
Falla masih sibuk dengan buku-bukunya tak kala pengumuman jika Raja Gyan sedang datang berkunjung ke kamar nya.
" astaga! bagaimana ini" pekik Falla. Dia menoleh ke kanan dan kiri, untuk menyembunyikannya buku-buku ini. Wanita ini mondar mandir tak tau arah karena begitu panik.
tap tap tap
suara langkah semakin mendekat. Akhirnya Falla mengambil selimut dan menutupi buku-buku yang berserakan di lantai dengan selimutnya.
" apa yang kau lakukan?" suara itu terdengar tepat saat selimut berhasil menutupi buku.
Falla langsung membalikkan badannya dan menatap kakaknya dengan raut wajah senormal mungkin.
" ah, ini ... Ini.. persiapan.. untuk pernikahan besok. Masalah perempuan" ucap Falla pelan di akhir kalimatnya.
Gyan percaya saja, dia tidak mengerti masalah seperti ini.
" ikut dengan ku sebentar" ucap Gyan tanpa curiga.
" baik" Falla dengan cepat segera meninggalkan Kamar. jangan sampai kakaknya menaruh curiga sedikit saja. Sudah menjadi rahasia umum jika sang kakak sangat pandai menilai dan memprediksikan sesuatu.
" tadi pagi, aku mengundang Kantata kemari, saat ini dia sedang menunggang kuda dengan Aden. kau akan melihatnya sebentar lagi"
" oh," jawab singkat Falla. Karena sebenarnya dia juga tidak terlalu tertarik dengan lelaki ini. Dia hanya mengikuti kehendak kakak dan ibunya. Umurnya masih sekitar 19 tahun. Dia belum pernah merasakan jatuh cinta. Membuat Falla dengan mudah menyetujui tanpa perlu berfikir yang berlebihan.
Gyan dan Falla terus berjalan menuju atas balkon, istana yang berada di sekitaran pacuan kuda. Aden sudah di perintahkan Gyan untuk mengetes seberapa kemampuan fisik dari calon adik iparnya. Belakangan jika Gyan tau memang Kantata adalah lelaki muda, berasal dari keluarga bangsawan cendekiawan, lelaki itu memiliki ilmu pengetahuan yang bagus. Awal nya memang hal ini yang membuat Gyan bisa mempertimbangkannya. Karena pengetahuannya bisa mendampingi Falla dan mengurusi kerajaan.
Namun permintaan Falla terakhir kali membuat Gyan kembali berfikir ulang. Jika Falla tidak mau tinggal di kerajaan, jika begini maka fisik Kantata harus kuat untuk melindungi serta memenuhi kebutuhan Adiknya.
" cah cah cah"
suara Aden memacu kudanya memimpin jauh dari kedudukan Kantata.
__ADS_1
" Aden terlalu menguasai tehnik berkuda" lirih Falla yang sedikit menyindir kelambatan Kantata.
" ya, kau benar" Gyan menjadi sedikit ragu dengan pilihannya ini.
" kau ingin berbincang dengannya?"
" em, tidak. nanti saja saat persiapan pernikahan di mulai, Falla memiliki banyak hal untuknya"
" baiklah"
Setelah puas melihat bagaimana kondisi fisik Kantata, Falla meminta undur diri. Dia perlu merencanakan untuk pergi sejenak ke luar istana untuk membeli beberapa perlengkapan khusus. Dan itu harus se sempurna mungkin agar sang kakak tidak curiga.
.....................................
Di wilayah lain, yakni kerajaan Mystick, Valmira dan kangta sedang meninjau pulau khusus yang akan di gunakan untuk tempat tinggal para pendatang.
" bagaimana perkembangan sejauh ini?" tanya Valmira pada salah seorang menteri yang bertanggung jawab atas hal ini.
" lalu persiapan kebutuhan bangunan serta makanan?"
" kami sudah menyiapkan banyak kayu serta bahan lainnya. dan segera memulai pembangunan"
" jangan, kalian tak usah repot-repot membangun tempat tinggal mereka. cukup sediakan bahannya. biar mereka membeli bahan dan membangunnya sendiri. Kita tidak akan serta merta mencukupi kebutuhan mereka " jelas Valmira tidak mau rakyatnya menjadi babu pendatang.
" baik yang mulia" jawab menteri itu.
" sudah kalian teruskan aktifitas, aku dan Kangta akan melihat-lihat perkembangan sekitar"
" baik yang mulia, saya pamit undur diri"
Valmira dan Kangta mengangguk. keduanya lalu meneruskan perjalanan berkeliling.
__ADS_1
" anda cukup berfikiran luas dengan melarang mereka membangunkan rumah"
" tentu saja, para pendatang harus mengeluarkan harta mereka jika ingin tinggal nyaman disini. Masih beruntung kami bisa menerima kedatangan mereka". ucap Valmira sedikit sombong.
" baguslah" balas Kangta singkat.
" beberapa hari yang lalu ingatanku saat ikut dalam kapal mu mencari kerajaan ini, perlahan mulai kembali. Aku bisa mengingat Zephyr dan Aislinn serta bagaimana kita melawan Finflok"
" benarkah, ini cukup melegakan"
" ya, mungkin kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan yang mulia jika hanya berdua seperti ini"
" benar tak apa?"
" tidak, kita sudah melewati perjalanan hidup dan mati bersama"
" baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu"
Kangta dan Valmira terlihat semakin akrab.
" apa kau tidak memiliki rencana mengunjungi Gyan?" tanya Kangta.
" mungkin dalam waktu dekat, bukankah rencana pernikahan Putri Farfalla juga sedang di bahas?"
" ya memang benar, tapi bagaimana kau bertukar kabar. Sihir dimensi tidak dapat digunakan karena tabir ibumu,"
" aku meninggalkan cermin emas yang berhubungan dengan bola kristal biru, jika saja ada kabar dari Garamantian"
" Gyan belum memberi kabar?"
" aku mengatakannya pada Deon, jika Gyan tau mengenai hal ini. mungkin tiap hari dia hanya akan menatap cermin itu" balas Valmira sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
" hahaha, kau benar. Lelaki itu pasti tak mengizinkan kau jauh dari bola kristal agar dia bisa melihat mu terus" balas Kangta yang sudah hafal dengan tabiat Gyan.