Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Hasutan


__ADS_3

Sejak kedatangannya yang di tolak saat mengunjungi ruangan kerja ayahnya hari itu, Shana memilih untuk tidak pernah lagi keluar kamar. wanita itu diam di dalam kamar sambil terus memikirkan kemungkinan kenapa ibu dan ayahnya terus menghindarinya. Hari ini adalah hari ke 3 dia berada di Prysona, dan keadaan tidak kunjung membaik. Shana mulai berfikir untuk kembali saja ke Garamantian jika memang kehadirannya di sini tidak di inginkan. Toh sejak menikah dengan Gyan, Prysona tidak lagi menguntungkan baginya.


tap tap tap


pelayan pribadinya masuk.


" yang mulia, Raja memanggil anda"


" akhirnya" lirih Shana lalu beranjak keluar dari kamar.


Shana memasuki ruangan kerja ayahnya dengan langkah anggun. Wanita itu menatap sekeliling, tidak ada yang berubah. Semua sama seperti saat terakhir kali dia lihat.


Di depan meja ayahnya sudah berdiri membelakanginya sedang ibunda duduk di sofa tak jauh dari sana.


" Ayah... bagaimana kabar ayah? Shana mendengar..." ucapa itu terputus tak kala ayahnya membalikkan badannya. Di lihat tubuh ayahnya, tidak terlihat seperti orang sakit. Bahkan wajah ayahnya sama sekali tidak pucat.


" ayah baik- baik saja?" lirih Shana menghentikan langkahnya dan menatap ayah dan ibunya bergantian. keduanya membalas tatapan Shana dengan kebisuan.


" ayah tidak sakit?" tanya Shana lagi. Kali ini dia menuntut jawaban. Dia menatap dalam ke arah ayahnya.


" tidak" jawab ayahnya singkat.


" kenapa kalian membohongiku?" pasangan suami istri itu tetap diam.


" kenapa kalian diam saja? apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?" lanjut Shana.

__ADS_1


Raja menatap istrinya, pertanda menanyakan apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya. Ratu mengangguk pelan, Shana yang melihat interaksi itu menjadi penasaran apa yang akan orang tuanya katakan.


" Shana, ayah ingin bertanya padamu. Apa kau ingin mengakui sesuatu? setidaknya merasa bersalah atas sesuatu?" Raja masih bersikap lunak. Selama ini dia tidak pernah memarahi ataupun menekan putri kesayangannya.


" mengakui apa? Shana tidak melakukan suatu kesalahan" jawab Shana yang belum mengerti kemana arah perbincangan itu.


" apa kau tidak merasa melakukan sesuatu yang jahat atau terlarang saat di Garamantian?" lanjut Raja, dia berharap putrinya mau mengakui perbuatan jahatnya. Jadi dia tidak terlalu kecewa.


" tidak ayah, aku hanya melakukan kewajiban dan tanggung jawabku disana. sebenarnya apa yang terjadi?" Shana masih belum peka, jika pertanyaan itu tertuju pada praktek sihir hitamnya.


" Shana, ibu dan ayah mendengar jika kau sering menggunakan sihir hitam di istana. apa itu benar?" giliran ibundanya yang sudah tidak bisa tertele-tele. kali ini dia harus tegas pada putri tunggalnya.


" sihir hitam? dari mana kalian tau? " Shana sedikit cemas dan panik. Dia berusaha menyembunyikan kebohongannya dalam raut wajah polosnya.


" Shana tolong jujurlah pada kami" pinta ibundanya yang kini sudah berdiri dari sofa. Dia mendekati Shana agar dia bisa jelas menatap kebohongan putrinya.


ibunya mengambil nafas dalam, ternyata benar kata Raja Gyan. Jika putrinya pandai memanipulasi keadaan. Sedangkan melihat wajah serius Shana, Raja Prysona malah menatap istrinya dengan wajah ragu.


" apa jika raja Gyan yang mengatakan semua itu juga termasuk fitnah?" ucap ibunda sedikit terbawa emosi.


Shana memaki dalam hati, lelaki itu ternyata sudah menyusun rencana untuknya. Pantas saja ibunya selalu mengacuhkan.


" Raja Gyan mengatakan apa pada ibunda? Raja pasti hanya salah paham"


" tidak Shana, ibu percaya jika Raja Gyan tidak main-main soal perkataannya pada ibu. Sekarang mengakulah dan bertobat nak. Ibu akan membantumu" Ratu Prysona mulai menurunkan egonya. Tidak ada untungnya jika dia emosi dan terus menyalahkan putrinya. Dia harus bisa membuat Shana sadar dan berubah. Dan salah satu caranya adalah dia harus tenang.

__ADS_1


" tidak ibu, Raja Gyan pasti mengarang soal semua itu. sebenarnya selama ini Raja Gyan sangat membenciku ayah, ibu. Raja Gyan pasti menyalahkan aku atas kematian selirnya. Dia pasti ingin aku pergi dari kerajaan dan mengatakan omong kosong itu pada ibu" hasut Shana.


" Shana, sudah hentikan nak. jangan mengelak dan berbohong. Disini yang berbicara omong kosong itu kamu nak. Ibu sudah melihat semua buktinya, ibu.."


" ibu, ayah. tolong percaya pada Shana. Raja Gyan tidak pernah mencintaiku. Dia selalu saja bersama dengan selirnya. Beberapa hari yang lalu selirnya meninggal dunia, banyak yang beranggapan dialah yang melakukan sihir hitam bukan Shana, ibu ayah" Shana begitu menggebu-nggebu, perlahan ayahnya menjadi bimbang.


" apa benar itu?"


" ayah!? Shana sedang berbohong. kita harus percaya pada Raja Gyan"


" ibu pasti sudah masuk dalam siasat Raja Gyan. dia selalu pandai membuat orang percaya padanya"


" Shana ibu mohon sudah nak.."


" Ratu, aku rasa apa yang Shana ucapkan perlu kita pertimbangan. jika benar Raja Gyan membenci putri kita. mungkin apa yang Shana katakan itu benar. Raja Gyan memperdaya kita" Raja malah membela anaknya yang sedang bersandiwara.


" ibu percaya pada Shana"


Ratu terdiam menatap putri dan suaminya bergantian. Keduanya seakan mendesaknya agar dirinya tidak percaya dengan Raja Gyan. dia sedikitpun tidak meragukan perkataan Raja Gyan, tapi dia bingung bagaimana membuat kedua orang di depannya mengerti. Apalagi membuat putrinya mengaku, ternyata jauh lebih sulit daripada menasehatinya.


Ratu mengambil nafas panjang, dia harus menenangkan diri dan mencari cara agar Suaminya tidak terperangkap dengan ucapan Shana.


" baiklah, buktikan jika semua ucapan Raja Gyan itu hanya omong kosong, seperti yang kau katakan pada kami" jawab Ratu Prysona yang tidak ingin terus berdebat.


kini giliran ayah yang menatap Shana meminta jawaban.

__ADS_1


" baik ibu ayah. Shana akan membuktikan bahwa Shana tidak seperti yang Raja Gyan katakan"


__ADS_2