson dari kendaraan lain pun terdengar nyaring dari arah belakangnya untuk memberi kode agar mobil yang dikendarai Nadifa dapat berjalan dengan cepat.
Beberapa kali makian dan umpatan terdengar dari luar pintu kaca karna keleletanya dalam mengemudi.
Lalu, dengan refleks ketika kepanikan sudah membelenggunya, bukan menginjak rem untuk menepikan mobil malah ia menginjak pedal gas dengan kencang, sontak mobil melaju kencang.
Dan..
Jdddrrrr!!!
Ia pun langsung menginjak rem dengan cepat, namun sayang membuat bonyok bemper belakang mobil orang lain tidak terhindarkan lagi. Karna pergesekan itu menimbulkan suara pekikan yang tajam, membuat Gifali bangun dan menangis, Nadifa menjadi kaget dan bingung, mata nya terus menatap kearah depan. Ia hanya bisa berbisik takut saat ini.
Terlihat lelaki bertubuh kekar turun dari kursi kemudi, lalu berjalan menghampiri mobil Nadifa.
"Hey keluar Mba..!" lelaki itu mengetuk-ngetuk pintu kaca mobil. Dengan takut-takut sambil menggendong bayi yang masih menangis ia pun membuka pintu mobil untuk turun.
Berjalan sedikit mengikuti langkah lekaki itu, mereka sama-sama melihati bemper belakang mobil yang sudah ditabrak Nadifa barusan.
"Maaf ya Pak, saya nggak sengaja." ucap Nadifa memelas, tangannya terus mengelus-ngelus tubuh Gifali yang masih berada dikain gendongan tergantung didada nya.
"Punya mata nggak sih Mbak? bisa nyetir mobil nggak? mobil lagi diam kaya gini main ditabrak aja dari belakang!" lelaki itu geram terus mengumpat Nadifa. Ia tidak perduli wajah Nadifa yang sudah pucat karna menahan takut dan rintihan tangis dari anaknya.
"Saya minta ganti rugi! ingin mobil saya kembali kedalam keadaan semula!"
"Iya Pak baik, sebentar ya Pak." Nadifa meraih HP nya diselorokan kantong celana. Lalu ia terdiam, ia tidak mungkin menghubungi Galih saat ini, pasti suaminya itu akan marah besar padanya.
__ADS_1
Lalu.
"Tolong sambungkan ya..saya ingin bicara dengannya,"
"Baik Mba..ditunggu ya!"
Beberapa menit kemudian, telepon itu tersambung.
"Ya, arah jalan ke RS Merpati ya. Difa ada didekat bahu taman." potongan pembicaraan Nadifa dengan lelaki itu.
Tiga puluh menit pun sudah berlalu.
"Baik kalau begitu, ditransfer saja untuk ganti rugi kerusakan mobil saya..!" ucap si lelaki pemilik mobil itu.
"Baik saya akan transfer nanti..!" balasnya.
Dan Nadifa masih berada tepat dibelakang tubuh lelaki ini. Ia meringis ketakutan sambil terus menenangkan Gifali yang masih terus menangis.
"Tolong ajarin istrinya lain kali..jangan kasih bawa mobil kalau belum becus mengendarainya..!" si pemilik mobil sepertinya belum puas untuk mengumpat Nadifa dengan segala ketidak sengajaannya.
"Baik, saya minta maaf sekali lagi. Sudah merugikan anda." lekaki yang tengah melindungi Nadifa mengangkat tangannya untuk berjabat tangan.
Si lelaki kekar pemilik mobil pun berlalu dengan bemper belakang yang bonyok tak berbekas.
Kini tinggal Nadifa dengan lelaki ini yang saling menatap dalam diam dan ketegangan. Mulutnya tercekat, ia tidak mampu memberikan pembelaan apapun lagi untuk saat ini.
Setidaknya sekarang ia sangat bersyukur dan lega, sudah bisa terhindar dari amukan lelaki itu.
Nadifa hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa bicara mengucap kata-kata. Dadanya masih terasa sesak menahan kaget. Ia terus menenangkan Gifali yang mulai tertidur.
***
Tiga episode untuk hari ini ya guyss🤗💖
Berikan aku semangat terus untuk Like, Koment, Vote dan Rate dari kalian ya.
__ADS_1
Selamat berbuka puasa💕