
Valmira terduduk di atas ranjang, dia baru saja sampai setelah kegiatan 'jalan-jalan' bersama dengan Kangta. Wanita itu masih memikirkan penjelasan lelaki tua itu mengenai pengaruh dirinya terhadap keputusan yang Gyan ambil. Valmira seakan tidak percaya jika Kangta, lelaki tua yang dia kira baik malah menginginkannya tewas di depan Gyan. Agar lelaki itu tenang dan tidak mengorbankan kerajaan.
Langit pagi sudah mulai terang, namun Valmira masih saja terpaku sambil meremas kedua tangannya. Dia begitu cemas dan takut dengan perintah Kangta padanya. Haruskah dia melakukan ini dan membuat hidupnya di sisi Gyan selesai.
" Alora. tumben sekali kau sudah bangun pagi-pagi buta" ucap Fleur yang masuk ke kamar. Dia berniat mengecek kondisi Valmira awalnya malah mendapati wanita itu sudah terjaga.
" emm" Valmira masih belum fokus, dia hanya menatap Fleur dengan deheman.
" kau ini terlihat begitu capek, lebih baik kau tidur lagi saja" saran Fleur mendekati Valmira.
Valmira mengangguk pelan. dia memang tidak tidur semalaman. wajahnya terlihat seperti orang lelah dan mengantuk.
" sini aku bantu, saat makanan sudah siap aku akan membangunkan mu lagi" Fleur tidak terlalu curiga, malah membantu Valmira untuk menaiki ranjang dan memaksa Valmira agar tidur kembali. baru setelahnya dia merasa lega dan pergi keluar kamar.
Di sisi lain hari beranjak siang, di istana Ratu terlihat begitu sibuk. Meski Gyan sempat memberikan hukuman agar pelayan istana Ratu dikurangi. Tapi dengan watak Shana saat ini yang seakan memulai peperangan dengan Gyan tentu saja dengan tanpa kesulitan melawan hukuman itu. istananya kembali ramai penuh dengan pelayan. Di tambah desas desus yang tersebar membuat pelayan dengan suka hati melayani sang Ratu.
__ADS_1
" kau ambilkan buah itu" perintah Shana kepada pelayannya. Dia baru selesai dandan dan kini duduk di ruang santai dengan di depannya penuh dengan aneka ragam menu sarapan. Posisinya setengah berbaring di atas karpet lembut dan bantal-bantal empuk.
" baik ratu" pelayan mengambilkan sebuah buah segar yang di tunjuk Shana. Dan memberikannya dengan hati-hati.
Namun belum juga sampai tangannya sedikit tergelincir.
" aaakk" Shana berteriak kaget saat buah itu jatuh di atas pakaian sutranya.
" kau ini!" Shana beranjak duduk.
Shana menatap tajam pelayan yang masih bersimpuh dan terus meminta maaf. semua pelayan menunduk terdiam sambil mencuri-curi apa yang akan terjadi selanjutnya. bahkan ada yang menahan nafas saking takutnya akan apa yang terjadi selanjutnya.
Shana hendak memberikan hukuman tapi tiba-tiba sebuah siasat licik terpikir dalam benaknya.
" lain kali hati-hati" ucap Shana membuat pelayan seakan terpana tidak percaya. Ratu nya terlihat begitu baik hati dan pemaaf.
__ADS_1
pelayan itu mendongak menatap Shana ragu-ragu.
" Ratu tidak menghukum saya?" tanya pelayan itu terbata-bata.
".sudahlah, ini hal biasa" jawab Shana dengan senyum tipis, dia mengambil lap yang di gunakan pelayan pribadinya untuk membersihkan gaunnya. Lalu mulai membersihkan sendiri. Wajahnya terlihat sangat bersahabat dan tidak ada raut marah sama sekali.
" Ratu baik sekali, saya tidak sengaja mengotori gaun Ratu tapi Ratu tidak marah. anda sangat cocok menjadi Ratu kerajaan" sanjung pelayan itu membuat Shana tersenyum senang, rencananya berjalan dengan mulus.
" sudah pergilah" balas Shana dengan lembut.
" kalian juga" lanjut Shana, seketika.pelayan yang ada di ruang santai pergi.
" bersihkan ini" suruh Shana pada pelayan pribadinya sambil memberikan kode menuju gaunnya.
" Ratu baik sekali pada pelayan itu. saya salut" ucap pelayan pribadinya yang begitu percaya dengan siasat Shana.
__ADS_1
" itu hanya permainan. aku ingin kau potong tangan pelayan itu. Enak saja, dia sudah membuat kotor gaun mewahku mana mungkin aku lepaskannya" jawab Shana terus terang. pelayan pribadi itu tersenyum tipis, inilah sikap asli junjungannya.