
Jangkar kapal segera di turunkan di posisi yang dekat dengan dinding kaca. Kangta mulai menanyakan ketinggian dinding pada Valmira.
" kemungkinan ada sekitar 100 kaki. Tapi aku juga tidak bisa menjamin kalian bisa lolos" ucap Valmira.
" aku akan mencoba,"
Kangta membuat semacam ilusi hewan sihir untuk bisa terbang melampaui ketinggian yang di maksud.
Aislinn dan Zephyr masih mempersiapkan diri, dan setelah hewan milik Kangta siap mereka ikut naik ke geladak.
" kita akan menggunakannya?" tanya Zephyr yang baru saja sampai.
" masih di coba, siapa tau ini akan menjadi jalan keluar yang cocok" jawab Deon.
Semua mata memandang saat Kangta perlahan menaiki hewan tersebut. Kondisi tenaga dalamnya sedikit lebih baik, sihirnya bisa sedikit meningkat.
Kangta terbang sesuai dengan arah dari Valmira. Semua menunggu dengan was was. Dari bawah juga Valmira harap-harap cemas. Semoga saja memang ini cara terbaik untuk keluar.
mata Valmira semakin melebar tak kala Kangta sudah hampir mencapai ujung dari pembatas.
srekkk
terjadi sedikit kilatan, Kangta turun sejenak lalu mencobanya lagi.
srekk
terjadi lagi, harapan Valmira mulai menipis. Sedangkan Kangta masih belum menyerah, dia terus terbang dan mencoba menerobos.
srekkk
kali ini lelaki terpental dan ilusi sihirnya menghilang. Deon segera memberikan bantuan sihir, membuat Kangta bisa turun di geladak dengan selamat.
" tidak bisa di tembus" ucap Kangta dengan memegang dadanya yang sakit. tenaga nya kini melemah kembali.
" aku akan mencoba" ucap Zephyr dan menaiki ilusi binatang sihir.
Semua melihat dengan seksama, hal yang sama terjadi. Begitupun saat Deon mencobanya. Harapan mereka langsung pupus seketika.
" sepertinya kita tidak akan terkurung disini selamanya" lirih Aislinn.
tinggal 2 ilusi hewan, Valmira mencoba dengan kekuatannya. mungkin bisa membuka pembatas itu.
" Alora, itu sangat berbahaya" larang Aislinn.
" jangan nekat, kau sedang hamil juga" Zephyr menimpali.
" jangan khawatir"
Kangta dan Deon tidak bersuara. kejadian kemarin seolah membuat mereka yakin jika Valmira memiliki kekuatan khusus melebihi mereka.
Alora perlahan naik, dan dengan mudah melewati pembatas itu. sama seperti saat bersama dengan Kangta. Valmira tidak menemui kesulitan, dan ini membuat bingung wanita itu. Alasan apa yang membuat dirinya dengan leluasa bisa melakukannya.
Tidak hanya di situ, Valmira mulai mengumpulkan kekuatannya demi membuka dinding pembatas.
Kangta yang melihatnya di buat ketakutan, dia menggunakan ilusi hewan dan terbang dengan cepat menyusul Valmira.
" berhenti" Valmira memberikan perintah, Kangta terbang di bawahnya. Atau akan menabrak pembatas lagi.
" apa yang kau lakukan?" Kangta bertanya dengan sedikit keras.
" aku akan mencoba membuka jalan untuk kalian" jawab Valmira.
" apa kau yakin? tubuhmu apakah kuat melakukannya?"
__ADS_1
" aku akan mencoba, jangan khawatir aku tidak akan memaksakan diri"
Valmira mulai mengumpulkan energinya di telapak tangan. Meski sedikit kesusahan dia berusaha mengingat dari kejadian sebelumnya.
cahaya biru mulai terlihat, menubruk pembatas. Hal itu berlangsung cukup lama, tapi tidak ada sesuatu yang terjadi. percobaannya sia-sia.
" Alora hentikan, kita cari cara lain saja" bujuk Kangta.
" sebentar" Valmira masih keras kepala.
Hingga sampai batas, Valmira menyudahi aksinya dengan nafas tersengal-sengal. keduanya kini turun ke kapal.
" bagaimana?"
Valmira dan Kangta sama-sama menggeleng.
" tamatlah riwayat kita" celetuk Zephyr.
" kita coba cara lain," Deon memberikan sedikit semangat.
Valmira terus memikirkan cara lain. Namun tiba-tiba sudut matanya melihat ada Sereia berenang ke permukaan. Dia seakan memanggil Valmira untuk mendekat.
" aku akan ke kamar dulu" ucap Valmira mencari alasan. Semuanya mengangguk memakluminya.
saat akan memasuki kabin, Valmira malah berbelok ke bagian belakang geladak. Dan dengan kekuatannya dia turun ke permukaan air. Ternyata kudanya juga sudah menunggunya. Sereia dan kuda itu segera menyelam dan membawa Valmira ke suatu tempat. Tempat paling terdalam dan gelap. Disana ada sebuah cahaya merah yang memancar, wanita itu melihatnya dengan jelas.
Sereia menunjuk kearah sana, dan Valmira memacu agar semakin dekat dengan cahaya itu.
ternyata cahaya itu berasal dari sebuah bunga yang tertanam di sana. Valmira masih belum mengerti maksud dari Sereia membawanya kesini. Valmira menatap dengan seksama. tanaman itu selain memiliki bunga juga ada buahnya. Apa mungkin buah ini yang Sereia maksud.
Valmira menatap Sereia, lalu duyung itu mengangguk, seakan mereka memiliki pemikiran yang sama. perlahan Valmira mengambilnya dan membawanya menuju permukaan, dan kembali ke kapal.
Valmira tidak peduli dengan pakaiannya yang basah, dia tetap menemui orang Kangta dan Deon di ruang kendali.
" aku menemukan cara agar kita bisa melewati dinding itu" balas Valmira dengan tersenyum senang.
" bagaimana?"
" ini Sereia menunjukkan aku buah ini, " sambil menaruh buah sebesar genggamnya diatas meja.
" kau baru menyelam lagi?"
" buah apa itu nona?"
tanya Kangta dan Deon bersamaan.
" iya, tapi aku tidak tau buah apa itu" jawab Valmira untuk dua pertanyaan sekaligus.
" aku tidak Pernah melihatnya sebelumnya" Kangta yang berusia cukup tua saja tidak bisa mengenali buah ini. Apalagi Deon dan Valmira.
" apa dengan memakan buah ini kita bisa lolos dari sini?" Deon mencoba menerka-nerka.
" bisa jadi, sayangnya dengan manfaat sebesar itu apa tidak menimbulkan efek pada tubuh kita?"
" aku akan mencobanya" lanjut Kangta.
" jangan tuan, biar saya saja. Jika sampai terjadi hal buruk biar saya yang menerimanya" cegah Deon. Kangta adalah pemimpin perjalanan ini. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
" baiklah" jawab Kangta enteng.
kini Valmira mulai membagi buah tersebut menjadi beberapa bagian kecil. Deon mengambil salah satu bagian dengan perasaan ragu. bahkan tangannya berkeringat dingin saat mulutnya terbuka.
" jika aku mati, kirimkan permintaan maaf ku pada Raja Gyan" ucap Deon takut jika buah ini beracun.
__ADS_1
" Deon, jika kau ragu. Aku tidak memaksa". lirih Valmira merasa takut juga.
" aku sudah bertekad" Deon dengan cepat langsung memakan buah itu.
Kangta dan Valmira terus mengawasi, apa mungkin ada rekasi yang ditimbulkan dari buah tersebut.
" bagaimana? apa kau tidak merasakan sesuatu?" Kangta mulai penasaran.
" Deon, kau tak apa?" giliran Valmira.
Sedangkan Deon belum bisa menjawab, ada sesuatu yang terjadi tapi Deon tidak bisa mengatakannya.
" kita bawa di menuju pembatas" usul Kangta, takutnya efeknya hanya terjadi secara singkat.
" baiklah " jawab Valmira
Perlahan Kangta membuat kembali ilusi hewan yang lebih besar. Dia dan Deon menaikinya dan terbang menuju dinding tak jauh dari sana. Dan benar saja saat tangan Deon terbuka dan bersentuhan dengan dinding, semuanya baik baik saja.
" bagaimana?" tanya Kangta yang baru saja kembali.
" tangan Deon memang bisa menembus dinding" lirih Valmira.
" baiklah kita gunakan itu. aku akan memanggil Zephyr dan Aislinn"
" tapi tunggu, setelah melewati dinding. Apa itu artinya kita masuk dalam tabir selanjutnya?"
" entahlah. Sejauh ini kita memang tidak melihat pulau"
" Kangta, aku memiliki firasat jika sebaiknya kita urungkan saja pencarian pulau Marilla"
" kenapa?"
" entahlah. perasaanku tidak enak, banyak sekali ancaman saat menuju ke sana"
" ada ancaman besar di pulau itu. Jika kita tidak menghentikannya maka akan terjadi kerusakan di Azerbaza. Aku tau kekhwatiranmu Alora. Maaf sudah membawamu dalam hal membahayakan seperti ini" Kangta berfikir jika Valmira ketakutan.
" apa kau dan yang lain tidak takut mati?"
" aku bahkan rela jika kematianku bisa menghentikannya"
Valmira tiba-tiba merasakan lega, ternyata bukan dirinya saja yang berfikir jika kemungkinan mereka akan lebih dulu menemui kematian daripada pulau Marilla.
" baiklah, mari kita pergi dari sini"
" tuan!" teriak Deon dengan cemas.
sontak Kangta dan Valmira menoleh bersamaan.
" ada apa?"
" sihirku, kekuatanku menghilang. Aku tidak bisa merasakan energi sihir dalam tubuhku" jela sekali raut kepanikan di wajah Deon.
" kau bercanda?"
" tidak, bagaimana ini tuan?"
" tenang, kita tunggu saja. Mungkin ini salah satu efek dari buahnya" Kangta sedikit menghibur. Dia sendiri juga cemas bila energi sihir Deon akan menghilang permanen.
" jika tidak kembali bagaimana, aku akan jadi manusia biasa. tidak"
" Deon kendalikan dirimu. Bukankah kau tadi rela terjadi hal buruk asal tidak pada Kangta. Sudah kita tunggu saja, kau tenang dulu"
" em baiklah. maafkan aku " Deon mulai berangsur tenang. Kangta dan Valmira hanya bisa berharap jika efeknya hanya sementara.
__ADS_1