
Gyan berdiam di dalam istananya sambil memikirkan alasan kenapa bisa Valmira kabur dari kerajaan. Lelaki itu berdiri di jendela menara Kerajaan, sambil pikiran melayang kemana- mana. Satu hal yang masih terbesit dalam pikirannya adalah mata- mata Shana bahkan mengetahui kejadian ini sejak awal. Jika begitu wanita itu pasti sedikit tau rencana melarikan diri Valmira.
" pelayan!" panggil Gyan
" iya yang mulia" pelayan langsung berlari menuju asal suara.
" panggil Shana kemari" perintah Gyan, dia akan bertanya sendiri. Jika sampai ada keterlibatan wanita itu dalam kaburnya Valmira, jelas dia tidak akan tinggal diam.
" baik yang mulia" jawab pelayan itu dengan cepat, disusul dengan dia berbalik badan dan melaksanakan perintah Gyan.
Pelayan itu berjalan secepat yang dia bisa, dan akhirnya sampai di depan istana ratu dengan nafas tersengal-sengal.
" yang mulia Raja,.. memanggil Ratu ke istananya" pelayan itu dengan sedikit terbata-bata akhirnya menyampaikan perintah Gyan pada pelayan istana.
saat pelayan istana ratu masuk, dia mulai mengatur nafasnya.
" Yang mulia Ratu, Raja Gyan memanggil anda untuk segera ke istananya" ucap pelayan saat Shana baru saja selesai sarapan.
" Raja? ini pasti ada hal bagus. baiklah" ucap Shana segera masuk ke kamar. Dia akan berganti baju agar membuat penampilannya menarik. wanita itu tidak tau apa yang sedang menunggunya di istana Gyan.
Beberapa saat setelahnya, Shana dengan rombongannya berjalan mendekati istana Raja.
" yang mulia" ucap penjaga istana Raja. Mereka memberikan hormat. Para rombongan berdiri dan menunggu di depan istana.
" yang mulia" ucap Shana setelah masuk dan mendapati Gyan berada di ruang depan.
" masuklah" balas Gyan datar.
Shana berjalan dengan gaya anggunnya masuk kemudian duduk dihadapan Gyan.
" ada keperluan apa yang mulia memanggil saya datang kemari?" Shana membuat suaranya sehalus mungkin untuk menarik perhatian Gyan.
__ADS_1
" kau tau jika Alora pergi?"
" selir Alora? pergi? kemana?" tanya Shana mengada-ngada. Dia membuat ekspresi terkejut dengan sangat baik.
" bukankah selama ini kau berada di istana? bahkan sering mengajak Alora ke istanamu. berita sepenting ini kau tidak tau?" tanya Gyan dengan nada tinggi.
Lelaki itu tidak mudah di bohongi. jelas sekali jika Shana merasa senang dengan perginya Valmira dari kerajaan.
" saya benar-benar tidak tau yang mulia" jawab Shana mengiba. Dia akan membujuk Gyan agar mau percaya padanya.
" benar kau tidak tau?" tanya Gyan sekali lagi dengan penuh penekanan.
" benar yang mulia, saya baru tau sekarang dari yang mulia" Shana begitu menyakinkan. Jika orang lain yang melihat pasti akan tertipu dengan mudah.
" itu artinya kau lalai dalam menjalankan tugas sebagai seorang Ratu" desis Gyan tidak akan melepaskan hal ini begitu saja. Lelaki itu akan melampiaskan rasa kesal dan tidak terimanya pada siapapun yang terlibat.
" a.apa maksud yang mulia?" tanya Shana mulai berkeringat dingin. Dia merasa telah melakukan sebuah kekeliruan. Apa yang salah dari jawabannya, Shana pun tak tau.
Shana terlihat ketakutan dan menelan kasar ludahnya.
" am.puni saya yang mulia" ucap Shana cepat mencari aman.
" kau yang bertanggung jawab saat aku tak ada. Tapi malah tidak tau berita penting ini. Kau harus mendapatkan hukuman" ucap Gyan bukan untuk menakut nakuti. Dia yakin akan memberikan hukuman pada Shana sebagai efek jera.
Shana terdiam tidak percaya, dia berbohong tidak tau agar dirinya aman dan terlepas dari segala tuduhan. Sayangnya bukannya aman, dia malah mendapatkan hal yang lebih buruk.
" ampun yang mulia" Shana segera bersimpuh dan menengadahkan wajahnya di hadapan Gyan.
" kau harus belajar apa itu tanggung jawab." balas Gyan tidak goyah sedikitpun.
" mulai sekarang dan sampai seterusnya, pelayanmu akan di kurangi setengah. Dan dalam satu pekan kedepan kau dilarang keluar istana Ratu ataupun menerima tamu dari luar" ucap. Gyan final.
__ADS_1
Shana yang mendengarnya langsung melotot tak percaya. Pelayan istana akan berkurang banyak, dia harus bagaimana.
" yang mulia, mohon maafkan saya. Saya janji setelah ini akan melaksanakan tanggung jawab saya dengan baik" Shana semakin maju dan berniat memegang kaki Gyan. Lelaki itu lebih dulu mundur dan membuat jarak di antara mereka. Pupus sudah harapan Shana untuk memohon pada lelaki itu.
" lebih baik sekarang aku pergi" saut Gyan tak ingin melihat wajah wanita ini terlalu lama.
" tidak yang mulia, saya mohon maafkan saya. Saya berjanji kali ini" Shana panik, dia belum bisa mengganti keputusan Gyan. wanita itu berjalan menggunakan lututnya untuk mendekat.
" tidak, ini hukuman yang pantas. penjaga!" Gyan tidak mau bertele-tele. Dia ingin Shana pergi dari istananya.
" yang mulia, hiks hiks" Shana mulai menangis tidak terima dengan keputusan Gyan. Dia tidak melakukan apapun selain menghalangi penjaga pintu belakang bertugas. kenapa hukumannya bisa seberat ini. sial sekali.
Shana mau tak mau akhirnya berdiri. Dia tidak mau di seret penjaga keluar. Tidak mau status Ratunya akan direndahkan begitu saja.
" baiklah jika itu keputusan yang mulia, saya akan menerimanya dengan baik. Saya pamit" ucap Shana setengah menahan emosi. Dia lebih baik mengalah dan menerima. Toh. masih banyak waktu untuk mendapatkan perhatian Gyan.
" pergilah" Gyan membuang muka dan langsung berjalan masuk tanpa menunggu Shana keluar dari istananya.
Tak ada yang tau, jika Shana mengepalkan telapak tangannya sepanjang keluar dari istana untuk menahan emosi. Wanita itu berjalan cepat menuju istana Ratu. Beberapa pelayan yang melihat raut tegang Shana membuat mereka menilai jika sudah terjadi hal yang buruk pada junjungan mereka. Tak ingin membangunkan macan tidur. mereka hanya bisa memendam penilaian itu di dalam hati.
"akkkk, sialll, brengsek kau Alora!!" teriak Shana kesal bukan main.
" selalu saja merusak hidupku. Bahkan saat sudah tak lagi di kerajaan, dia masih bisa dengan pengaruhnya membuatku mendapatkan hukuman. Dasar Wanita rendahan!" ucap Shana tidak berhenti, dia mengucapkan sumpah serapah pada Valmira.
" yang mulia mohon redakan emosi anda. Apa yang bisa saya lakukan untuk menghibur yang mulia?" tanya pelayan pribadi Shana yang khawatir atas sikap Ratu yang terus marah-marah.
" siapa kau yang berani meredakan emosiku, hah!" Shana tidak bisa mengkontrol emosinya. Mau apapun yang dia temui pasti akan mendapatkan amukannya.
" ampuni saya yang mulia, saya memang bodoh" jawab pelayan itu agar Shana tidak melanjutkan kemarahannya.
" kau memang bodoh, " saut Shana cepat dan lugas.
__ADS_1
" pergi dari sini" lanjut Shana mengusir pelayan pribadinya.