
Kangta pergi begitu saja, sedangkan Valmira hanya diam menatap lelaki itu yang berjalan menjauh. Dia tidak merasa curiga sedikitpun, hanya saja dia semakin yakin kalau dia saat ini benar-benar sedang hamil.
Berbeda dengan Valmira, Gyan yang melihat serta menyaksikan bagaimana reaksi wajah Kangta, tentu saja bisa menebak jika lelaki tua menemukan sesuatu yang janggal. Akhirnya Gyan berjalan mengikuti langkah Kangta. Kening Gyan semakin berkerut tak kala Kangta membawanya menuju menara yang biasa dia kunjungi.
" kau sengaja?" tanya Gyan begitu lelaki itu berhenti di depan salah satu jendela menara.
" aku sudah tau jika kau sedari dari memperhatikan" jawab Kangta. membuat Gyan terkekeh sesaat. lelaki tua ini ternyata tidak mudah di tipu.
" apa yang kau temukan?" tanya Gyan tanpa basa-basi.
" selirmu ini, baru pertama kali aku menemukan semacam ini" jawab Gyan sambil menatap langit malam. tidak mudah menjelaskan apa yang sudah dia temukan pada tubuh Valmira.
" jadi benar, jika Alora seorang penyihir?" Gyan semakin tidak mengerti kemana arah maksud ucapan Kangta.
" ada sesuatu di dalam diri wanita itu, yang mengingatkanku pada Ratu Marilla, entahlah. Tapi sebagai penyihir, wanita itu tidak memiliki inti jiwa. Sangat aneh bahkan mustahil. Seharusnya penyihir lain akan mati tanpa perlindungan dari inti jiwa. Wanita ini entah kenapa masih bisa bertahan bahkan dalam keadaan mengandung" jelas Kangta panjang lebar. Dia mengeluarkan semua kejanggalan dalam penemuannya.
" tidak heran jika Alora pernah aku berikan energi dan keadaanya malah jauh lebih baik. Tidak seperti manusia biasa yang malah mati jika mendapat kelebihan energi sihir"
" Jadi itulah alasannya, di tubuhnya memiliki energi sihir memang, sayangnya dengan tidak ada inti jiwa energi itu kelamaan akan habis. tinggal menunggu waktu saja sampai itu terjadi" ucap Kangta lesu. begitupun dengan Gyan. Baginya sekarang, keselamatan Valmira menjadi sangat penting. Ada bayi nya disana, mau bagaimanapun Valmira harus bisa bertahan sampai bayi itu lahir.
__ADS_1
" kau memiliki benda yang bisa memancarkan dan memiliki energi sihir?"
" ada beberapa. mau kau gunakan untuk wanita itu?"
" tentu saja"
" itu sangat mustahil tidak akan bisa menyelamatkan selir dan bayimu, bayi itu semakin bertumbuh semakin banyak menyerap energi ibunya. Jika penyihir normal saat usia ke 4 bulan, keduanya akan mentransfer energi sihir untuk membentuk inti jiwa bayi nya. Tapi kali ini berbeda dan tidak mungkin terjadi. Aku harus mengatakan jika kemungkinan bayi mu tidak selamat sangatlah besar" Kangta mengatakan sejelas jelasnya. Dia ingin Gyan tidak banyak berharap pada selirnya. Valmira tidak memiliki banyak waktu untuk bertahan. energi dalam tubuhnya akan habis dan tubuhnya melemah, berujung pada kematian.
Gyan menarik nafas panjang, dia tidak menyangka selain masalah kerajaan Mystick. masalah selirnya ternyata juga membutuhkan perhatiannya. Dia harus memutar otak agar kelangsungan hidup selirnya bisa sedikit lebih lama.
" jangan berfikir untuk menggunakan energimu untuk menyelamatkan bayi nya, kau hanya menguras energi sama hal nya dengan bunuh diri. Kau jauh lebih berguna untuk masalah Mystick. setidaknya kau bisa mencari wanita lain dan memiliki anak darinya. lepaskan saja wanita itu" saran Kangta yang tau benar niat Gyan. jika sampai Gyan memberikan energi sihir seluruhnya memang akan bisa menyelamatkan bayinya, tapi dirinya akan tidak selamat. Kangta tidak mau hal itu terjadi.
" tunggu" Gyan berhenti dan membalikkan badan menghadap Kangta.
" ini, berikan gelang ini padanya. Ini berisikan sedikit energi Marilla. Setidaknya bisa membantunya" Kangta memberikan sebuah gelang giok berwarna putih kebiruan. Marilla memberikan agar dia bisa menemukan keberadaanya. Kini gelang itu tidak ada gunanya lagi baginya.
" baiklah terimakasih" jawa Gyan.
" besok aku memulai perjalan ke Klan Ralba, jika membutuhkanku cukup pasang daging untuk elang ku di atas menara" pesan Kangta. Gyan mengangguk dan kedua lelaki itu berpisah.
__ADS_1
Gyan kembali ke istananya dan menemui Valmira di kamar. Setelah makan wanita itu mengantuk jadi memilih untuk berbaring di ranjang. Dan kini dengan mudah sudah masuk dalam alam mimpi.
Gyan mendekat ke ranjang, menatap Valmira lama. Wanita di depannya ini entah bagaimana bisa memiliki nasib yang begitu menyedihkan. mengingat jika tidak banyak waktu yang mereka punya membuat kemarahan Gyan sirna begitu saja. Digantikan dengan rasa takut kehilangan.
" bertahanlah" cicit Gyan lalu duduk di tepi kasur. mengambil tangan Valmira dan memasang kan gelang pemberian Kangta.
Setelahnya lelaki itu ikut terbaring di samping Valmira. membawa wanita itu dalam dekapannya. mencium aroma khas wanita itu selama yang dia bisa.
Tak ada yang tau jika gelang di tangan Valmira mendadak mengeluarkan cahaya biru. jiwa Valmira dan Marilla memiliki banyak kesamaan, gelang itu bisa menyadarinya dengan cepat jika Valmira adalah keturunan asli pemiliknya. Tak heran energi yang dihasilkan gelang itu semakin banyak.
Pagi harinya, berita kembalinya selir Alora sukses membuat Shana meradang penuh amarah. Bagaimana bisa wanita itu kembali lagi merusak hidupnya.
" kenapa bisa wanita rendahan itu kembali lagi?!" tanya Shana pada pelayan yang baru saja memberikan kabar.
" saya mendengar jika yang mulia sendiri yang mencari dan membawa selir ke istana" jawab pelayan itu dengan sedikit takut.
" sial! " teriak Shana, Dia tidak bisa melakukan apapun. Masa hukuman dari Gyan belum selesai. Dia terpaksa menahan diri karena terkurung dalam istananya sendiri.
" yang mulia ratu tenangkan diri anda, jangan marah" pelayan itu mencoba menenangkan junjungannya.
__ADS_1
" aku akan melakukan apapun untuk membuat wanita itu di usir dari sini. Kau tetap mata-matai selir itu. Kita tidak boleh kalah seperti ini" desis Shana penuh kebencian. Pelayan itu mengangguk berkali-kali sebagai jawabannya.