Bersahabat Dengan Cinta Terlarang

Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Membuat Lega


__ADS_3

Gita masih memutar bola mata kanan dan kiri nya yang beradu, terus melihati sisi sudut rumah mereka.


Begitu rapih dan elegan. Peletakan barang-barang begitu mempesona, lantai licin dan bersih, banyak foto-foto yang menggambarkan kisah-kasih perjalanan asmara Galih dan Nadifa di setiap sudut dinding rumah ini.


Gita duduk di sofa seperti tamu kebanyakan, ia hanya bisa berdiam entah mau berbicara apa, tidak pernah terbayangkan dikepalanya bisa seatap bersama Galih, suami yang tidak pernah disangka olehnya.


Galih lebih memilih masuk ke ruang kerjanya, dirasa kedua istri ini sudah membaik maka ia putuskan untuk mengecek-ngecek email yang masuk di layar komputernya.


Terlihat Nadifa sedang membereskan kamar mereka yang begitu berantakan karena ulahnya kemarin sore, ia membenahi semua seperti ke awal, mengganti seprei, sarung bantal dan mengeluarkan selimut tebal yang belum ia gunakan untuk menghiasi tempat tidur mereka.


Membuang sisa-sisa barang yang sudah hancur tercecer karna ulahnya.


Nadifa pun turun kembali ke bawah, ia menemui Gita dan menggenggam tangannya untuk naik ke atas kamar mereka.


"Ini kamar mu Mba, istirahat lah dulu. Kalau butuh apapun, aku ada didapur,"


Nadifa mempersilahkan Gita masuk kedalam kamarnya. Gita hanya mengangguk tidak bisa berucap.


Dia malu..amat sangat !


"Aku tinggal dulu," Nadifa menutup pintu kamar itu dan pergi berlalu.

__ADS_1


Gita terus memandangi kamar indah ini dengan warna nuansa pink dan gold, melihati semua sisi kamar dengan takjub.


Kamar yang sangat rapih, bersih dan wangi. Barang-barang yang ada dikamar ini sungguh tersusun dan tertata rapih.


Tas-tas branded, sepatu mahal, peralatan make up ternama dan baju-baju import tertata dengan baik, ya...Galih sangat memanjakan istrinya.


"Sungguh, aku bangga padamu, Dif!" Gita memuji nya dalam hati.


Tidak pernah sama sekali terlintas dalam benaknya bisa seperti ini, Nadifa bisa berdamai dengan dirinya.


*****


Kringggggg....kringg......


Berjalan mengangkat gagang telepon dengan masih memakai celemek.


Nadifa :


"Assalammualaikum, hallo,"


Ada suara diam sebentar lalu maju lagi, memastikan bahwa ini benar suara Nadifa.

__ADS_1


"Waaikumsallam, hallo,"


Garis senyum dipipi Nadifa terangkat, hatinya memuncak bahagia, ia tau siapa suara ini.


"Iya Pak,"


"Alhamdulillah aku bisa denger suara kamu lagi, kamu kemana aja, aku WA dan telepon tidak diangkat, kamu sakit Nadifa ku ?"


Nadifa terenyuh mendengar suara ini, ingin ia bilang, ingin ia ceritakan apa yang barusan menimpa dirinya, tapi itu semua tidak boleh. Aib rumah tangga harus ditutup rapat-rapat.


"Maaf aku enggak masuk kerja, aku enggak enak badan, tapi sekarang sudah berobat, doakan besok sudah bisa masuk kerja,"


"Mengapa waktu itu mengatakan putus? apa salah ku ?"


Nadifa diam sebentar, melihati kamar tidurnya dan ruang kerja Galih. Ia takut jika Galih atau Gita mendengar percakapan ini.


"Jangan bahas itu sekarang, aku sudah tidak apa-apa, sudah pulang kerja belum? hati-hati dijalan ya, jangan lupa makan insya allah besok kita bertemu, aku tutup dulu ya, takut suamiku dengar,"


"Baiklah sayang,"


Tutt...sambungan terputus.

__ADS_1


Nadifa harus tetap berjalan pelan-pelan untuk Malik, bagaimana pun Malik masih bertahta dalam hatinya, ia tidak boleh menyakiti atau mengakhiri tanpa penjelasan yang tidak masuk akal, mereka bukan pasangan ABG yang membiasakan ucap perpisahan dengan menggunakan media telepon atau sms.


Hari ini ia ingin membuat Malik bernafas lega, bisa tidur enak dan nafsu makannya kembali dengan sempurna, karena ia tau merindu dalam ketidak pastian itu sangat menyiksa diri memuncah emosi.


__ADS_2