
Aku minta Maaf banget sama kalian, sekarang2 upload nya malem terus tapi nggak apa-apa ya semoga ngobatin rindu kalian
Keep Reading guyss
🖤🖤
***
Sudah satu minggu Nadifa membatasi dirinya dari dekapan dan sentuhan sang suami. Galih begitu merindu wajah ceriah dan gelak tawa dari sang istri.
Mereka masih membisu tak usai-usai. Ada kalanya, Nadifa akan lebih banyak memiringkan tubuhnya ketika hendak tidur membelakangi Galih. Ia tidak lagi memilihkan kemeja dan dasi untuk Galih ketika berangkat ke kantor. Nadifa akan masak jika ia mau, selebihnya Galih akan dibiarkan untuk menyantap mie instan atau beli diluar.
Salam sapa mereka hanya tercurah ketika Galih mengambil perhatian Nadifa dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan Gifali.
Saat ini bayi itu sudah menginjak usia kurang lebih 4 bulan, sedang lucu-lucunya memang. Tubuhnya montok, pipinya gembil dan kedua matanya indah. Sepertinya Gifali akan tumbuh menjadi pria ganteng setelah Galih Hadnan, sang papa.
"Aku turun."
Hanya ucapan itu yang dilontarkan oleh Nadifa ketika mobil mereka sudah terpakir dipekarangan kantor. Galih tetap mengantar istrinya bekerja. Tidak ada kecupan tercetak diantara mereka. Begitu hening layak nya penumpang dan sopir.
Galih masih melihati istrinya memasuki pintu lobby, namun seketika pandangannya menajam lurus melihat lelaki datang dari arah kiri seraya ingin merangkul Nadifa.
Galih mengeraskan rahangnya, matanya ditajam kan sekuat-kuatnya, tetapi untuk saat ini ia harus bisa berfikir rasional dalam menguak kejahatan Fajar. Tidak boleh gegabah! saat ini yang terpenting Nadifa kembali dulu padanya.
Kebisuan Nadifa tidak hanya dirasakan oleh Galih seorang, namun Malik pun menjadi orang kedua setelahnya.
Nadifa belum bisa menarik simpul senyum di wajahnya untuk Malik. Ia tahu lelaki itu adalah atasan nya, orang yang harusnya ia hormati.
"Dif bagaimana yang ini, bisa tidak dirubah?" tanya Malik mengenai beberapa laporan yang harus direvisi oleh Nadifa.
"Letakan saja dimeja mu, nanti aku ambil setelah jam istirahat!"
tutt..telepon terputus.
Sungguh Malik harus bersusah payah untuk meminta belas kasih dari wanita ini. Dua lelaki itu merasa kini Nadifa berbeda 180 derajat, lebih banyak diam, mudah marah dan tidak perduli dengan dunia sekitarnya.
Bagaimana dengan Fajar? tentu kesempatan seperti ini Nadifa pun tidak memberi cukup ruang untuk membiarkan lelaki itu masuk. Ia akan secukupnya saja berbicara untuk saat ini.
Ia sudah berjanji akan setia dengan suami nya, walau Galih selalu mematahkan hati nya.
__ADS_1
***
"Tiga hari di sana..?" Galih mengulangi sebagian kalimat yang telah diucapkan oleh Alea.
"Betul Pak, ada masalah dalam proyek cabang SUAM ke empat, sepertinya Pak Galih harus turun tangan sendiri untuk memastikan."
Sebagai Wakil Direktur SUAM pusat, Galih memang mempunyai kewajiban untuk memperhatikan semua anak cabang perusahaannya. Mau tidak mau, ia harus pergi kesana.
"Bagaimana dengan istriku jika mau berangkat kerja? bagaimana dengan anakku jika hendak dititipkan di Day Care? bagaimana mereka hanya berdua saja dirumah jika malam hari? tiga hari pula?..Sial!"
Hati Galih berkecamuk. Sungguh sosoknya sangat diperlukan dalam keluarga ini.
"Bagaimana meninggalkan Difa selagi dalam posisi bertengkar seperti ini?"
Ia terus menyandarkan bahunya ke kursi kerjanya, menaruh kedua tangan didada. Kursi digoyang-goyangkan maju mundur dengan tatapan terus melihati sudut ruangan kantor.
Satu jam berfikir namun akhirnya..tetap saja tidak mendapatkan solusi. Lagi-lagi fikirannya buntu.
"Nggak mungkin kan aku bolak-balik Surabaya, aku pasti harus menginap disana bareng sama Alea! aduh pasti ini akan buat Nadifa makin menjadi-jadi!"
Ia terus menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar.
Dia terus berfikir, entah bagaimana nanti malam berbicara dengan sang istri untuk meminta pengertiannya.
***
Pesan muncul di HP Fajar. Ia menghentikan tangannya sebentar dari atas keyboard untuk membalas pesan itu. "Lagi kerja, Alea lagi apa?"
Setelah waktu itu Alea menyatakan cintanya kepada Fajar, maka saat ini mereka semakin dekat. Fajar memang tidak mengucap apapun waktu itu, dia merasa Alea hanya sedang main-main saja, kesemsem akan pertemuan pertama mereka yang tidak disengaja.
Setiap harinya Alea yang akan duluan untuk mengirim pesan dan menanyakan kabar, karna Alea selalu merengek meminta bantuan Dania, akhirnya Fajar pun harus terpaksa mengikuti apa kemauan gadis itu.
"Kita makan siang bareng yuk Mas, soalnya aku pasti kangen. Mau ada dinas ke surabaya selama tiga hari, kamu mau oleh-oleh apa Mas?"
Mata Fajar terbelalak ketika melihat balasan pesan Alea. Bukan karna Alea nya yang akan pergi, tetapi ia lebih tertarik dengan siapa orang yang akan bersama Alea selama disana.
Tentu ini akan jadi kesempatan Fajar!
"Berapa hari disana? dan dengan siapa?"
__ADS_1
Fajar membalas cepat pesan itu.
Disana.
Alea masih mengerutkan dahi nya.
"Tumben nih Mas Fajar semangat banget bales pesan aku, biasanya sejam dua jam baru dibalas..uh! eh tapi tunggu deh, kok dia perhatian gitu sih nanyain aku sama siapa disana? oh so sweet banget." gumam Alea, seketika kerutan dikeningnya menghilang terganti dengan keceriaan yang menggila.
"Tiga hari Mas, sama bos aku. Kenapa Mas?"
Disini.
Senyum riang Fajar masih mengembang pesat, ia merasa akan menang lagi kali ini. Tiga hari kepergian Galih ke Surabaya, akan membuat catatan panjangnya untuk mendapatkan Nadifa Putri Hadnan.
"Oh nggak apa-apa! ayo mau makan siang dimana?"
Mungkin itu sebagai ucapan tanda terima kasih Fajar atas kebodohan Alea yang teramat sangat. Ia akan selalu memanfaatkan cinta Alea untuk mendapatkan Nadifa.
***
"Dif?"
Nadifa menoleh ke arah Dania ketika namanya dipanggil. "Iya Mba?"
"Aku lagi jodohin Fajar sama keponakanku." senyum riang tercipta di wajah Dania.
"..Wah bagus dong Mba, aku ikut senang." Nadifa ikut senyum merona. Wanita ini lega akhirnya Fajar bisa melupakan cintanya.
"Semoga Mas Fajar dan keponakan Mba Dania bisa bersatu secepatnya ya."
"..Aamiin Dif, makasi ya."
Dania tidak pernah tahu bahwa keponakannya itu adalah bawahan Galih dikantor. Begitupun Nadifa tidak tahu jika Alea adalah keponakan Dania. Yang jelas saat ini dimata Nadifa, Alea adalah wanita yang harus ia waspadai semenjak kesalah fahaman yang pernah terjadi beberapa tempo lalu pada saat Galih menolong Alea saar wanita itu pingsan.
***
Aku terharuu banget sama komenan positif kalian, dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗
Kaya biasa
__ADS_1
Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.
thankyou❤️😘😘