
Gyan memilih beranjak dari ranjang dan berdiri di samping tubuh Valmira. Dia menyiapkan diri untuk mentransfer energinya ke tubuh Valmira. Bagi Gyan rambut memutih milik Valmira adalah tanda jika tubuh wanita itu semakin melemah. kandungannya semakin membesar pasti janinnya juga membutuhkan banyak energi.
" bertahanlah " lirih Gyan sebelum akhirnya cahaya emas keluar dari tangannya dan masuk ke dalam tubuh Valmira. Wanita itu sama sekali tidak menyadari akan hal ini, bahkan sejak awal pun dia tidak tau jika Gyan sudah sering mentransfer energinya ke tubuhnya.
tak lama energi itu terputus dengan nafas Gyan yang sedikit tersengal. Tubuhnya kehilangan sejumlah energi membuatnya lemah seketika. Di sisa tenaganya dalam jumlah yang banyak, Gyan kembali membaringkan tubuhnya di samping sang selir dan perlahan menutup matanya.
......................
" sepertinya kau lebih bersemangat setelah bertemu dengan yang mulia" ungkap Fleur saat sedang menemani Valmira makan siang.
" mungkin bayi ini merindukan ayahnya" jawab Valmira pelan. Dia memang terlihat sedikit bertenaga.
" kalau begitu sering-sering saja kau mengunjungi yang mulia" saran Fleur antusias. Dia tidak tahan jika melihat Valmira lemas seperti kemarin. hanya menghabiskan waktu di dalam kamar tanpa mau berbincang dengannya.
" yang mulia sangat sibuk. tidak enak juga terus mengganggunya" jawab Valmira, lalu menyudahi makan siangnya lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
" kau sudah selesai?" Fleur memastikan. Valmira mengangguk pelan sebagai jawabannya.
" tumben sekali, apa makanannya tidak enak?"
" enak sekali, tapi perutku rasanya kenyang"
Valmira memilih kembali masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Fleur yang terus menatapnya hingga menghilang dari ruangan. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil menghela nafas panjang. matanya menatap laci yang berada di meja samping. Disana tempat dia menyimpan sebuah benda yang tidak lama lagi akan dia gunakan.
' aku ingin kau minum ini saat yakin Gyan ada di sisimu. aku hanya bisa mengatakan jika efeknya tidak akan lama. kau tidak akan merasakan sakit'
dia bisa mengingat dengan jelas bagaimana perkataan Kangta saat memberikan sebotol cairan yang akan menyudahi hidupnya disini. Valmira tidak berani menolak, karena dia juga merasa bersalah jika sampai Gyan benar- benar memilihnya dan membuat Garamantian kosong tanpa tahta Raja. Dia akan berhutang banyak pada ribuan masyarakat Garamantian serta dunia sihir akan kehilangan seseorang yang sangat berpengaruh, jika sampai Gyan benar-benar tak mau kehilangan dirinya dan bayinya. Valmira tak mau sampai itu terjadi.
......................
Di sisi lain, penghuni kerajaan kembali mendapatkan sebuah informasi baru. Mereka semakin yakin jika Valmira adalah penyihir hitam, setelah pelayan mengatakan jika selir Agung berubah menua dengan cepat. Sebagian beranggapan jika hal itu pasti akibat dari aktifitas jahat Valmira selama ini.
__ADS_1
" aku yakin sekali jika semakin lama selir Agung pasti akan membuat Raja menjauhi Ratu. Dia pasti akan membuat kekacauan di kerajaan" ucap salah satu pelayan yang sengaja mengompori yang lain. karena dia adalah pelayan setia sang ratu.
" iya pasti itu terjadi, kalian masih ingat bukan saat pesta penyambutan ibu suri? bagaimana dia dengan sombongnya berjalan beriringan dengan Raja saat di sana ada Ratu? wanita itu pasti sangat licik. Bagaimana bisa Raja diam saja menghadapi masalah ini" yang lain ikut menimpali.
" iya benar. kita harus bagaimana? apa mungkin kerajaan akan segera hancur?" tanya yang lain dengan cemas.
" kita hanya bisa berdoa agar Ratu bisa segera menyingkirkan Selir itu" pelayan Ratu semakin memprovokasi mereka.
situasi semakin tidak terkendali, hampir pelayan dan bangsawan mempercayai semua berita jahat mengenai Valmira. Hanya segelintir orang yang mencoba berfikir positif dan jernih. Seperti Ibu suri dan juga putri Farfalla. Kedua wanita itu meski tidak membela Valmira tapi mereka merasa jika kabar di luar sudah keterlaluan.
" ibu apa tidak lebih baik kita melihatnya sendiri ke kamar Selir Agung. Kita bisa memastikan jika apa yang pelayan itu katakan memanglah salah" ajak putri Farfalla yang masih berfikir positif.
" kau mau mengunjungi Selir Alora saat keadaan seperti ini?" tanya ibu suri yang sedikit enggan bertemu dengan Valmira.
" justru karena keadaan seperti ini kita harus memastikannya sendiri"
__ADS_1
" jika kau tau apa yang tersebar adalah benar, memangnya mau apa? menekan Raja ? tidak mungkin bukan. Sudah lebih baik kita pura-pura tidak tau. Selama Raja masih melindungi selir Alora, kita jangan terlalu ikut campur" jelas ibu Suri. menjauhkan diri dari masalah adalah hal yang utama baginya.
" ah ibu," Farfalla tampak kecewa. Tapi dia masih memiliki tekad untuk berkunjung ke kamar selir Agung. Dia ingin melihatnya sendiri, bagaimana bisa ada orang yang menua secepat itu. Farfalla merasa aneh dan penasaran.