
Memang Malik adalah obat untuk Nadifa, energinya mendadak tumbuh lagi, baginya saat ini tidak mengapa untuk berpisah menjadi kekasih, setidaknya sehabis ini Malik kembali terus hinggap menemani dirinya walau hanya sebagai sahabat.
Karena sudah satu jam disana akhirnya Malik memutuskan untuk kembali ke kantor."Saya kembali dulu ya kekantor, kalau ada apa-apa, ceritalah dan bicaralah saya siap mendengarkan kapan saja,"
Nadifa pun meraih tangan Malik untuk salim," Hati-hati ya Pak dijalan,"
Malik pun berlalu, melangkahkan kaki dan meninggalkan Nadifa seorang diri. Malik kembali menolehkan wajahnya ketika sudah diambang pintu keluar.
"Mulianya hati kamu...sayang," batin Malik menggema membawa langkah kepedihan hati yang begitu menyiksa batinya saat ini.
Malik terus melangkah berjalan keluar menuju mobilnya ditempat parkir, terlihat dari arah kiri ada Galih yang sudah berjalan karna telah selesai memakirkan mobilnya.
Ia melihat Malik..sangat jelas !
"Mau apa dia kesini, pasti ia habis bertemu dengan Nadifa," batin Galih kali ini tidak meleset lagi.
Malik lalu berlalu dengan mobilnya kembali kekantor, dan Galih melangkahkan kakinya cepat menuju ruang perawatan.
"Difa?" Galih tidak menemukan istrinya diranjang, namun terdengar ada suara air shower menderas dibalik kamar mandi.
__ADS_1
"Oh lagi mandi," Galih menuju sofa untuk merebahkan tubuhnya.
Lalu ia teringat dengan hal semalam yang ia lakukan, ia pun mendekat ke arah vas bunga yang berdiri manis dimeja, ia mengambil sebuah alat perekam suara ruangan portabel yang ia letakan secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun.
Tujuan sebenarnya adalah hanya untuk memantau jika Nadifa sedang dijaga oleh Gita jika dirinya tidak ada, ia takut Gita akan mencelakai Nadifa, karna ia masih belum percaya dengan Gita sesungguhnya.
Karna ia sudah melihat Malik barusan, ia yakin Malik pasti dari sini dan menemui istrinya. Ia ingin mendengarkan percakapan mereka untuk secepatnya mengusir rasa curiga yang telah bertahta lama dihatinya.
"Hey Mas, sudah sampai," Nadifa keluar dari kamar mandi dengan handuk basah yang meliliti tubuhnya tidak ketinggalan ada tiang infusan yang ia seret-seret dengan tangannya.
Galih dengan cepat memasukan alat perekam itu ke dalam celananya. Ia berjalan mengampiri istrinya untuk membantu memakaikan pakaian.
"Aku sudah enakan Mas,"
Melihat tubuh istrinya yang polos, mulus, putih dan wangi karna sabun, membuat Galih seketika bergairah ia pun mulai menciumi bibir Nadifa, namun bayangan tentang Malik merubah semua, tanpa sengaja ia mendorong tubuh istrinya tanpa sengaja.
"Mas Galih kenapa?" Nadifa kaget dengan perlakuan suaminya yang tidak sengaja itu.
"Eh enggak sayang, liat kamu kaya gini buat aku jadi ingin, lalu aku ingat kamu lagi sakit," Galih tertawa kecil membuat alasan yang masuk akal.
__ADS_1
"Nanti ya Mas, kalau aku udah sehat!" Nadifa berkeliat manja mencium pipi suaminya itu.
Galih mengangguk terus membantu istrinya berpakaian lagi. Ia pun tidak tahan menahan rasa keingintahuannya.
"Ketika aku pergi, apakah ada yang menjenguk kamu?" tanya Galih polos.
Nadifa terdiam sebentar, ia menyangkalnya." Enggak ada kok Mas, mungkin teman- teman kantor akan menjenguku siang atau sore sehabis pulang kerja,"
"Kamu berbohong!" batin Galih sambil mengolesi minyak telon diperut Nadifa.
"Kok Mas Galih bisa nanya kaya gini ya, pas banget Pak Malik baru aja jenguk aku. Semoga aja mereka enggak papasan dijalan, kalau pun papasan ya wajar aja lah kan dia atasan aku, aduuhhh...tapi tadi udah keburu enggak jujur jawabnya!"
Nadifa semakin disulut rasa tidak enak, ia masih curiga kalau Galih mengetahui kedatangan Malik.
"Sudah kamu tidur lagi ya, kalau ada apa-apa bilang aja, aku disini lanjutin kerjaan," Galih menutupi tubuh Nadifa dengan selimut dan mencium dahinya lalu kembali ke sofa untuk membuka laptopnya.
"Mba Gita kemana Mas?"
"Dia kerja dulu, karna ada beberapa laporan yang ditunggu sama klien, nanti sore aku akan jemput dia ke kantor lalu kesini lihat kamu," Galih mulai sibuk memberesi beberapa dokumen yang dikeluarkan dari tas kerjanya.
__ADS_1
Nadifa hanya mengangguk dan terus menatapi suaminya itu.