
Kini Galih telah sampai, mendaratkan kaki nya dirumah, ia kalah cepat dalam mengejar Nadifa tadi.
Dilihatnya suasana rumah seperti terbayang dalam kabut, dingin tidak biasa dan hening mencekam.
Galih seperti hilang arah, langkah kaki nya terbata-bata pelan, matanya tetap menengadah ke atas menyoroti pintu kamar nya yang sudah terbuka.
Dengusan nafasnya semakin berat, air matanya jatuh berlinang membasahi pipi sampai turun ke leher, bibirnya tertutup rapat, langkahnya berat, mungkin sebentar lagi akan lalu lantah terjatuh.
Terdengar ada suara menangis samar-samar, terus diikuti arah suara itu, lama-lama semakin dekat, semakin mengeras.
Sudah hancurlah tiang kokoh rumah tangga itu sejak lama dan sekarang Galih sudah berhasil melengkapinya.
Keadaan semakin mendukung dimana rintikan hujan mengiringi turun menemani perang mereka.
Sesekali suara gludug saling bersautan, pantulan kilat saling mengoles awan disana.
Galih tetap berjalan, memperlambat langkah kakinya ia merasa sebentar lagi dirinya akan masuk ke jurang dan mati.
krekkkkkk..!!
Pintu kamar dibuka sedikit lebar oleh Galih, kedua bola matanya seperti langsung dipecut perih melihat suasana kamar yang selalu indah, rapih, wangi nan elok, kini telah berubah dalam waktu sekejap.
Ada kapas-kapas yang telah mengebul diudara karena robekan-robekan bantal yang telah tercecer di kasur
__ADS_1
Ada kaca meja rias yang sudah retak tidak bergading mungkin terkena lemparan atau pukulan
Ada beberapa perlengkapan make up yang sudah tersusun rapih di meja rias kini terpental kesana kemari
Ada lampu tidur yang selalu menemani mereka setiap malam, kini sudah terlepas dari kabel serta baling bambunya.
Ada muntahan baju-baju yang diacak-acak sengaja dari lemari pakaian mereka.
Ada beberapa tas-tas yang berhamburan memenuhi lantai
dan yang membuat kamar mencekam
Ada foto pernikahan yang telah tercacah menjadi puing puing beling berserakan. Gambar diri nya dengan Nadifa telah terbagi dua dengan cacahan bekas silet
Galih hanya diam, terus menapaki langkah kaki menginjak semua barang yang sudah berhamburan dimana mana.
Dadanya makin sesak, berat dan ngilu.
Ia tidak menyangka, sangat diluar dugaan semua ini bisa terbongkar sangat cepat.
Galih terus maju melangkah walau tubuhnya bergetar.
Terdengar ada air mengucur dengan deras dibalik pintu kamar mandi, pintu itu memang tidak tertutup rapat jadi masih terlihat bahwa lampu didalamnya menyalah.
__ADS_1
Dengan cepat Galih bergegas membuka
Sangat miris hatinya, ketika !
Melihat sang istri tengah duduk menunduk, merapatkan wajah kepada kedua lutut yang ia tekuk sejajar dengan tubuhnya di Bath Up.
Air sower terus membasahi kepala dan tubuhnya, terlihat dibalik dalam tangannya mengeluarkan air yang sudah bercampur darah.
Galih pun berteriak memanggil istrinya, dipeluk dan dirangkul sang istri, Nadifa pun melemah jatuh tidak sadarkan diri dengan luka bekas sayatan silet kurang lebih 10 garis telah tertata dibagian dalam tangannya.
Diangkat tubuh Nadifa yang mulai dingin karena kucuran air, tubuhnya sangat basah sampai ke bagian dalam.
Galih mengarahkan kedua tangannya ke bawah paha dan punggung Nadifa, mengangkat dan membawa tubuh istrinya berlalu untuk hinggap diranjang.
Galih menangis sejadi-jadinya, diciumi tanpa henti wajah Nadifa, ia kembali menangis ketika melihat luka sayatan silet bergaris-garis membuat lukisan ditangan istrinya yang putih nan mulus itu.
Dihanduki tubuh istrinya dengan bersih tanpa meninggalkan satu kebasahan pun.
Nadifa masih belum sadar, wajahnya pucat dan bibir nya mengerut terlihat wajah letih karena bergulat dengan diri sendiri.
Galih terus melihatinya istrinya yang kini telah berbaring memakai baju hangat dan terlelap dalam selimut nya.
Galih masih menatapi suasana kamar yang pecah dan hancur berserakan.
__ADS_1
Mungkin itu tidak seberapa dengan sakit hatinya, pedih matanya dan hancur jiwanya ketika mendengar bahwa suaminya telah tega menikah lagi dan mampu menghamili wanita lain.