
Malam harinya Gyan kembali ke istananya setelah memastikan Falla meminum obat malamnya. Dari ambang pintu saja Gyan sudah bisa mendengar suara gelak tawa sang putra bersama dengan Valmira.
Gyan berhenti sejenak memastikan kembali jika apa yang terjadi ini bukanlah sebuah ilusi. Dia bahkan hampir tidak percaya bisa terhindar dari kematian kutukan Shana. Padahal saat itu dia sudah pesimis di tambah lagi dengan dia yang ingin bertemu dengan sang istri dan anak yang dia kira sudah meninggal.
Gyan tersenyum tipis menatap Valmira dan G yang masih asyik bermain di atas ranjang.
" belum tidur?" tanya Gyan sambil berjalan mendekat.
" G sudah terlalu banyak tidur tadi siang, jadi sekarang dia belum mengantuk" jawab Valmira.
" anak ayah belum mengantuk? padahal ayah ingin berduaan dengan ibu" ucap Gyan. yang langsung di sambut pukulan.pelan dari Valmira.
" jangan bicara sembarangan di depan G" nasehat Valmira.
" oh ya aku ingin tau, kenapa kau hanya memberi nama G padanya?"
" aku sendiri tak tau, hanya mengambil huruf depan dari namamu. Setidaknya setelah kita berpisah, bayi ini memiliki ikatan denganmu dari segi nama"
" lalu apa kau berniat merubahnya nanti?"
" mungkin saja, bagaimana dengan mu?"
" aku akan memikirkan nama yang cocok untuknya nanti. Untuk sementara kita panggil dia G dulu. setidaknya itu akan menjadi nama pendeknya"
" baiklah kalau begitu, itu ide yang bagus"
Gyan ikut berbaring diranjang, G yang sudah mulai bisa tengkurap kini sedikit demi sedikit merambat menaiki tubuh sang ayah.
" mau main sama ayah?"
Gyan menggendongnya dan mengangkatnya tinggi, G langsung tertawa senang. begitupun dengan Valmira, dia tak menyangka hidupnya akan terasa lengkap seperti ini.
" aku sangat senang kita semua bisa berkumpul, memiliki suami kedua yang baik dan putra yang tampan " ucap Valmira tidak sadar, Gyan yang mendengarnya tentu saja langsung menghentikan aktivitasnya.
" suami ke dua?" tanya Gyan dengan raut serius setengah tidak terima.
" iya, sebelum keluar kerajaan Mystick, aku sudah memiliki suami di Mystick" Gyan langsung kebakaran jenggot, ini hal yang sangat buruk tidak bisa di biarkan.
" segera ceraikan dia, aku tidak mau tau hubunganmu dengan dia harus di akhiri" ucap Gyan tegas. Valmira jadi muncul ide jahil. Dia belum menceritakan apapun yang terjadi di kerajaannya pada Gyan.
" aku tidak bisa menceraikannya" goda Valmira, dia mengatakannya dengan suara lemah dan wajah yang sedih.
" jadi kau lebih memilihnya? apa jangan-jangan selama kau di Mystick kalian sudah melakukan hal itu dengannya ? " Gyan semakin naik pitam. Masalah ini sama seriusnya dengan masalah sihir hitam Shana.
" aku tidak mengingat mu saat itu. Inti jiwaku kembali dan semua kenangan tentang kita menghilang. jangan salahkan aku, dia lebih dulu Menikahi ku bahkan dengan pesta yang sangat meriah" Valmira semakin memanas-manasi Gyan.
" pelayan" panggil Gyan. Valmira mengerutkan keningnya kenapa Gyan malah memanggil pelayan.
" iya yang mulia"
" kau bawa G dan buat di tertidur"
" baik yang mulia"
" kenapa di bawa, mana biar aku saja yang menidurkannya" Valmira berniat merebut G dalam gendongan pelayan itu.
" tidak! urusan kita belum selesai" Gyan menarik tubuh Valmira dan menyuruh pelayan itu untuk segera pergi.
" urusan apa?" tanya Valmira kebingungan.
" kau dan suami pertamamu"
" memangnya masalahnya dimana? aku lebih dulu menikah dengannya dan di sini pun aku tengah kehilangan ingatan. Jadi bisa di bilang hubungan ini hanya sebuah kebetulan saja"
Gyan tentu tidak terima dengan pernyataan Valmira. Dia sudah cinta mati pada wanita ini, tapi Valmira ternyata istri orang lain.
" tidak, kau berbohong, saat pertama kali menidurimu, kau masih perawan. Mana mungkin kau sudah bersuami"
" kita memang belum melakukannya malam itu, tapi sewaktu aku kembali kita.."
" hentikan, aku tidak mau tau. ceraikan dia secepatnya"
" aku tidak bisa menceraikannya"
" kalau begitu kau selamanya tidak boleh kembali ke Mystick"
" mana mungkin bisa begitu, aku dan Mystick sudah sangat erat. Aku bahkan menjadi Ratu di sana"
Gyan tak bisa berkata-kata lagi. Apa memang hubungan mereka akan selesai.
" Valmiran aku mohon pilih lah aku, tinggalkan lelaki itu ya" tak bisa dengan cara kasar, Gyan mencoba dengan cara halus dan merayu.
__ADS_1
" pilih bagaimana, kau saja tidak pernah mengadakan pesta pernikahan denganku" ejek Valmira. Gyan sudah mati kutu.
" bahkan saat kau melakukannya pertama kali juga dengan cara memaksaku" lanjut Valmira semakin membuat hati Gyan menciut.
" lalu kau kembali ke Garamantian untuk apa?"
" untuk menangkap aura iblis yang kabur" selesai sudah hubungan mereka sangat sulit diteruskan. Gyan benar-benar mulai frustrasi dengan kenyataan yang baru saja dia dengar.
" Valmira pikirkan kembali, aku tidak bisa di bandingkan dengannya. Aku pasti lebih tampan, bijak dan baik. Apalagi dengan hartaku, tahta semuanya aku punya. Masalah pesta pernikahan kau jangan khawatir. Setelah ini kita adakan pesta pernikahan yang paling besar di Azerbaza" rayu Gyan, dia tidak mau kalah. Valmira harus menjadi miliknya seutuhnya. Dia akan melakukan berbagai macam cara agar Valmira tidak bersatu dengan lelaki itu.
Valmira yang mendengarnya tersenyum licik dalam Hati. ternyata menggoda Gyan cukup menyenangkan juga.
" aku akan memikirkannya" Valmira beranjak ingin menjemput G.
" mau kemana? malam ini kau tidak boleh keluar dari kamar ini"
" aku akan mengambil G, kasihan dia harus bersama dengan pelayan"
" tidak, kau belum memberikan keputusan"
" aku akan memikirkan dulu...aakkk"
Gyan langsung menggendong tubuh Valmira dan meletakkannya di ranjang.
" kalau begitu kau harus melahirkan banyak anak dariku, agar dia tidak memiliki kesempatan merebutmu dariku" ucap Gyan tegas dan langsung membungkam mulut Valmira dengan mulutnya.
" Gyan!" tolak Valmira saat ciuman Gyan terlalu menuntut dan rakus.
" sut jangan menolak ku. aku ingin menghapus jejak lelaki itu dalam tubuhmu"
" aku tidak mau!" Valmira merasa jika Gyan terlalu bergairah, dia mungkin akan terkapar jika membiarkan Gyan menguasai tubuhnya.
" tidak bisa, kau harus mau!" Gyan tak ingin kalah. malam ini dan seterunya dia yang akan memuaskan Valmira. Valmira hanya untuk nya seorang.
Alhasil karena di landa kecemburuan, Gyan sedikit memaksa Valmira untuk berhubungan dengannya. meskipun begitu Gyan tidak mengasari Valmira, Dia tetap memperlakukan semuanya dengan halus dan mengantarkan Valmira pada puncak kenikmatan berkali-kali.
......................................
Sedangkan di Prysona baik Kangta dan yang lainnya masih berjibaku dengan berbagai macam laporan serta mayat-mayat persembahan. rencananya mereka akan membawa laporan ini besok siang pada Raja Gyan.
" aku sudah memeriksa area pemukiman banyak sekali rumah kosong bahkan kebanyakan kota-kota disini sudah tidak berpenghuni" lapor Deon
" semenjak menantang perang dengan Garamantian, Raja Prysona benar-benar memaksa semua penduduknya untuk ikut berperang. Dan seperti yang kalian tau, semuanya kalah dalam perang. Prysona benar-benar mengalami kekalahan dari berbagai sektor kerajaan. Dan yang paling mengerikan saat perang terakhir. Shana mengirimkan sihir hitam agar bisa memenangkan peperangan" jelas aden mengajak hilangnya para penduduk kerajaan.
" setelah ini mungkin Prysona benar-benar kosong, kerajaannya rusak parah"
" mungkin saja"
Hari semakin siang, sudah waktunya mereka kembali ke Garamantian. Kangta membuka portal sihir menuju istana raja.
" yang mulia" ucap Kangta dan yang lainnya.
" kalian sudah kembali, lalu bagaimana keputusannya. apa yang kerajaan Prysona keluarkan untuk menghukum wanita itu?" tanya Gyan langsung saja.
" kerajaan.mengalami rusak parah. Anggota kerajaan yang masih selamat masih sangat belia. Mereka tidak bisa mengeluarkan keputusan"
" lalu bagaimana dengan kerajaan itu?"
" kami semua sepakat untuk menyerahkan masalah ini pada anda. Semua laporan kejahatan wanita itu sudah ada dalam lembaran ini"
" begitu? Baguslah. aku akan memilihkan hukuman yang pantas untuknya. kalian bisa beristirahat dulu"
" baik yang mulai"
" ah ya ada yang ingin aku tanyakan padamu Kangta"
semuanya melanjutkan langkahnya sedangkan Kangta berhenti sejenak.
" apa saat di kerajaan Mystick, Valmira sudah memiliki suami?"
Kangta menjadi bingung kenapa Gyan menanyakan hak random seperti ini.
" iya, kau benar, Ratu Valmira sudah menikah sebelumnya" Gyan menarik nafas panjang, Valmira tidak berbohong.
" baiklah kau bisa pergi" perintah Gyan, padahal Kangta ingin menjelaskan cerita lengkapnya, Tapi segera diurungkan karena Gyan sudah lebih dulu mengusirnya.
" aku pergi" Kangta berjalan keluar dengan sedikit bingung. ekspresi Gyan terlihat begitu terpuruk, padahal lelaki yang menjadi suami Valmira sudah meninggal dunia.
Seharian ini Gyan tidak bisa fokus, dia membuka lembaran macam-macam hukuman dengan tatapan kosong, dia sudah membaca laporan yang Kangta berikan Sebelumnya. Dia bingung harus memilih hukumannya.
Apalagi tadi pagi Valmira marah padanya karena ulahnya semalam, dan kini wanita itu pindah kamu di istana Harem. kamar dia sebelumnya. Gyan semakin kesusahan.
__ADS_1
Matahari mulai terbenam, saat Gyan berjalan dari kamar Falla ke tempat Valmira. Dia harus baikkan dengan istirnya itu.
" yang mulia" ucap pelayan kamar saat dirinya memasuki area depan istana selir agung.
" dimana Ratu Valmira?"
" Ratu sedang berada di ruangan baca dengan pangeran G"
" kau bisa Pergi" usir Gyan. lelaki berjalan pelan ke sana. dia akan melihat situasi terlebih dahulu.
Valmira terlihat sudah tenang , G tertidur di samping ibunya yang membaca sejumlah buku.
" ehem" Gyan masuk dan mendekati Valmira.
" apa G sudah tidur?" Valmira menatap Gyan sekilas lalu melanjutkan membaca.
" em" Valmira menjawabnya dengan deheman.
Wanita masih kesal dengan Gyan, semalaman dia tidak bisa tidur. Gyan seperti maniak **** terus terusan melakukannya tanpa henti. miiliknya sampai kebas dan susah untuk berjalan. Jadi Valmira akan menghindar dari Gyan sejenak.
Valmira tidak menyangka candaannya malah seperti senjata makan tuan. membuatnya malah mendapatkan kemalangan.
" aku ingin meminta bantuan bisa?" tanya Gyan halus dan sangat berhati-hati.
" bantuan apa?"
" mengenai Shana, aku belum bisa memutuskan hukuman apa yang cocok untuknya"
" kau sudah mendapat laporan kejahatannya?" tanya Valmira tegas dan tidak bertele-tele.
" sudah,.laporannya ada di istanaku. Jika tidak keberatan kita bisa pergi kesana dan membahasnya lebih dalam"
Valmira langsung berfikiran negatif atas ajakan Gyan untuk pergi ke istananya. Dia tidak akan tertipu dengan mudah.
" tidak usah suruh saja pelayan membawakannya kemari dan aku akan menulis keputusanku nanti agar besok bisa di kirim kepadamu" terang Valmira yang masih menjaga jarak dengan Gyan.
Sedangkan Gyan sama sekali tidak memiliki niat seperti apa yang Valmira takutkan. Laporan itu tidak bisa bawa karena tadi hanya berniat lewat saja dari mengunjungi Falla.
" begitu? baiklah tidak masalah" jawab Gyan lemah. dia masih mengira jika Valmira sedang menjauhinya karena lebih memilih suami pertamanya.
tap tap tap
Gyan semakin mendekati Valmira, dia malah berhenti di belakang tempat duduk wanita itu.
" sedang apa kau?" tanya Valmira ketus.
" aku hanya ingin melihat G yang tertidur " jawab Gyan seadanya.
Dan tak disangka akibat suara Valmira yang meninggi, G malah terbangun dengan mulai menangis.
" sssuutt, sayang"
Gyan lebih dulu sigap menggendong G karena posisinya yang sangat dekat.
" kau terbangun karena suara ibumu ya" sindir Gyan.
" sini lanjutkan tidur di gendongan ayah" Gyan berjalan keluar ruangan.
" Gyan jangan bawa G keluar, angin malam tidak baik untuknya" ucap Valmira mengekori langkah Gyan.
" tidak, aku hanya membawanya ke ruangan depan" jawab Gyan.
" kau lanjutkan saja membaca buku" lanjut Gyan.
Valmira tidak jadi meneruskan langkahnya, wanita itu kembali masuk ke ruang baca daripada harus berduaan dengan Gyan lagi.
Tak terasa malam semakin larut, Valmira baru selesai berkomunikasi dengan Derya lewat bola krital biru, dari yang wanita tua itu katakan Valmira bisa tau jika keadaan Mystick baik-baik saja. Para menterinya bekerja dengan sangat baik. Valmira sangat senang mendengarnya.
Valmira juga mengatakan jika tugasnya mengejar aura iblis sudah selesai. Aura itu sudah musnah dan dalam waktu dekat Valmira akan kembali pulang ke kerajaan. Derya menyambut dengan sangat senang.
Selesai perbincangan itu Valmira menuju ruangan depan. Disana tak ada siapapun, ruangan itu kosong.
" kemana dia pergi?" lirih Valmira. Wanita itu pergi ke kamar. Dan benar saja, Gyan dan G sudah tertidur di sama dengan lelap.
Valmira menatapnya dengan menghembuskan nafas kasar. lelaki ini selalu saja memiliki cara untuk bisa menganggu dan berdekatan dengannya.
Valmira segera berjalan mendekati Gyan.
" Gyan" panggil Valmira berkali-kali sambil menggoyangkan tubuh Gyan. berusaha membangunkan lelaki itu dan akan menyuruhnya untuk pindah.
" Gyan, bangunlah" ucap Valmira berkali-kali.
__ADS_1
Gyan bukannya bangun malah mengetatkan pelukannya pada bantal.
" selalu saja" gerutu Valmira, Gyan sama sekali tidak terganggu dengannya.