Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Hukuman 2


__ADS_3

"Kenapa enggak istirahat?" tanya Galih diambang pintu kamar melihati Nadifa yang sedang menyiapi baju kerjanya untuk besok.


"Aku kan besok udah masuk kerja Mas, jadi.." lagi-lagi ucapannya terselak.


"Jadi...udah kangen banget ya, pengen ketemu sama atasan kamu?" Galih meledek Nadifa dengan senyuman tipis tapi menegangkan.


Nadifa hening sebentar lalu menoleh ke arah suaminya yang masih terus melihatinya.


"Apaan sih Mas, kok kaya gitu ngmongnya," Nadifa melembutkan suaranya.


Membuat Galih menjadi mundur maju untuk marah, padahal sedari tadi diperjalanan pulang kerumah, rasa kesalnya terus ingin memuncak dan segera ingin ia muntahkan kepada istrinya itu.


"Gita? ayo kita tidur, ini sudah malam," Ajak Galih kepada Gita yang masih asik menonton TV.


Nadifa kembali diam dan terus memikirkan sikap Galih yang tidak biasanya begitu perhatian dengan Gita. Walau ia merasa mungkin Galih sudah mau membuka hatinya untuk Gita, bagaimanapun Gita adalah istrinya juga wanita yang telah mengandung anaknya.


Gita pun bangkit dan masuk menuju kamar Nadifa." Kamu tidur disini aja dulu Mas, temani Nadifa, biar malam nanti ada yang jagain," ucap Gita merendah.


"Enggak, malam ini aku mau tidur sama kamu diatas. Nadifa juga bilang kalau besok dia sudah mau masuk kerja, berartu tubuhnya sudah sehat!" ucap Galih mengagetkan kedua istrinya itu.

__ADS_1


Nadifa teramat sedih dengan perubahan suaminya 180 derajat itu. Ia tidak mengerti dimana salahnya, apakah mungkin Tuhan sudah membolak-balikan hati Galih dengan begitu cepatnya.


"Aku naik ke atas!" Galih pun berlalu membawa langkah kakinya menuju kamar tidur mereka.


"Tidurlah Mba, Mas Galih sudah menunggumu," ucap Nadifa pelan dengan wajah menunduk melipati baju diranjang. Ia menyembunyikan genangan air mata yang masih berlinang tidak mau turun.


Gita mengerti bahwa Nadifa cemburu. Ia pun akhirnya berlalu meninggalkan Nadifa seorang diri.


"Aku harusnya senang Mas Galih mulai menerima Mba Gita disini," Nadifa menyeka air matanya, menguatkan dirinya untuk tidak termakan dengan api cemburu dan kesedihan kembali.


******


Nadifa pun menerima saja apa yang Galih suruh saat ini. Gita semakin merasa tidak enak, seharusnya ia senang sudah mendapatkan perhatian Galih tetapi ia merasa Galih hanya sedang memanasi Nadifa.


Entah karna apa ! fikir Gita.


Nadifa tetap berada dikursi penumpang belakang, walau wajahnya masih terlihat pucat tapi tubuhnya sudah energik lagi, ia tidak sabar bertemu Dania dan mungkin juga Malik.


Sesekali Galih melihati mimik wajah istrinya yang sudah kembali ceria di balik spion kaca dalam.

__ADS_1


"Mungkin hati kamu bahagia, karna sebentar lagi liat si keparat itu!" gumam Galih terus melajukan mobilnya.


Nadifa tetap menatapi pemandangan disekeliling jalan, ia bersykur sudah sembuh dari sakitnya.


"Hati-hati ya Dif, kabari kalau ada apa-apa," Ucap Gita memberi petuah setelah menurunkan Nadifa dipekarangan kantor DG.


"Iya Mba, kalian hati-hati ya!" balas Nadifa. Tanpa menoleh Galih melajukan kembali mobilnya untuk pergi menuju kantor.


Nadifa kembali diam melihati sikap Galih yang semakin berubah dan tidak sertai dengan suatu penjelasan apapun.


"Mas Fajar !" panggil Nadifa yang melihat Fajar tengah berdiri menunggu lift terbuka, Fajar pun menoleh memberikan senyum senang tetapi seketika senyum itu berubah menjadi biasa saja.


"Mas Fajar kenapa ?" batin Nadifa.


Lalu lift pun terbuka, Fajar dengan cepat menyeret kakinya untuk masuk kedalam tanpa menunggu Nadifa terlebih dahulu.


Nah kan...ini bonus buat kalian yang udah semangatin aku terus buat selalu Update...


enjoy reading ya guyss🖤🖤🖤🖤

__ADS_1


Aku tunggu komen kalian yah tentang cerita ini selalin minta UP..😁😁😁..aku juga masih merangkai skenario untuk mentamatkan cerita inih...hiksss😭😭😁


__ADS_2