
"Aku ingin kita..." ucapan Nadifa terhenti
"Ingin kita terus kita bersama ya..hemm?" Malik tertawa dan mencium kembali pipi Nadifa.
Nadifa seperti mundur maju untuk mengatakan hal ini, ia seperti merasa tidak sanggup untuk berpisah lalu menderita di hari-hari sesudahnya, apalagi dalam posisi rumah tangganya yang seperti ini. Jujur ia belum sepenuhnya menerima Gita dirumah, namun ia sadar saat ini Gita lah yang berarti untuk Galih.
"Wajahmu masih kelihatan letih sayang, bagaimana sakitmu sekarang? sudah mendingan kah?" Malik menempelkan kedua tangannya dipertengahan pipi dan leher Nadifa.
Sejujurnya Nadifa ingin menceritakan beban yang masih merajuk dalam hatinya, tapi ia sadar semua masalah ini harus ditutup rapat.
Nadifa terdiam agak lama, terus melihati Malik yang masih menyenderkan dirinya sambil memandangi suasana kebun teh dan terus menggenggam tangan Nadifa.
"Aku merasa cinta kita ini salah,"
"Memangnya siapa bilang cinta ini benar?" Malik tertawa.
"Iihhhh..kamuu!" Nadifa bersikap manja mencubit kecil lengan Malik.
"Kamu jangan ninggalin aku, nanti hidup kamu gelap, enggak bisa lagi bolos kerja nikmati suasana kebun teh kaya gini, hahahhaa," Malik kembali tertawa.
"Loh siapa yang bolos, kita kan pergi di jam istirahat," Nadifa mencubit lagi lengan Malik.
__ADS_1
"Awwwww...!" Malik berdesis.
"Sakit yah?" Nadifa tertawa, setelah terbelenggu beberapa hari ini dengan air mata akhirnya ia bisa tertawa lepas kembali.
"Lebih sakit kalau kamu ninggalin aku,"
Nadifa pun kembali terdiam mendengar ucapan itu, ia menjadi tidak punya daya lagi untuk mengakhiri hubungan ini.
"Kenapa sih dari tadi kamu ngmongnya selalu kaya gitu?" Nadifa membelai pipi Malik.
Malik pun meraih tangan tersebut dan diciumnya berkali-kali," Karena kamu pernah bilang ingin putus waktu itu, itu sangat membuat aku gusar dan gelisah"
"Semisal kita putus, aku akan tetap disini bersama kamu selalu, melihat kamu membesarkan anak-anakmu sampai sukses nanti," Nadifa pun mencium tangan Malik yang sedang menggenggam tangannya.
Nadifa kalah lagi, ia belum berani mengatakan hal ini kepada Malik. Ia masih belum sampai hati mematahkan hati Malik secara mendadak seperti ini.
Mungkin Nadifa butuh proses.
"Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hari-hari ku mengembalikan keadaan kita seperti semula, yang biasa selalu merangkul dengan cinta mungkin setelah itu akan hanya diam menatap biasa,"
"Kamu mau kan selalu ada disampingku, kasihku?"
__ADS_1
Malik menggoda Nadifa lalu mencium bibir nya dengan lembut, karena hati Nadifa masih belum tegar ia tidak melanjutkan permainan bibir itu seperti biasa.
Malik seperti faham tetapi ia tetap melakukanya, ia rindu Nadifa, tetapi itulah Malik ia memang sudah melakukan hal salah tetapi ia tidak pernah mau menyentuh Nadifa lebih dalam.
"Ada apa sayang?" Malik berbisik ditelinga Nadifa, hal itu membuatnya geli akan nafas yang berhembus dari hidung Malik.
"Aku lagi sariawan," Nadifa tertawa dan membuat Malik seketika ilfil dengan tertawanya yang tidak tau arah.
"Aku lapar nih, ingin somay," Nadifa menunjuk pedang somay. Malik mengangguk dan bangkit mau membuka pintu mobil namun gerakan tubuhnya terhenti
"Kenapa ?" Malik melihati lengannya yang dipegang oleh Nadifa.
"Aku enggak jadi pengen somay pengennya basko aja,"
"Kamu kaya lagi ngidam nih?" Malik meledek
"hemmm..jika aku sedang hamil, lalu bagaimana dengan hubungan kita,"
"Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak boleh egois, aku akan mengembalikan mu seperti dulu,"
Ia pun melepas Malik untuk turun dari mobil membeli makanan apa yang ia inginkan saat ini.
__ADS_1
Nadifa terdiam lalu mengembangkan fikirannya yang ada dikepalanya dengan cepat. Nadifa sangat pilu dalam hatinya. Ia pun mundur di hari ini.