
Kabar yang baru saja Valmira dapatkan langsung ingin dia sampaikan pada Gyan.
" dimana Gyan?" tanya Valmira pada Aden dan Deon yang sedang berpatroli.
" yang mulia berada di area istana Harem bersama dengan Putri Falla"
" baiklah " Valmira memikirkan sejenak. Kedua kakak beradik itu pasti sedang mengunjungi kamar ibu suri Raveena.
" mungkin lebih baik aku tidak mengganggu mereka" lirih Valmira, dan berjalan kembali ke istana Raja. wanita itu sambil menimang G menunggu kedatangan Gyan.
Seperti yang sudah mereka sepakati, acara pemakaman ibu suri Garamantian Secara simbolis akan di laksanakan besok. Gyan dan Falla tengah memilah-mulai barang-barang yang akan mereka masukkan ke dalam peti Raveena.
" apakah semua perhiasan Raveena akan kau masukkan? pilihlah beberapa untu kau pakai sebagai peninggalan dari nya" ucap Gyan menatap Falla yang mengemasi perhiasan ibu suri.
" apa boleh?"
" tentu saja, dia selalu memanjakan mu, aku yakin jika Raveena mau semua perhiasan nya akan dia berikan pada mu"
" baiklah aku akan memilih beberapa untuk aku pakai dalam acara-acara khusus"
" iya, itu pilihan yang bagus"
" em, kak sebenarnya aku ingin tau bagaimana bisa aku sampai di istana ini. Saat masih bersama dengan ibu aku takut bertanya mengenai hal ini, aku takut pertanyaan ini akan membuat nya sedih"
Gyan terdiam menatap Falla dalam, memang ini masih menjadi Rahasia rapat antara diri nya dan Raveena saja.
" jangan memikirkan masa lalu, biarkan kau tau jika ibu mu hanyalah Raveena. mau bagaimanapun ceritanya, Semua itu memang sudah menjadi takdir mu" Gyan memeluk Falla pelan.
" kamu adalah harta paling berharga untuk kami berdua. Kakak akan menjaga dan memastikan kau akan aman di mana pun kau berada"
mendengar perkataan Gyan, Falla malah teringat dengan lembaran yang berisi surat perjodohan pernikahan dirinya yang di setujui oleh ibu suri dan juga Gyan.
" apa kakak yakin akan menikahkan aku dengan lelaki pilihan ibu?"
" kenapa kau tak suka?"
" bukan begitu, dia bukan dari kalangan kerajaan. Hanya lelaki bangsawan biasa"
" dia memang sederhana tapi kakak yakin dia bisa menjagamu dengan baik"
" setidaknya Falla senang, karena tidak meninggalkan kerajaan. Falla bisa bertemu dengan kaka setiap hari"
penuturan Falla sedikit menyentil hati Gyan, pasal nya dia sudah membuat rencana untuk meninggalkan Garamantian dan pindah ke kerajaan Mystick bersama dengan Valmira. Gyan jadi bimbang untuk mengatakan nya pada Falla.
" mau bertemu kakak setiap hari tak masalah, asal kau harus memimpin kerajaan dengan baik"
" apa rumor itu benar? kakak akan pindah bersama penyihir yang lain?" Falla bisa menangkap maksud ucapan Gyan dengan baik. gadis kecil itu menatap sang kakak dengan wajah sendu, membuat Gyan tak tega melihat nya.
" kakak akan pergi jika kau sudah siap, mana tenang kakak meninggalkanmu sendirian di sini" hibur Gyan.
" aku akan sangat merindukan kakak jika kaka memilih pindah. aku tidak akan bisa memimpin kerajaan sebaik kakak"
" siapa bilang? kau akan tau cara nya nanti"
" apa kaka sangat mencintai Ratu Valmira, sampai bersedia mengikuti nya ke Mystick?" ucapan Falla jelas mengandung nada kecemburuan. Gyan sangat memahami hal ini. bagi Falla Valmira adalah orang baru di hidup Gyan. Tapi kenapa malah wanita itu yang berhasil mendapat sebagian besar perhatian nya.
" aku sangat mencintai nya, tapi kepindahan ku bukan hanya karena itu. Keadaan semakin berubah, kelompok penyihir sudah tidak bisa leluasa seperti itu. Kau tau sendiri bagaimana kacau nya kerajaan akibat ulah Shana. Karena hal itu keselamatan penyihir menjadi terancam, karena ketakutan manusia biasa atas kehadiran kami. Jalan satu satu nya adalah dengan menghilang dari dunia manusia. Dan tempat paling aman untuk kami memulai hidup baru adalah di kerajaan Mystick" cerita Gyan dengan se lembut mungkin. Jangan sampai Falla merasa di buang atau di campakan nya. Hal ini sangat rawan kesalahpahaman., jadi Gyan harus berhati- hati dalam memilih kata.
" kau tenang saja, kakak akan sering mengunjungi mu. selama kau memanggil nama kakak, maka saat itu juga kakak akan muncul" lanjut Gyan terus menghibur.
" kakak berani berjanji?"
" tentu saja, kaka janji padamu"
Falla memeluk kakanya erat sekali, dia akan merindukan pelukan ini nanti. kedua kaka beradik itu mempersiapkan acara sampai menuju tengah malam. Gyan kembali ke istana saat Valmira sudah tertidur pulas.
Pagi harinya semua anggota kerajaan berkumpul di bangunan leluhur. Mereka akan memulai acara pemakaman ibu suri dari sana sampai ke area pemakaman kerajaan. Gyan berdiri paling depan dan di belakang nya ada putri Falla dan di samping nya ada Valmira beserta pelayan yang menggendong G. setelah mengatakan beberapa patah kata kini rombongan segera berpindah menuju area pemakaman kerajaan.
Di saat itu Gyan bisa melihat makam ibu dan ayahnya juga. Sebagai selir kerajaan, Raveena di tempatkan di area yang sama dengan selir ayahnya yang lain.
Semua anggota kerajaan berpakaian serba hitam, dan acara itu berlangsung dengan khidmat. Kini satu persatu anggota kerajaan pergi meninggalkan makam Ibu suri, kecuali Falla. dia masih ingin berlama-lama di sana.
Karena tak ingin menganggu, Gyan mengajak Valmira menjauh. Lelaki itu mengajak Valmira menuju makam kedua orang tua nya. ini adalah kali pertama Valmira mengunjungi kedua makam ini.
" ayah ibu perkenalkan wanita ini adalah Valmira, istriku. dan yang ada dalam gendongan ku adalah G. Anak pertama kami" Valmira menatap wajah Gyan, lelaki ini terlihat begitu tenang namun sorot mata nya menyimpan kesedihan.
" sayangnya dia adalah Ratu kerajaan Mystick, itu membuatku harus meninggalkan kerajaan untuk bersamanya.
dia wanita yang cukup baik dan sabar menghadapi ku. selama ini banyak sekali kejadian yang sudah kira lewati, sampai akhirnya bisa membuat ikatan cinta kita semakin kuat. Aku yakin kalian akan menyukainya jika bertemu dengan nya.
ayah ibu saat ini aku akan pamit, kerajaan ini sudah menjadi rumah ku tapi keadaan berkata lain. Demi keselamatan penyihir lainnya aku harus pindah. maafkan aku ayah ibu" ucap Gyan dengan rasa penyesalan.
__ADS_1
Valmira tak ingin membuat lelaki itu semakin sedih. lalu memulai kalimatnya.
" ayah ibu, ini pertama kali nya Gyan membawaku kemari, putra kalian dulu nya sangat kejam padaku. suka sekali memaksakan kehendak nya. bahkan dengan menghiraukan hal lainnya.
Tapi dari semua itu aku sangat bersyukur bisa memilikinya. Dia lelaki yang hebat di mataku"
Valmira mengeratkan pelukan pada lengan Gyan. Dan gak ketinggalan G juga ikut mengoceh meskipun tidak beraturan. membuat Valmira dan Gyan tersenyum senang.
Setelah beberapa saat, Gyan, Valmira dan Falla akhirnya kembali ke istana dalam. lalu Gyan dan Valmira melanjutkan langkah nya menuju istana Raja. ini adalah waktu yang tepat bagi Valmira untuk menyampaikan keputusan menteri nya pada Gyan.
" Gyan, semalam aku membuka komunikasi dengan menteri Mystick" ucap Valmira saat mereka sedang duduk di ruang tengah istana.
" bagaimana keputusannya?"
" mereka bisa menerima nya tapi dengan sejumlah persyaratan"
" itu normal, hal ini juga merupakan kabar baik. lalu kapan kau akan mengumumkan keputusan ini?"
" mungkin 2 hari lagi. besok aku masih perlu mendalami persyaratan yang mereka ajukan"
" itu ide bagus, aku akan mendukung semua keputusan mu" imbuh Gyan tanpa tau masalah serius yang terjadi.
" aku juga akan membutuhkan bantuan mu untuk mengatur keberangkatan penyihir pendatang itu ke kerajaan Mystick"
" tidak masalah, aku akan..tunggu memang nya kau tidak ikut keberangkatan nya?" tanya Gyan menyadari jika ada kejanggalan.
" aku akan kembali terlebih dahulu. Mereka memerlukan pertimbangan ku untuk menyiapkan kebutuhan mereka."
" tidak, aku akan ikut ke sana juga"
Valmira menghembuskan nafas kasar, Gyan mulai lagi.
" tidak bisa, lalu siapa yang akan mengatur penyihir ini?" tanya Valmira sedikit kesal.
" ada aden, Deon dan Kangta. bukan masalah serius, Valmira" kekeh Gyan.
" aku belum bisa memberi mu izin masuk ke sana. Tunggu di sini sebentar, dan setelah nya kita akan bertemu kembali" jelas Valmira juga tak mau kalah.
" Valmira.."
" Sudah jangan merengek, keputusan ku sudah bulat. aku akan kembali ke Mystick terlebih dahulu dengan Kangta, dan kau di sini dulu mengatur para penyihir yang ingin pindah ke Mystick" Valmira tak bisa di ganggu gugat. Wanita itu langsung pergi ke istana harem untuk menjauhi Gyan.
" aaaahhkkk" teriak Gyan kesal. Dalam benak nya dia sudah panas dengan memikirkan Valmira bertemu kembali dengan suami pertama nya.
" tak akan aku biarkan dia merebut mu" desis Gyan serius.
Hari berganti, saat ini Aula kerajaan di penuhi dengan para penyihir yang sudah tidak sabar mendengar keputusan dari Valmira selaku Ratu kerajaan Mystick. di sana juga terdapat Gyan, tapi posisi nya jauh dari tempat Valmira.
tak ada yang tau jika kedua orang itu tengah dalam masa perang dingin. keduanya sama sekali tidak saling sapa dan hanya melemparkan tatapan dingin jika saling bertemu.
" yang mulia bagaimana keputusan nya untuk nasib kami" ucap salah satu penyihir yang sudah tidak sabar.
" kalian bersabarlah terlebih dahulu. Aku memiliki kabar baik dan kabar buruk. kalian ingin mendengar kabar yang mana dulu?" balas Valmira dengan tetap tenang dan berwibawa.
" kabar baiknya" teriak yang lain.
" baiklah, kabar baik nya kami akan menerima kedatangan kalian di kerajaan Mystick"
" ini bagus"
" syukurlah"
terdengar beberapa sautan yang rasa senang.
" lalu kabar buruk nya apa?" tanya Kangta yang sejak tadi mengamati dalam diam.
" kami memiliki persyaratan yang harus kalian penuhi untuk bisa tinggal menatap di kerajaan Mystick"
beberapa penyihir langsung berganti raut wajah menjadi tegang dan mengerutkan keningnya.
" apa saja persyaratan nya?"
Valmira tersenyum tipis, dan memberikan kode pada Aden dan Deon untuk menyebarkan lembaran yang sudah dia persiapkan.
" kalian baca semua persyaratan itu, jika ada yang keberatan kalian bisa mengatakan nya padaku" jelas Valmira.
Semua menerima lembaran dan mulai membaca. Ruangan menjadi sepi mendadak. Kangta, aden dan Deon juga ikut membaca lembaran. Hanya Gyan saja yang tidak, lelaki terus melemparkan tatapan dingin pada Valmira, yang terlihat tidak peduli.
Menurut Valmira, sikap Gyan terlalu kekanak-kanakkan. Kenapa sulit sekali membuat Gyan mengerti dengan posisi nya.
" aku menerima sepenuh nya persyaratan yang kalian ajukan" ucap kangta lantang. Membuat yang lain ikut mengangguk kepala tanda persetujuan.
__ADS_1
" apa yang keberatan dengan persyaratan nya?" tanya Valmira memastikan lebih jauh. jangan sampai di pertengahan jalan mereka mengingkari persyaratan yang sudah di sepakati.
Ruangan kembali sunyi, semuanya terdiam.
" tidak ada yang keberatan, persyaratan itu kami terima dengan lapang dada" Gyan bersuara tak kalah lantang nya dan penuh penekanan. Sebagai bentuk kekesalan nya pada Valmira.
" baiklah, kalau begitu mulai sekarang dan seterusnya kalian akan di atur oleh yang mulia Raja Gyan sampai hari kepindahan tiba. aku akan kembali untuk mempersiapkan segala sesuatu nya" ucap Valmira sebagai balasan.
Akhirnya kesepakatan di dapatkan. semuanya puas dengan keputusan. Mereka bisa hidup aman tanpa di selimuti ketakutan akan di buru oleh manusia biasa.
" Kangta, aku ingin meminta bantuan mu untuk menemani ku kembali ke Mystick. Rakyat Mystick sudah terbuka dengan kehadiranmu di sana" ucap Valmira saat pertemuan selesai. Di sana juga ada Gyan yang memendam kekesalan.
" tentu saya akan sangat senang sekali bisa membantu yang mulia"
" terimakasih"
Valmira langsung pergi meninggalkan Gyan. baik aden dan yang lainnya merasakan keanehan dengan pasangan ini. Tapi mereka tidak berani bertanya lebih lanjut.
" di mana G?" tanya Valmira pada pelayan kamar.
" bukankah bersama dengan yang mulia? tadi ada pelayan istana Raja yang mengambil G. kata nya itu suruhan anda" jawab pelayan yang membuat emosi Valmira semakin mendidih. ini pasti ulah Gyan.
Valmira langsung saja berjalan kasar menuju istana Gyan.
" dimana Gyan?" tanya Valmira dengan nada marah pada penjaga kamar.
" yang mulia berada di kamar" jawab penjaga itu dengan sedikit ketakutan. Valmira langsung masuk ke kamar dengan perasan kesal setengah mati.
" apa maksud mu dengan membawa G tanpa sepengetahuan ku?!" sentak Valmira pada Gyan yang hanya berdiri sendirian disana.
" di mana G? " lanjut Valmira karena tak melihat G.
" kemari lah" ucap Gyan dengan masih menahan diri.
" di mana kau sembunyikan G?" tanya Valmira lagi dan mencari sekeliling kamar. Tapi tak ada siapapun lagi, Ranjang kamar kosong. Hanya ada Gyan. Baru Valmira menyadari sesuatu.
" kau menjebak ku?" desis Valmira.
wanita itu segera membalikan badan agar bisa keluar dari kamar. tapi gerakan nya lebih dulu tangan Gyan. Lelaki itu menarik lengan Valmira, membuat tubuh wanita itu langsung bertubrukan dengan dada nya.
" aku bilang jangan kembali ke Mystick lebih dulu" ucap Gyan sedikit lembut. membuat emosi Valmira sedikit mereda.
" mau bagaimana lagi, ini adalah tanggung jawab ku. Ku mohon mengertilah" jawab Valmira dengan penuh permohonan.
" aku tidak tenang membiarkan mu kembali ke sana setelah tau jika di sana ada lelaki lain yang menunggumu" ucap Gyan dengan nada sedikit ketakutan.
Rasa nya Valmira ingin menepuk jidat nya keras. Jadi alasan Gyan melarangnya pergi adalah karena masalah sepele ini.
" tenang saja aku tidak akan menduakan mu di sana. aku akan memegang janji cinta kita" rayu Valmira.
" kau berani janji ?" Gyan sudah seperti anak kecil yang merajuk ingin permen. Lucu sekali, Valmira mengira jika Gyan melarang nya pergi adalah karena dia ingin Valmira tetap di Garamantian menemaninya. Ternyata dia salah besar.
" iya aku berjanji" ucap Valmira, saat itu juga kekesalan dan kemarahan dalam dirinya langsung hangus tak bersisa.
Begitu pun dengan Gyan, mendengar janji Valmira perasaannya menjadi lebih tenang. membuatnya yakin jika Valmira lebih memilih nya daripada lelaki lain.
Kemarahan itu di akhiri dengan penyatuan mereka. seakan ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk menyalurkan rasa cinta. Gyan dan Valmira hanyut dalam gairah masing-masing.
Hubungan Gyan dan Valmira semakin membaik, inagtan wanita itu juga sudah hampir seluruhnya kembali. Hanya saja yang dia sesalkan adalah dia baru ingat saat Bibinya mengorbankan dirinya di atas tebing. Kini Valmira mengetahui secar detail kenal ingatannya menghilang waktu itu serta bagaimana bibinya Ratu Amanis meninggal.
Keesokan harinya Valmira dan Kangta langsung berangkat menuju kerajaan Mystick. Seperti sebelumnya waktu yang mereka perlukan ke sana hanya sehari.
" kau jaga diri di sana, jangan sampai kelelahan mengurusi kerajaan. Tunggu aku sampai" ucap Gyan pada Valmira. lelaki itu ikut mengantarkan Valmira sampai mereka sampai di kapal nya.
" kau tenang saja aku akan menjaga nya untukmu" balas Kangta sarkas lalu berjalan masuk ke kapal. dia akan memberikan waktu untuk pasangan itu menyampaikan salam perpisahan.
" jangan khawatirkan aku. Kau juga harus menjaga diri. jangan menguras pikiranmu pada masalah kerajaan saja" Valmira juga memberikan pesan.
keduanya saling berciuman sebelum pergi, dan Gyan menatap Valmira sampai kapal mereka sudah tidak terlihat lagi.
Begitu sampai di sana kedatangan Valmira dan Kangta langsung di sambut baik oleh semua orang.
" yang mulia, " sanjung Derya.
" bagaimana keadaan kerajaan selama aku tidak berada di sini?" tanya Valmira pada kepala menteri yang ikut menyambut kedatangannya.
" semuanya berjalan dengan lancar. pembangunan kota terlaksana dengan lancar tanpa kendala" jawab kepala menteri itu dengan rasa percaya diri, ini mengartikan jika dia tidak berbohong sama sekali.
" kau cukup bisa aku andalkan" puji Valmira.
" aku membawa serta tuan Kangta kemari adalah untuk membantu kita dalam menyiapkan kebutuhan para penyihir yang pindah kemari. Selain itu juga, taun Kangta memiliki banyak pengetahuan serta pengalaman yang banyak untuk mengurus segala persyaratan tinggal para penyihir nanti" jelas Valmira. semuanya mendengarkan dengan seksama. Bagi mereka tuan Kangta sudah menjadi bagian dari mereka. Pasalnya jasa lelaki ini pada Mystick sangat besar sekali.
__ADS_1
" kami siap melaksanakan semua perintah dari yang mulia dan juga tuan Kangta" semua menjawab dengan semangat.